Serangan rudal yang dikaitkan dengan kelompok Syiah Houthi yang disokong Iran di Yaman terhadap Arab Saudi, mengganggu perjalanan jamaah umrah dari berbagai negara. Insiden itu memicu kekhawatiran mengenai keselamatan peziarah Muslim.
Semarak.co – Menurut laporan Reuters, Al Jazeera dan Arab News (14/10/2026), serangan terhadap terminal keberangkatan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan 13 orang dan melukai sekitar 300 orang. Sejumlah penumpang mengenakan pakaian ihram ketika insiden terjadi.
Dampak Serangan terhadap Jamaah
Serangan rudal yang dikaitkan dengan kelompok Houthi di Yaman terhadap Arab Saudi tentu saja mengganggu perjalanan jamaah umrah. Insiden di Riyadh memicu kekhawatiran mengenai keselamatan peziarah Muslim dan penerbangan lintas negara regional.
Kantor berita Inggris itu melaporkan pada 14 Oktober 2026, serangan di terminal keberangkatan Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, menewaskan 13 orang dan melukai sekitar 300 lainnya, menurut laporan media internasional yang dikutip Reuters.
Rekaman kejadian memerlihatkan sejumlah penumpang mengenakan pakaian ihram, busana putih yang biasa digunakan jamaah saat menunaikan ibadah umrah atau haji. Seorang imam asal Bangladesh yang memimpin rombongan dilaporkan turut tewas.
Serangan tersebut membuat sejumlah pelancong meninjau ulang rencana perjalanan. Beberapa memilih jalur alternatif melalui negara-negara Teluk, termasuk Bahrain, Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA), meskipun perjalanan darat membutuhkan waktu tempuh panjang.
Reuters dan Al Jazeera juga melaporkan sebagian penerbangan terganggu, sementara sejumlah sekolah di Riyadh beralih ke pembelajaran daring dan beberapa kantor meminta pegawai bekerja dari rumah sebagai langkah menghadapi situasi keamanan setempat.
Kelompok Syiah Houthi menyatakan tidak akan menyerang Makkah dan Madinah, dua kota suci umat Islam, tetapi serangan terhadap bandara Saudi tetap menimbulkan kecemasan bagi jamaah dan warga sipil di tengah konflik.
Arab Saudi menegaskan keamanan pengunjung menjadi perhatian, sedangkan sejumlah pemerintah negara Barat mengeluarkan peringatan perjalanan. Jamaah yang hendak berangkat sebaiknya memeriksa pengumuman resmi maskapai dan otoritas sebelum bepergian. (net/rts/alz/an/kim/smr)





