Bongkar Kebusukan, Aktivis Demokrasi Andrianto Sebut Eggi Sujana Aktivis Bodrex dalam Polemik Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Kolase gambar Eggi Sudjana saat di bandara Soekarno Hatta menggunakan kursi roda, tapi begitu sampai di Malaysia terlihat keluar dari mobil mewah dengan senyum sumringah pula dan video Eggi menyetir sendiri mobil mewah di Malaysia itu viral dan menjadi pesan berantai. Foto: internet

Aktivis Demokrasi sekaligus Eksponen Angkatan 1998 Andrianto Andri secara terbuka membongkar apa yang disebutnya sebagai kontradiksi akut antara ucapan dan perbuatan Eggi Sudjana, sebuah pola lama yang menurutnya berulang kali merusak marwah gerakan aktivisme.

Semarak.co – Andrianto menyebut Eggi dikenal di kalangan aktivis bukan sebagai figur teladan melainkan sosok dengan rekam jejak transaksional. Andri menyinggung sikap Eggi dalam polemik dugaan ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Bacaan Lainnya

“Dia sering memakai pola yang sama: menghajar, lalu diakhiri dengan transaksi. Omongannya keras, tapi perbuatannya berbelok,” ujar Andri, mantan Sekjen Pro Demokrasi (ProDem), Senin (19/1/2026) seperti dilansir jakartasatu.com, Senin, 19 Jan 2026, 11:28.

Awalnya, masih terang Andri, Eggi berada di barisan terdepan yang menyerang Jokowi, membela Bambang Tri dan Gus Nur, serta lantang di media menyebut ijazah Jokowi palsu. Namun, sikap itu berubah drastis setelah Eggi ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama baik.

“Ujungnya justru damai di luar pengadilan lewat Restorative Justice. Dari musuh besar, tiba-tiba jadi sahabat,” tegas Andri.

Ia menilai peristiwa tersebut sebagai bukti kuat pengaruh Jokowi yang masih sangat besar di tubuh kepolisian, meski era kekuasaannya telah berakhir. “Ini berbahaya bagi demokrasi. Polisi kembali jadi alat barter dan tekanan politik,” katanya.

Menurut Andri, perilaku Eggi bukan hal baru. Ia mengungkit peristiwa tahun 1998 saat gerakan pro-demokrasi menuntut pengusutan skandal BLBI. Kala itu, Eggi ikut berdemo, namun hanya fokus menyerang satu nama: Syamsul Nursalim.

“Anehnya, kemudian dia berhenti sendiri. Teman-teman aktivis tahu persis apa yang terjadi. Ada transaksi. Nilainya miliaran. Saksinya banyak,” ungkap Andri.

Pola serupa, kata dia, juga terlihat pada kasus Hary Tanoesoedibjo pada 2005, berulang pada kasus Ahok tahun 2017. Awalnya keras, lalu tiba-tiba melunak. Andri bahkan menyebut Eggi dengan istilah yang dikenal luas di kalangan pergerakan.

“Dia contoh klasik aktivis Bodrex. Hantam target, bikin target takut, lalu ajak damai dengan kompensasi uang,” ujarnya tanpa basa-basi.

Karena itu, Andri menilai wajar jika Eggi tidak pernah menempati posisi strategis dalam jabatan publik. “Bandingkan dengan teman seangkatannya: Yusril, Kaban, Ahmad Yani, Bursa Zarnubi. Mereka punya jalur karier jelas. Eggi selalu mentok,” katanya.

Andri juga menyoroti klaim Eggi yang mengaku menderita kanker usus stadium 4. Ia mempertanyakan keabsahan narasi tersebut setelah munculnya Eggi yang terlihat mengemudi mobil di Kuala Lumpur. “Jangan-jangan ini juga bagian dari siasat cari simpati. Berdamai dengan Jokowi, dapat SP3, bahkan mungkin dapat ‘sangu’. Isunya sampai miliaran,” tegas Andri. (net/jkc/smr)

 

Sumber: jakartasatu.com di WAGroup BASECAMP PEJUANG MILITAN (postSenin19/1/2026/hendrikharnova).

Pos terkait