Haters Menjaring Angin

Opini by Zeng Wei Jian

Norak…!! Satu kata paling pas bagi para pembully Prabowo Subianto dan Jokowi.

Dijelaskan baik-baik, mereka malah marah. Nulis macam-macam. Ngomel seperti orang gila. Barking like Doberman Pinschers. Aslinya cuma kumpulan manusia Go Block. Mereka ingin ciptakan permanent rifts.

“Talk sense to a fool and he calls you foolish,” kata Philosopher Euripides.

Selain salah memahami esensi pilpres, mereka pun ngaco memaknai “opponent” dan “enemy”.

In the political arena, opponents are considered enemies–until they’re not.

Politisi Amerika Jeff Greenfield menyatakan, “An opponent is someone you battle–in an election, on a ball field–but with a common understanding of the rule of the game, and a mutual willingness to abide by the outcome”.

Pilpres selesai. Jokowi menang. Pa Prabowo masuk kabinet. Transformasi dari opponent to friend.

Pa Prabowo mengatakan hubungannya dengan Jokowi itu mesra. “Mesra sekali,” tambah Jokowi.

Awalnya kritik dan caci maki punya target cegah Pa Prabowo-Jokowi rekonsiliasi dan tumpas Poros Mega-Pro. Mereka merusuh. Seharusnya semua bully di-stop setelah Pa Prabowo sertijab Menhankam. Mereka gagal menghentikan proses politik.

Tapi karena punya agenda lain, mereka terus mendelegitimasi Pa Prabowo dan adu-domba. Istilah “menteri rasa presiden” diciptakan. Padahal there is no such a thing like it. Presiden ya presiden. Menteri ya menteri.

Pada dasarnya haters sulit mengerti. Amarah bunuh rasio. Gagal paham. “If you know the why, you can live any how,” kata Friedrich Nietzsche.

Alasan transformasi Prabowo-Jokowi adalah Cinta. Seperti kata Martin Luther King; “Love is the only force capable of transforming an enemy into a friend.”

Cinta kepada negara, bangsa dan rakyat. Para provokator dan penulis urakan nggak punya cinta macam ini. Paham pun tidak. Karena itu omongan mereka jadi ngga akurat. Tapi karena mengidap sociopath syndrome, mereka pede terus tulas-tulis essay panjang benang kusut.

“A man says can never be accurate, because he unconsciously translates what he hears into something he can understand,” tulis Bertrand Russell.

Pa Prabowo, Jokowi, pemerintah, anggota DPR-RI dan isi Kabinet Indonesia Maju bukan musuh bangsa ini. Musuh bangsa ini adalah KEMISKINAN.

Upaya “deradikalisasi” akan gagal bila melupakan faktor kesejahteraan.

Syahdan, daripada menghabiskan energi mencaci-maki, sebaiknya awasi kinerja para menteri. Tanpa pemahaman, rakyat akan terus miskin. Jangan menjaring angin.

“I am afraid that our eyes are bigger than our stomachs, and that we have more curiosity than understanding. We grasp at everything, but catch nothing except wind,” kata Michel de Montaigne.

 

THE END

LEAVE A REPLY