Donald Trump dan Merosotnya Peradaban Amerika

Presiden AS Donald Trump berbicara kepada wartawan di pesawat Air Force One saat ia kembali dari New Hampshire ke Washington, Amerika Serikat, Jumat (28/8/2020). Foto: internet

Oleh Anonym *)

Semarak.co – “Watak Washington selalu ingin menciptakan ketergantungan dari negara lain terhadapnya, oleh karena itu jangan terlalu percaya dengan AS.” (Amien Rais)

Bacaan Lainnya

Amerika Serikat selama lebih dari satu abad dipandang sebagai pusat peradaban modern, ditopang oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, serta klaim kepemimpinan moral dalam demokrasi liberal.

Namun kepemimpinan Donald J. Trump—terutama dalam periode terbarunya—menunjukkan merosotnya peradaban politik Amerika. Sejak Perang Dunia II, Amerika Serikat memposisikan diri sebagai leader of the free world, penjaga tatanan internasional liberal yang berbasis hukum, multilateralisme, dan institusi global (Ikenberry, 2011).

Namun dalam satu dekade terakhir, banyak ilmuwan politik mencatat terjadinya democratic backsliding di Amerika Serikat (Levitsky & Ziblatt, 2018). Donald Trump muncul sebagai figur sentral dalam fenomena ini.

Retorika America First, penolakan terhadap norma internasional, serta kecenderungan menggunakan kekuatan militer dan tekanan ekonomi secara unilateral telah menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah Amerika di bawah Trump sedang mundur dari peradaban politik modern menuju imperialisme gaya lama?

Dalam teori hubungan internasional, imperialisme didefinisikan sebagai upaya negara kuat mengendalikan negara lain melalui kekuatan militer, ekonomi, atau politik tanpa persetujuan rakyat negara tersebut.

Sementara itu, Levitsky dan Ziblatt (2018) menekankan bahwa kemunduran demokrasi sering terjadi bukan melalui kudeta, tetapi melalui pemimpin terpilih yang melemahkan institusi, merendahkan hukum, dan mempersonalisasi kekuasaan.

Donald John Trump lahir di New York pada 1946, dibesarkan dalam keluarga pengusaha real estat. Sebelum terjun ke politik, ia dikenal sebagai figur bisnis dan selebritas media. Namun, rekam jejak personal Trump menimbulkan perhatian serius dalam kajian etika kepemimpinan.

Trump menghadapi puluhan tuduhan perilaku seksual tidak pantas dan dinilai oleh banyak pemeriksa fakta sebagai presiden dengan tingkat pernyataan tidak benar tertinggi dalam sejarah modern AS. Bukti-bukti foto Trump berhubungan bebas dengan banyak wanita berseliweran di internet (kasus Epstein).

Menurut psikolog politik Dan McAdams (2020), Trump menunjukkan ciri narcissistic leadership, yakni kepemimpinan yang berpusat pada ego, dominasi, dan kebutuhan pengakuan, yang secara empiris berkorelasi dengan kebijakan konfrontatif dan merusak norma.

Venezuela dan Kembalinya Imperialisme Terbuka

Intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela di bawah Trump menjadi contoh paling jelas dari kembalinya praktik imperialisme langsung. Penangkapan Nicolás Maduro oleh pasukan AS dan pernyataan Trump tentang pengelolaan transisi Venezuela memicu kecaman luas.

Noam Chomsky menyebut pola ini sebagai continuity of imperial practice, di mana Amerika menggunakan narasi demokrasi untuk membenarkan kontrol geopolitik dan sumber daya. Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar dunia, menjadi ilustrasi klasik dari apa yang disebut sebagai resource wars.

Menurut Richard Falk, profesor hukum internasional Princeton, tindakan semacam ini melemahkan legitimasi hukum internasional dan “mengembalikan dunia pada hukum rimba geopolitik.”

Trump dikenal memiliki basis kuat dari Kristen Evangelikal Zionis, sebuah kelompok yang secara teologis mendukung Israel bukan atas dasar keadilan universal, tetapi keyakinan eskatologis (Spector, 2009).

Hubungan Trump dengan Benjamin Netanyahu memperkuat kritik bahwa kebijakan AS di Timur Tengah semakin bias dan tidak netral. Amerika memang sejak lama selalu menempatkan Israel sebagai anak kesayangannya. Inggris dan Amerika yang mensponsori berdirinya negara Israel pada 1948.

Dari perspektif akademik, Donald Trump bukan sekadar figur kontroversial, tetapi gejala struktural kemunduran peradaban politik Amerika. Kebijakan luar negeri unilateral, pembenaran kekerasan geopolitik, relasi ideologis dengan Zionisme politik, serta krisis etika personal menunjukkan gejala ini.

Sebagaimana dikemukakan Ikenberry (2020), “Bahaya terbesar bagi Amerika bukanlah musuh eksternal, melainkan runtuhnya komitmen internal terhadap norma yang membesarkannya.”

Pakar politik internasional, Amien Rais menyatakan, “Amerika negara adidaya, membabi buta membela kebengisan Israel. Bahkan di masa Presiden Donald Trump kepentingan Israel dijadikan bagian dari kebijakan nasional Amerika.”

Lebih jauh Amien menyatakan, “Trump sebagai presiden terburuk sepanjang sejarah AS, mengutip pandangan sejumlah sejarawan dan jurnalis yang menilai kepemimpinannya sebagai berdarah dingin dan sosiopatik (suka berbohong dan tidak peduli orang lain).”

Walhasil, invasi Trump ke Venezuela itu mengingatkan banyak orang dengan invasi yang dilakukan Presiden George W Bush ke Irak tahun 2003. Ada beberapa kesamaan keduanya. Pertama, sama-sama menjalankan politik imperialis Amerika.

Kedua, sama-sama ditopang Kristen Evangelis (Kristen pro Zionis) garis keras. Ketiga, memicu instabilitas global. Warisan Bush adalah lebih 500 ribu rakyat Irak meninggal dan menimbulkan ketidakstabilan Timur Tengah.

Trump mendukung penuh Netanyahu yang telah menewaskan sekitar 80 ribu rakyat Gaza dan kini membuat panas hawa politik di Amerika Latin, khususnya Vanezuela.

Entah berapa jiwa lagi yang akan menjadi korban akibat nafsu imperialis Trump ini. Wallahu azizun hakim. II Nuim Hidayat, Direktur Forum Studi Sosial Politik

*)

 

Sumber: WAGroup Jurnalis Kemenag (postSenin5/1/2026/oebai)

Pos terkait