Ketegangan Yaman Memanas, Serangan Udara Tewaskan Puluhan Orang di Dekat Ibu Kota Sanaa

Konflik bersenjata di negeri Yaman kembali menjadi perhatian internasional setelah serangan udara di kawasan Bani Hushaysh, dekat ibu kota Sanaa. Serangan itu dilaporkan menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan lainnya.

Semarak.co – Peristiwa itu jelas memerburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah, terutama menyangkut hubungan kelompok Syiah Houthi dengan Arab Saudi yang selama bertahun-tahun terlibat dalam konflik berkepanjangan.

Kementerian Kesehatan yang dikelola Houthi menyebut sedikitnya 33 orang meninggal dunia dan 39 lainnya terluka. Angka tersebut disampaikan kantor berita Saba, media resmi kelompok Houthi, pada Sabtu malam (7/11/2026) waktu setempat.

Menurut laporan itu, sebagian besar korban tewas merupakan perempuan dan anak-anak. Serangan disebut menghantam rumah warga di wilayah Al-Shariyah, sementara sejumlah orang masih tertimbun reruntuhan bangunan saat petugas melakukan pencarian darurat.

Reuters, Associated Press, Sky News dan Saba (8/11/2026), Direktur Rumah Sakit Sehatuna di Sanaa mengatakan tim medis menerima korban dengan luka serius pada kepala, dada dan kaki. Petugas penyelamat juga dilaporkan menjadi korban dalam serangan susulan di lokasi.

Kelompok Houthi menuduh Arab Saudi berada di balik serangan itu. Namun, Reuters belum dapat memverifikasi secara independen tuduhan maupun rincian korban, sementara otoritas Saudi menyatakan sedang menyelidiki laporan itu lebih lanjut.

Serangan ini terjadi ketika pertempuran antara Syiah Houthi yang didukung Iran dan kelompok-kelompok Yaman yang didukung Saudi kembali meningkat sejak Juli, mengakhiri gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2022 silam.

Serangan rudal dan drone Houthi terhadap bandara serta fasilitas minyak Saudi turut memperbesar risiko konflik lintas perbatasan. Riyadh, sementara itu, melancarkan serangan udara untuk mendukung sekutu-sekutunya di wilayah Yaman.

Organisasi Internasional untuk Migrasi menyebut lebih dari 200.000 orang mengungsi sejak gelombang pertempuran terbaru dimulai. Konflik berkepanjangan juga memperparah krisis pangan, kesehatan dan kebutuhan dasar masyarakat sipil setempat.

Perkembangan terbaru meningkatkan kekhawatiran masyarakat internasional terhadap meluasnya perang regional. Upaya diplomatik diperlukan untuk melindungi warga sipil, membuka akses bantuan kemanusiaan serta mencegah eskalasi militer yang lebih luas. (net/rts/ap/sn/saba/kim/smr)