Diproyeksikan Bertambah, Kemendukbangga/BKKBN Upayakan Peningkatan Kualitas dan Ketahanan Keluarga

Kemendukbangga/BKKBN dan Komisi IX DPR RI bersepakat memperkuat pelaksanaan kebijakan pembangunan keluarga, meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan keluarga berencana.Foto: humas bkkbn

Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 dan hasil prediksi BPS, Bappenas, dan UNFPA (2018) terkait proyeksi komposisi penduduk Indonesia mulai tahun 1970 hingga 2040 terjadi perubahan struktur penduduk. Dalam proyeksi tersebut, terlihat bahwa populasi penduduk usia 65 tahun ke atas cenderung bertambah, sementara populasi usia produktif (15-64 tahun) dan usia 0-14 tahun semakin berkurang.

Semarak.co – Untuk menghadapi perubahan struktur penduduk tersebut, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Dr. Wihaji, S.Ag, M.Pd. menyampaikan sejumlah strategi kebijakan pada rapat kerja dengan Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) di Ruang Rapat Komisi IX DPR RI, Jakarta (Selasa, 15/09/2026).

Bacaan Lainnya

“Peran strategis program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) dalam menghadapi perubahan struktur penduduk adalah dengan menjaga keseimbangan struktur lewat pengelolaan kuantitas penduduk, serta memperkuat kualitas penduduk dan ketahanan keluarga,” ujar Menteri Wihaji.

Dalam pengelolaan kuantitas penduduk dilakukan beberapa metode antara lain pendewasaan usia perkawinan dan pencegahan perkawinan anak. Selain itu juga penguatan KB (keluarga berencana) dan kesehatan ibu-anak, termasuk penggunaan kontrasepsi jangka panjang.

Ditambah juga memperkuat sinkronisasi kebijakan pengelolaan kualitas dan kuantitas penduduk secara asimetri, serta kampanye dan sosialisasi KB berbasis budaya lokal bersama tokoh agama, adat, dan pemuda.

Untuk memperkuat kualitas penduduk dan ketahanan keluarga, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) berupaya fokus pada ketahanan dan kemandirian keluarga melalui program Bina Keluarga Balita (BKB), Taman Asuh Sayang dan Anak (TAMASYA).

Tak hanya itu ada juga Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA), Kampung Keluarga Berkualitas ketahanan remaja dan pemberdayaan lansia melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Akademi Keluarga Indonesia, dan Lansia Berdaya (SIDAYA), serta fokus pada percepatan penurunan _stunting_ lewat Gerakan Orang Tua Asuh Cegah _Stunting_ (GENTING) dan Dapur Sehat Atasi _Stunting_ (DASHAT).

Menteri Wihaji menyampaikan progres upaya percepatan penurunan _stunting_ yang telah dilakukan melalui program GENTING. Berdasarkan rekapitulasi data seluruh provinsi per 3 September 2026, terdata sekitar 1 juta keluarga berisiko _stunting_ telah menerima bantuan program GENTING, meliputi bantuan edukasi, nutrisi, air bersih, pemberdayaan ekonomi, rumah layak huni, dan jamban sehat.

“Sementara mitra Orang Tua Asuh (OTA) yang terlibat dalam program GENTING mencapai 159.587 OTA, dengan estimasi bantuan sejumlah 72 miliar rupiah yang berasal dari mitra OTA,” ujar Menteri Wihaji dirilis humas Kemendukbangga/BKKBN usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Selasa sore (15/9/2026)

Hasil dari rapat kerja, Kemendukbangga/BKKBN dan Komisi IX DPR RI bersepakat memperkuat pelaksanaan kebijakan pembangunan keluarga, meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan keluarga berencana, memperkuat pendampingan bagi keluarga berisiko _stunting_, serta memperkuat koordinasi dan keterpaduan pelaksanaan percepatan penurunan _stunting_.(hms/kbn/sam)

Pos terkait