Di Tengah Ancaman Perang terhadap Iran, Pejabat Saudi dan Israel Terbang ke Amerika Serikat

Di tengah ancaman perang yang dikobarkan Amerika Serikat terhadap Iran akhir-akhir ini, pejabat Arab Saudi dan Israel  terbang ke Amerika Serikat. Kunjungan tersebut difokuskan pada penyampaian informasi intelijen yang diminta Donald Trump.

Semarak.co – Pejabat pertahanan dan intelijen dari Israel serta pejabat Arab Saudi dilaporkan mengunjungi negara Paman Sam Amerika Serikat pekan ini untuk membahas soal Iran, di tengah pengerahan kekuatan militer AS di kawasan.

Laporan disampaikan Axios, dilansir Republika.co.id (29/1/2026). Kepala Intelijen Militer Israel, Mayor Jenderal Shlomi Binder, disebut telah menggelar serangkaian konsultasi tingkat tinggi Selasa dan Rabu dengan pimpinan Pentagon, Badan Intelijen Pusat AS (CIA) serta Gedung Putih.

Dua pejabat AS menyatakan, kunjungan tersebut berfokus pada penyampaian informasi intelijen spesifik yang diminta oleh pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, termasuk data mengenai potensi target serangan di Iran.

Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman dijadwalkan bertemu dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, serta pejabat Departemen Pertahanan, Kamis dan Jumat.

Berbeda dengan pendekatan Israel,  Saudi disebut menekankan jalur diplomasi di pembahasan itu. Arab Saudi, yang selama ini mediator antara Washington dan Teheran, sebelumnya menyatakan tak akan mengizinkan wilayah udaranya digunakan AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran.

Ketegangan diplomatik ini terjadi bersamaan dengan tibanya kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln di kawasan, yang disebut Presiden Trump sebagai “armada” angkatan laut lebih besar dibandingkan pengerahan sebelumnya ke arah Venezuela.

“Arahan saat ini adalah untuk bersiap,” ujar seorang pejabat Amerika Serikat, yang mengindikasikan bahwa presiden kian mendekati keputusan akhir terkait kemungkinan aksi militer. Hingga kini, tidak ada pernyataan resmi dari pihak-pihak terkait mengenai pertemuan tersebut.

Presiden Donald Trump sebelumnya telah menyerukan agar negeri para Mullah Iran segera mencapai kesepakatan terkait program senjata nuklirnya. Ini dengan peringatan, serangan kali ini akan “jauh lebih buruk”.

Amerika Serikat diketahui pernah mengebom tiga fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni 2025, dalam konflik selama 12 hari antara Teheran dan Israel. Iran menegaskan bahwa program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan sipil dan damai.

Selain nuklir, AS juga menyatakan kekhawatiran terhadap program rudal balistik Iran. Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya gejolak dan aksi protes di Iran dipicu memburuknya kondisi ekonomi akibat depresiasi tajam mata uang nasional. (net/rci/

Pos terkait