Rencana Trump untuk Gaza Mandek, Serangan Israel Masih Berlanjut

Rencana perdamaian Donald Trump untuk mengakhiri perang Gaza memasuki tahun kedua, tetapi sejumlah sasaran utama belum tercapai. Zionis Israel masih menguasai sebagian besar wilayah dan serangan terus berlangsung hingga saat ini.

Semarak.co – Internazionale dan Reuters melaporkan (6/10/2026), fase pertama rencana itu menghasilkan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, pembebasan sandera terakhir, serta ratusan tahanan Palestina. Namun, implementasi tahap berikutnya masih mengalami kebuntuan serius dan berkepanjangan.

Bacaan Lainnya

Rencana Trump mencakup penghentian operasi militer, penarikan pasukan Israel bertahap, pertukaran sandera dan tahanan, peningkatan bantuan kemanusiaan, pelucutan senjata Hamas serta pembentukan pemerintahan Palestina sementara untuk Gaza pascaperang.

Setelah gencatan senjata, serangan Israel tidak sepenuhnya berhenti. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut sedikitnya 1.400 warga Palestina tewas sejak Oktober, sementara Israel menyatakan sasarannya adalah kelompok Hamas bersenjata di wilayah tersebut.

Kontrol militer Zionis Israel juga meluas. Semula garis penarikan dirancang membuat pasukan Israel menguasai sekitar 53% Gaza, tetapi kini kendali efektif Israel disebut telah mencapai sekitar dua pertiga wilayah Gaza itu.

Situasi tersebut mempersempit ruang hidup sekitar dua juta warga Gaza. Banyak keluarga terpaksa bertahan di tenda atau bangunan rusak, sementara bantuan kemanusiaan meningkat tetapi masih jauh dari kebutuhan dasar warga.

Lebih dari 1,2 juta warga Gaza masih menghadapi kelaparan akut, menurut pemantau ketahanan pangan IPC. Rata-rata 227 truk bantuan dan pasokan komersial masuk setiap hari setelah gencatan senjata tersebut berlangsung.

Masalah lain muncul mengenai pelucutan senjata Hamas. Kelompok tersebut menyatakan bersedia menyerahkan senjata untuk disimpan pemerintah teknokratis Palestina, tetapi Israel menolak menarik pasukan sebelum Hamas benar-benar dilucuti sepenuhnya terlebih dahulu.

Pasukan Stabilisasi Internasional yang direncanakan juga belum terbentuk sepenuhnya. Indonesia, Maroko, Kazakhstan, Albania, Kosovo dan Uganda telah menyatakan komitmen personel, sementara Amerika Serikat menyiapkan kepemimpinan pasukan itu di masa mendatang.

Rekonstruksi Gaza berjalan sangat lambat. Dewan Perdamaian mengumumkan dana awal 2,45 miliar dolar AS, sedangkan kebutuhan pemulihan dan pembangunan kembali selama satu dekade diperkirakan mencapai 71,4 miliar dolar AS dalam 10 tahun. (net/in/rts/kim/smr)

Pos terkait