Atmosfer perang Amerika Serikat (AS) dengan Iran di kawasan semenanjung Persia kian menegang. Presiden AS Donald Trump dikabarkan berselisih paham dengan Kepala Staf Gabungan Militer hingga menantu jelang rencana serangan ke negeri para mullah itu.
Semarak.co – Presiden AS Donald Trump dikabarkan berselisih paham dengan Kepala Staf Gabungan Militer Jenderal Dan Caine soal rencana serangan ke Iran. The Washington Post melaporkan Caine menentang rencana Trump menggempur Iran.
Rencana serangan itu disebut Caine karena dikhawatirkan memicu perang akan berjalan jangka panjang. Caine juga menyampaikan kekhawatiran kekurangan amunisi dan minim dukungan sekutu jika serangan ke Iran tetap berlanjut.
Ketidakpastian ini, bagi Caine, bisa meningkatkan risiko buat personel AS di kawasan, terlebih yang melancarkan operasi militer. Media AS itu melaporkan, Caine menyampaikan di Gedung Putih dan Pentagon, kekurangan amunisi serta minimnya dukungan sekutu dapat meningkatkan risiko bagi personel AS.
Sementara itu, The Wall Street Journal dilansir Cnnindonesia.com pada 24/2/2026, menyebut sang jenderal dan pejabat Pentagon lainnya juga telah memeringatkan Trump soal risiko seperti kemungkinan korban dari pihak AS dan sekutu berjatuhan.
Militer AS juga mewanti-wanti Trump soal kemungkinan sistem pertahanan udara AS terkuras jika pasukannya menyerang Iran. Tak hanya itu, Axios juga melaporkan, Caine memeringatkan potensi AS “terjerat dalam konflik berkepanjangan” jika benar-benar membombardir Iran.
Menurut Axios, utusan Donald Trump sebagai negosiator Timur Tengah, Steve Witkoff, serta menantunya, Jared Kushner, turut mendesak presiden Trump agar menunda serangan ke Iran dan memberi ruang bagi diplomasi.
Namun, Trump menuduh media-media tersebut menulis laporan yang “keliru dan disengaja.” “Saya yang membuat keputusan. Saya lebih memilih adanya kesepakatan, tetapi jika kita tidak mencapai kesepakatan,” ucap Trump.
“Itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi negara itu dan dengan sangat sedih, bagi rakyatnya,” ucap Presiden Donald Trump seperti dikutip Kantor Berita Koperasi Prancis, Agence France-Presse (AFP) pada 24 Februari 2026.
Trump telah mengerahkan kekuatan militer AS yang cukup besar ke Timur Tengah, termasuk dua kapal induk, lebih dari selusin kapal lainnya, sejumlah besar pesawat tempur, serta berbagai aset militer lain ke kawasan tersebut.
Meskipun demikian, negosiasi yang dilakukan AS-Iran dijadwalkan akan tetap terus berlanjut. Seorang pejabat AS menyatakan bahwa putaran pembicaraan berikutnya dengan Teheran akan berlangsung pada Kamis pekan ini.
Meskipun belum ada keputusan akhir (final), para penasihat Donald Trump melaporkan AS bisa melakukan serangan ke negara Ayatollah Ali Khamenei tersebut kapan saja, bahkan dalam beberapa hari mendatang.
Serangan ditujukan untuk menggertak Iran agar bersedia melepas kemampuan mereka dalam membuat senjata pamungkas, nuklir, demikian dikutip media Amerika Serikat, The New York Times (TNYT), pada hari Minggu (22/2/2026).
Target serangan yang bakal digelar Amerika Serikat kali ini disebut-sebut berkisar di markas besar Korps Garda Revolusi Iran, situs nuklir, hingga program rudal balistik yang konon katanya diproduksi secara masif di negara Persia tersebut. (net/cic/afp/ax/twsj/twp/kim/smr)





