Trump Murka! Spanyol, Inggris, Kanada Hingga Prancis Kecam Serangan AS-Israel ke Iran

Eskalasi perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran, kian panas. Penentangan terhadap serangan AS-Israel, itu kini tak cuma terlontar dari negara yang non sekutu AS, namun juga dari anggota NATO, seperti Kanada, Spanyol bahkan Inggris dan Prancis. Trump pun berang dan mengancam.

Semarak.co – Bahkan, kecaman sekutu atas serangan AS ke Iran kini mulai bermunculan dan memicu keretakan serius di dalam internal aliansi NATO. Dua negara anggota utama, Prancis dan Kanada, pun secara terbuka menyatakan ketidaksetujuannya.

Mereka menyatakan ketidaksetujuannya terhadap operasi militer gabungan yang dilancarkan AS bersama Israel. Langkah sepihak Washington ini dianggap telah mengabaikan prinsip-prinsip diplomasi dan hukum internasional yang berlaku.

Bahkan, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menegaskan, keputusan untuk menyerang Teheran dilakukan sepenuhnya di luar koridor hukum internasional. Macron menyatakan, Prancis tidak dapat memberikan dukungan atau persetujuan atas tindakan militer yang provokatif itu.

Menurutnya, tindakan agresif ini justru memperkeruh suasana di kawasan yang sudah sangat labil. Meskipun melontarkan kritik tajam, Macron tetap menyoroti tanggung jawab besar Teheran dalam memicu ketegangan global.

Ia menunjuk program nuklir Iran yang dianggap berbahaya serta dukungan negara tersebut terhadap berbagai kelompok proksi di Timur Tengah. Selain itu, Macron mengecam tindakan represif pemerintah Iran terhadap warganya sendiri selama gelombang protes beberapa waktu lalu.

Senada dengan Prancis, Kanada juga menyuarakan keprihatinan mendalam terkait dampak kecaman sekutu atas serangan AS ke Iran ini. Perwakilan Kanada, Carney, menyerukan agar semua pihak segera melakukan deeskalasi guna menghindari perang terbuka yang lebih luas.

Berbicara di Sydney, Australia, ia menekankan pentingnya menghormati aturan keterlibatan internasional dalam setiap konflik bersenjata. Carney menyebut bahwa situasi di Timur Tengah saat ini merupakan cermin nyata dari kegagalan tatanan internasional dalam menjaga perdamaian.

Kanada merasa kecewa karena AS dan Israel bertindak tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan para sekutunya. Ketidakhadiran peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam proses pengambilan keputusan ini menjadi poin utama keberatan Ottawa.

Walaupun Kanada memahami kekhawatiran AS terkait program nuklir Iran, mereka tetap menyesalkan cara-cara militeristik yang ditempuh. Carney menegaskan, hukum internasional bersifat mengikat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam peperangan, tanpa terkecuali.

Absennya koordinasi dengan NATO dianggap sebagai langkah mundur dalam diplomasi multilateral yang selama ini dibangun. Demikian dilansir Tirto.id, Antaranews.com, Inews.id,
Uptodai.com dari Reuters, BBC, AP, AFP dan media-media barat lainnya pada 4/3/2026.

Eskalasi konflik ini mencapai titik puncaknya setelah serangan gabungan AS-Israel berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kematian tokoh sentral ini memicu kemarahan besar di Teheran yang langsung dibalas dengan serangan balasan ke berbagai titik strategis.

Fasilitas minyak, pusat data, hingga pangkalan militer di kawasan tersebut kini menjadi sasaran empuk rudal-rudal Iran. Dampak dari kecaman sekutu atas serangan AS ke Iran dan aksi saling balas ini langsung merembet ke sektor ekonomi dunia.

Penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran menyebabkan pasokan energi global terganggu secara drastis. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam dalam hitungan jam, menciptakan kepanikan di lantai bursa saham New York hingga Asia.

Kondisi ini semakin diperparah dengan sikap keras Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan visinya. Trump bahkan mengancam akan memutus hubungan perdagangan dengan Spanyol karena menolak memberikan akses pangkalan udara bagi pesawat militer AS.

Ketegangan internal ini menandakan bahwa solidaritas NATO sedang berada di titik terendah sepanjang sejarah modern. Selain Spanyol, Inggris juga tidak luput dari sasaran kritik pedas Donald Trump terkait respons mereka terhadap konflik ini.

Washington tampak semakin terisolasi secara diplomatik karena memilih jalan pintas militer dibandingkan jalur negosiasi yang panjang. Ketidakpastian ini membuat para investor global cenderung menarik aset mereka dari pasar berisiko tinggi.

Banyak pengamat menilai bahwa keretakan di tubuh NATO ini akan memberikan keuntungan bagi poros kekuatan lain di luar Barat. Jika Amerika Serikat terus mengabaikan masukan dari sekutu dekatnya, stabilitas keamanan global diprediksi akan semakin sulit terjaga.

Krisis ini bukan lagi sekadar perang antara dua atau tiga negara, atau bahkan beberapa negara Arab yang terseret melakukan serangan jika terdesak, melainkan ujian bagi integritas aliansi pertahanan terbesar di dunia.

Trump Kecam Inggris dan Spanyol

Presiden Trump mengecam keras PM Inggris Keir Starmer karena enggan membantu perang melawan Iran. Donald Trump mengancam bahwa sikap Inggris tersebut bisa memengaruhi hubungan khusus antar kedua negara yang selama ini berlangsung mesra.

“Dia tidak mau membantu. Saya tidak pernah menyangka akan menyaksikan seperti itu. Saya tidak pernah menyangka akan melihat itu dari Inggris,” kata Presiden AS Donald Trump, seperti dilansir Inews.id dari Al Jazeera, pada hari Selasa (3/3/2026).

Dia menambahkan bahwa akibat sikap Inggris tersebut, hubungan kedua negara telah berubah secara dramatis. “Ini sebenarnya dunia yang berbeda. Ini hanya hubungan yang jauh berbeda dari yang pernah kita alami dengan negara Anda,” ujarnya dengan nada kecewa.

Inggris sebenarnya membantu AS perang melawan Iran, namun bersifat pasif, yakni mengizinkan militer Paman Sam menggunakan pangkalan militernya. Selain itu Inggris juga mengerahkan kapal perang untuk mengamankan pangkalannya di Siprus yang menjadi target serangan Iran.

Trump Ancam Spanyol

Tak cuma Inggris. Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengancam akan memutus perdagangan dengan Spanyol. Ancaman ini disampaikannya setelah pemerintah Spanyol melarang pesawat-pesawat AS menggunakan pangkalan militer mereka untuk menyerang Iran.

Spanyol juga sangat keberatan dengan peningkatan pendanaan pertahanan sebagai bagian dari NATO.  “Spanyol sangat buruk,” kata Presiden Donald Trump kepada wartawan saat bertemu dengan Kanselir Jerman Friedrich Merz.

“Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berhubungan dengan Spanyol,” cetus Trump marah besar, seperti dilansir media Arab, Al Arabiya dan Kantor Berita AFP, pada hari Rabu (4/3/2026).

Pemerintah negeri Matador Spanyol telah mengecam perang yang dikobarkan negara Paman Sam dan Zionis Israel terhadap Iran. Spanyol juga melarang AS untuk menggunakan pangkalan gabungan di wilayahnya untuk menyerang Iran.

Menteri Pertahanan (Menhan) Spanyol Margarita Robles, seperti dilansir Politico, Selasa (3/3/2026), mengatakan bahwa AS menarik pesawat-pesawat militernya dari pangkalan-pangkalan di wilayah Spanyol setelah Madrid melarang penggunaan pangkalan itu untuk menyerang Iran.

Ditegaskan oleh Robles dalam konferensi pers di Pangkalan Udara Armilla pada hari Senin (2/3), kemarin, bahwa misi melibatkan pangkalan militer di Spanyol harus “beroperasi dalam kerangka hukum internasional” (yang berlaku).

Menhan Spanyol Margareta Robles juga menambahkan bahwa keberadaan instalasi militer di wilayah negeri Matador Spanyol akan senantiasa dilarang “memberikan dukungan kecuali jika diperlukan dari perspektif kemanusiaan”.

Trump pun menyatakan kekesalan dan kemarahannya terhadap Spanyol, “Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin berhubungan dengan Spanyol,” cetusnya seperti dilansir Al Arabiya dan AFP, Rabu (4/3/2026).

Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa Pemerintah Spanyol telah mengecam perang yang dikobarkan AS dan Israel terhadap Iran. Spanyol juga melarang AS untuk menggunakan pangkalan gabungan di wilayahnya untuk menyerang Iran.

Sementara, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memutus hubungan dagang AS-Spanyol ke depan. Ini karena negara Eropa tersebut menolak mengizinkan militer AS menggunakan pangkalan mereka untuk menyerang Iran.

Trump juga telah memberitahu Menteri Keuangan AS Scott Bessent untuk memutus semua perdagangan dengan Spanyol. “Kami akan memutus semua perdagangan dengan Spanyol. Kami tidak ingin ada hubungan dengan Spanyol,” ujarnya saat bertemu Kanselir Jerman Fiederich Merz di Gedung Putih, Selasa (4/3) seperti dikutip The Guardian.

Trump juga mengaku tidak senang dan kecewa dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ini setelah Starmer memutuskan tak bergabung dengan AS dan Israel dalam menyerang Iran. “Saya tidak senang dengan Inggris,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Trump juga membantah pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang menyebut Israel memicu AS untuk ikut menyerang Iran. Trump mengatakan, Iran akan menyerang sebelum AS melakukannya.

Trump juga mengakui secara jujur bahwa dia yang meminta Israel untuk menyerang Negeri Para Mullah itu. “Saya pikir mereka akan menyerang lebih dulu, dan saya tidak ingin itu terjadi,” katanya, di Washington, Amerika Serikat.

Sebelumnya, Spanyol menolak permintaan izin AS untuk menggunakan pangkalan militer di Rota dan Morón untuk menyerang Iran. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga mengecam tindakan militer sepihak AS dan Israel.

Menteri Luar Negeri Spanyol, José Manuel Albares mengatakan bahwa, kendatipun negaranya ingin ada kebebasan di Iran, namun mereka tak mengizinkan penggunaan pangkalan militernya digunakan untuk operasi militer.

“Pangkalan-pangkalan tersebut tidak akan digunakan untuk apa pun yang tidak tercakup dalam piagam PBB,” kata Albares pada Senin (2/3/2026), dilansir  Katadata.co.id dari Reuters, AFP dan sejumlah televisi maupun media-media Arab dan Barat.

Deretan Negara Non Sekutu AS yang Mengecam Serangan AS-Israel ke Iran

Serangan tentara gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 menimbulkan ketegangan nyata di dunia. Sejumlah negara membuat pernyataan resmi yang isinya mengutuk serangan tersebut, seperti dilansir Tirto.id pada 4/3/2026.

Perang antara Iran dan AS-Israel sebenarnya sudah banyak diprediksi oleh dunia setelah Presiden AS Donald Trump mengirim kapal induk USS Abraham Lincoln berlayar menuju kawasan Teluk atau Timur Tengah.

Apa yang dikhawatirkan dunia benar-benar terjadi setelah militer AS dan Israel bersatu untuk menyerang Iran pada akhir pekan lalu. Akibat serangan ini, sejumlah petinggi Iran tewas, termasuk Supreme Leader, Ayatollah Ali Khamenei.

Beberapa negara yang mengutuk serangan AS-Israel ke Iran antara lain:

1. China

China secara tegas menyerukan gencatan senjata segera setelah serangan militer yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Pemerintah China menyatakan bahwa serangan itu melanggar hukum internasional dan kedaulatan Iran.

Pelanggaran itu, katanya, dikarenakan serangan AS-Israel terhadap Iran tidak ada otorisasi dari Dewan Keamanan PBB untuk melakukan tindakan militer. “Tugas yang paling mendesak adalah penghentian segera operasi militer,” katanya.

Penghentian operasi militer yang dilakukan AS-Israel untuk mencegah penyebaran dan meluasnya konflik. Penyelesaian melalui dialog dan negosiasi,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning dikutip Times of India.

2. Turki

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan secara terbuka mengkritik serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negeri Persia, Iran. Ia menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.

“Sebagai tetangga dan saudara mereka, kami turut merasakan penderitaan rakyat Iran,” ucapnya dikutip Reuters. Erdogan juga memeringatkan, ketidakpastian ekonomi dan geopolitik akibat perang akan menjadi beban berat bagi semua pihak.

“Tidak ada yang mampu menanggung beban ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang akan ditimbulkan oleh periode seperti itu. Inilah sebabnya mengapa api ini perlu dipadamkan sebelum semakin membesar,” tuturnya.

3. Malaysia

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengajukan mosi darurat di parlemen untuk membahas serangan udara yang hasilnya anggota parlemen dari pemerintah dan oposisi bersatu secara bulat untuk mengecam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Meski Malaysia tidak mengakui Islam Syiah yang dianut Iran, namun negara tersebut tetap mengutuk tindakan AS-Israel yang bisa berisiko memberikan dampak regional. Anwar mengatakan pemerintah akan tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan risiko.

“Saya hanya dapat meyakinkan Anda bahwa kami akan tetap waspada. Kewaspadaan dan kesiapan sangat penting,” kata Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim seperti dikutip dari The Straits Times dan sejumlah media Asia

4. Rusia

Dari ibukota Rusia, Moskow, Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Putin menyebut kematian tersebut sebagai “pembunuhan” (internasional).

Pembunuhan, yang menurut Putin, dilakukan dengan cara yang melanggar norma moral dan hukum internasional.
Dalam pesannya yang dipublikasikan oleh Kremlin dan ditujukan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Putin mengatakan di Rusia, Khamenei akan dikenang sebagai negarawan besar.

“Di negara kami, Ayatollah Khamenei akan dikenang sebagai negarawan terkemuka yang memberikan kontribusi pribadi yang besar bagi pengembangan hubungan persahabatan Rusia-Iran, membawanya ke tingkat kemitraan strategis yang komprehensif,” ungkap Putin.

Dilaporkan Euronews dan Reuters serta sejumlah media Barat lainnya, Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Moskow menyebut serangan itu sebagai tindakan agresi bersenjata yang telah direncanakan dan tidak memiliki provokasi, serta melanggar prinsip dasar hukum internasional terhadap negara anggota PBB yang berdaulat. (net/ti/anc/in/utc/rts/mtnc/ap/bbc/bbc/kim/smr)