Penobatan Spanyol sebagai juara Piala Dunia tidak luput dari kontroversi, dengan ketegangan dari 120 menit pertandingan final yang melelahkan meluas hingga ke sesi upacara pasca-pertandingan.
semarak.co – Saat para pemain Spanyol menunggu untuk mengangkat trofi, beberapa pemain Argentina terlihat membelakangi panggung tepat pada saat para juara menerima trofi dari ofisial, sebuah gestur yang dengan cepat menarik perhatian di seluruh dunia.
Tindakan mengabaikan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan yang cukup terasa di kalangan delegasi Spanyol, terutama mengingat para pemain Spanyol sebelumnya telah membentuk barisan kehormatan untuk memberi tepuk tangan kepada Argentina setelah mereka finis sebagai runner-up.
Momen tersebut tidak luput dari perhatian para pendukung di dalam stadion maupun jutaan penonton di seluruh dunia. Saat berbicara kepada wartawan di zona campuran, Olmo tetap tenang namun tegas ketika ditanya secara langsung mengenai perilaku Argentina selama upacara.
“Itu tidak penting bagi kami. Yang penting adalah nilai-nilai yang ingin kalian sampaikan,” kata Olmo, meredam drama tersebut sambil tetap mempertahankan sikap yang jelas mengenai fair play dan saling menghormati di antara para pesaing.
Gelandang Spanyol itu melangkah lebih jauh dengan menekankan tanggung jawab yang dipikul para atlet elit di panggung global semacam ini. “Kami adalah teladan bagi banyak generasi, bagi banyak anak laki-laki dan perempuan, dan saya pikir mereka juga harus menjadi teladan bagi semua orang, dan untuk kebaikan bersama,” ujarnya.
“Kami hanya akan menikmati momen ini sekarang,” demikian Olmo sambil menyampaikan pesan yang tajam kepada rekan-rekan sesama atlet dari Amerika Selatan dilansir goal melalui laman berita msn.com, Selasa (21/7/2026).
Kekerasan pasca-pertandingan merusak suasana acara tersebut. Tindakan mengabaikan saat pengangkatan trofi hanyalah puncak gunung es setelah pertandingan yang berubah menjadi kekacauan. Segera setelah peluit akhir berbunyi, perkelahian hebat meletus antara kedua tim, yang semakin merusak suasana pertandingan.
Gelandang Leandro Paredes terekam kamera sedang mencekik leher Eric Garcia dan menjatuhkan Gavi ke tanah, yang berujung pada kartu merah langsung bagi pemain Roma tersebut. Meskipun Lionel Messi dipuji karena menunjukkan sikap berkelas dengan berjabat tangan dengan para pemenang, banyak rekan setimnya.
Termasuk Nahuel Molina dan Enzo Fernandez, menghadapi sorotan tajam. Sikap agresif yang ditunjukkan oleh tim asuhan Lionel Scaloni dipandang oleh banyak pihak sebagai reaksi atas kekalahan mereka dari tim Spanyol yang secara teknis lebih unggul.
Sanksi Berat dari FIFA Mengancam
Insiden pasca-pertandingan yang melibatkan Paredes dan Molina sangat mungkin akan memicu sanksi disiplin yang berat dari FIFA. Menambah derita Argentina, Enzo terancam skorsing setelah diusir dari lapangan pada menit-menit akhir karena menerima kartu kuning kedua di akhir waktu normal.
Sementara itu, Messi belum mengklarifikasi masa depannya di tim nasional, meskipun banyak yang memperkirakan bahwa turnamen ini menandai penampilan terakhirnya di Piala Dunia.
Mengutip republika.co.id dari laman berita msn.com, Selasa (22/7/2026), FIFA resmi membuka penyelidikan terhadap insiden kericuhan yang terjadi seusai final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion New York New Jersey, AS, Senin (21/7/2026) pagi WIB.
Sejumlah pemain Argentina terancam dijatuhi sanksi larangan bertanding apabila terbukti melanggar Kode Disiplin FIFA. Final Piala Dunia 2026 berakhir dengan kemenangan Spanyol 1-0 atas Argentina. Namun, suasana panas setelah pertandingan memicu bentrokan antarpemain yang kini menjadi perhatian badan sepak bola dunia tersebut.
Rekaman video memperlihatkan sejumlah insiden yang melibatkan pemain Argentina. Leandro Paredes dan Nahuel Molina menjadi sorotan dalam keributan paling serius. Paredes bersama Thiago Almada terlihat bergulat dengan gelandang Spanyol Gavi hingga terjatuh ke lapangan.
Dalam insiden lain, Paredes juga tampak mencekik leher bek Spanyol Eric Garcia. Sementara itu, Molina diduga melayangkan pukulan ke arah Rodri saat berlari melewati gelandang Spanyol tersebut yang tengah merayakan keberhasilan timnya menjadi juara dunia. Bek senior Argentina Nicolas Otamendi juga terlibat adu mulut sengit dengan Rodri.
Pertukaran kata-kata itu diduga dipicu komentar bek Spanyol Aymeric Laporte menjelang laga final. Tak hanya itu, muncul pula dugaan mantan bek Argentina yang kini menjadi pelatih, Roberto Ayala melakukan tindakan menyerang gelandang Spanyol Dani Olmo seusai pertandingan.
Selama laga berlangsung, gelandang Argentina Enzo Fernandez telah lebih dulu diusir keluar lapangan akibat menerima dua kartu kuning. Adapun Leandro Paredes sempat tercatat mendapat kartu merah setelah peluit panjang dibunyikan.
Namun, FIFA kemudian mengoreksi catatan resminya dan menyatakan Paredes sebenarnya tidak menerima kartu merah dari wasit Slavko Vincic sehingga sanksi tersebut dihapus dari laporan pertandingan. Meski demikian, ancaman hukuman yang lebih berat masih membayangi para pemain Argentina setelah FIFA memulai investigasi resmi terhadap kericuhan pascalaga.
Setelah melakukan penilaian terhadap laporan pertandingan terkait final Piala Dunia FIFA antara Spanyol dan Argentina dan sesuai dengan Pasal 36 Kode Disiplin FIFA (FDC), Komite Disiplin FIFA telah menunjuk Jaksa Disiplin dan Etika untuk menyelidiki potensi pelanggaran FDC terkait insiden pasca pertandingan,” demikian pernyataan resmi FIFA, dikutip dari Sportible.
FIFA menambahkan rincian lebih lanjut mengenai hasil penyelidikan akan diumumkan setelah laporan dari Jaksa Disiplin dan Etika selesai disusun. Dalam Pasal 14 Kode Disiplin FIFA disebutkan bahwa pemain yang terbukti melakukan tindakan kekerasan dapat dikenai hukuman minimal tiga pertandingan.
Sanksi serupa juga berlaku bagi pemain yang terbukti melakukan penyerangan, termasuk menyikut, meninju, menendang, menggigit, meludahi, maupun memukul lawan atau pihak lain selain petugas pertandingan. Apabila dijatuhkan, hukuman tersebut hanya berlaku saat tim nasional Argentina menjalani pertandingan resmi berikutnya.
Selain pemain, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga berpotensi dikenai sanksi apabila FIFA menyimpulkan tim nasional Argentina melakukan tindakan yang tidak pantas selama atau setelah pertandingan. FIFA juga memiliki kewenangan menjatuhkan denda kepada pemain maupun ofisial yang terbukti melanggar aturan disiplin, bahkan dapat menambah hukuman lain apabila dianggap diperlukan.
Sebelum menyelidiki kericuhan final, FIFA juga telah menjajaki kemungkinan tindakan disiplin terkait kemenangan Argentina 2-1 atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026. Usai pertandingan, sejumlah pemain Argentina mengangkat spanduk bertuliskan Las Malvinas son Argentinas atau Kepulauan Malvinas adalah milik Argentina.
Aksi itu memicu perhatian karena menyangkut sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland yang hingga kini masih diperselisihkan Argentina dan Inggris. Kepulauan Falkland saat ini berada di bawah kendali Inggris sebagai Wilayah Seberang Laut Inggris.
Dalam referendum yang pernah digelar, sekitar 99,8% penduduk kepulauan tersebut memilih tetap menjadi bagian dari Inggris. Pada 1982, Argentina sempat menginvasi dan menduduki Kepulauan Falkland. Namun, setelah 74 hari pertempuran melawan Inggris, pasukan Argentina menyerah dan kepulauan itu kembali berada di bawah kendali Inggris.
Meski demikian, Argentina hingga kini tetap mengklaim kedaulatan atas wilayah tersebut. Di tengah kontroversi yang muncul akibat komentar sang adik, seperti dilansir laman berita msn.com, Selasa (22/7/2026) dari tribunnews.com Leandro Paredes telah kembali ke Argentina bersama rombongan tim nasional.
Namun kepulangannya ke Boca Juniors justru diwarnai masalah cedera dan ancaman skorsing. Paredes mendapat kartu merah setelah terlibat dalam keributan dengan pemain Spanyol Eric Garcia dan Gavi pada menit-menit akhir pertandingan.
Sementara mengutip Argentina Ole, sang gelandang juga bermain di final dengan kondisi mengalami patah tulang rusuk. Situasi tersebut membuat Paredes diragukan tampil saat Boca Juniors menghadapi O’Higgins pada leg pertama Copa Sudamericana. Terutama karena kondisi fisik dan potensi sanksi disiplin yang masih membayangi.
Keributan final sendiri bermula setelah pertandingan berakhir ketika para pemain Spanyol merayakan keberhasilan meraih gelar dunia kedua mereka, sebelum situasi memanas dan berujung pada aksi saling dorong serta pukulan.
Bek Argentina Nahuel Molina disebut melayangkan pukulan kepada gelandang Spanyol Rodri, sedangkan asisten pelatih Lionel Scaloni, Roberto Ayala, juga terlihat mendorong Dani Olmo di tengah kericuhan.
FIFA kini membuka proses disipliner formal untuk menyelidiki insiden kekerasan tersebut dengan memeriksa laporan wasit dan rekaman pertandingan sebelum menentukan kemungkinan sanksi terhadap pemain serta staf pelatih Argentina.
Dengan demikian, meski final Piala Dunia 2026 telah berakhir dengan kemenangan Spanyol, drama yang mengiringi pertandingan tersebut masih terus berlanjut melalui investigasi FIFA, masalah Paredes. Terlebih kini muncul komentar kontroversial sang adik yang kembali membuka rivalitas sensitif antara Argentina dan Inggris.
Selanjutnya diberitakan bolasport.com dilansir laman berita msn.com, Selasa (22/7/2026), empat legenda sepak bola dunia mengecam aksi para pemain Argentina usai dipermalukan Spanyol dengan skor 0-1 pada final Piala Dunia 2026 di Stadion New Jersey, New York, Amerika Serikat, Senin (20/7/2026).
Mereka juga menyindir pemain Argentina, Leandro Paredes, yang sempat menjatuhkan pemain Spanyol, Gavi, usai pertandingan berakhir. Dilansir BolaSport dari Nine, legenda sepak bola Australia, Craig Foster, melontarkan kritik keras terhadap sikap Argentina setelah kalah di final Piala Dunia 2026.
Ia menyebut tindakan para pemain La Albiceleste sebagai sesuatu yang mengejutkan dan memalukan. Ini setelah beberapa pemain terlibat keributan dan bahkan terlihat membelakangi seremoni penyerahan trofi kepada Spanyol. Kekalahan dari Spanyol rupanya sulit diterima oleh juara bertahan asal Amerika Selatan tersebut.
Argentina menuai kritik dari sejumlah pengamat setelah beberapa pemainnya berusaha terlibat adu fisik dengan para pemain Spanyol sesaat setelah peluit panjang dibunyikan. Gelandang Argentina, Leandro Paredes, bahkan diganjar kartu merah setelah pertandingan berakhir dalam insiden ricuh.
Pertandingan sendiri berlangsung keras sejak awal. Sebelumnya, Enzo Fernandez telah lebih dulu menerima kartu merah pada penghujung waktu normal akibat pelanggaran terhadap bek muda Spanyol, Pau Cubarsi. Namun ketegangan justru memuncak setelah laga usai.
Bek Argentina, Nahuel Molina, dituduh memukul perut salah satu pemain Spanyol yang tengah berlari merayakan kemenangan bersama rekan-rekannya. Saat para pemain Argentina memprotes situasi tersebut, Paredes ikut terlibat. Ia disebut mencekik leher Eric Garcia sebelum menjatuhkan Gavi ke lapangan.
Akibat aksinya itu, Paredes mendapat kartu merah dari wasit sehingga harus meninggalkan lapangan sebelum seremoni penyerahan trofi dimulai. Setelah itu, sejumlah pemain Argentina juga terlihat membelakangi Spanyol saat trofi Piala Dunia diserahkan.
Mereka memilih berjalan melewati tribun pendukung Argentina menuju lorong stadion dan ruang ganti, alih-alih menyaksikan prosesi pengangkatan trofi. Insiden tersebut sempat luput dari sorotan siaran internasional pascapertandingan, tetapi dengan cepat menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Craig Foster mengaku tidak percaya melihat sikap yang ditunjukkan para pemain Argentina setelah kekalahan tersebut. “Ada sisi sinis dalam permainan mereka yang muncul dengan sangat mengejutkan dan memuncak setelah peluit akhir berbunyi. Sportivitas mereka benar-benar memalukan,” ujar Foster dalam program Added Time di Stan Sport.
“Beberapa pemain terlibat keributan dan menyerang lawan. Lalu saya melihat foto-foto yang memperlihatkan Argentina, termasuk Lionel Messi, tampak membelakangi seremoni trofi. Bahkan melakukan hal seperti itu saja sudah sangat memalukan.”
“Mereka datang sebagai juara bertahan, tetapi Spanyol benar-benar mengungguli mereka. Alih-alih menerima kekalahan, mereka justru mencoba mengubah pertandingan menjadi perkelahian. Itu tidak berhasil. Pada akhirnya mereka mendapat kartu merah, dan itu memang pantas. Sportivitas tim Argentina hari ini sangat mengejutkan.”
Mantan kapten timnas Inggris, Alan Shearer, juga mengecam insiden tersebut. Dalam analisisnya di BBC, ia menyebut tindakan Nahuel Molina sebagai sesuatu yang mengerikan. Shearer juga menyoroti aksi Leandro Paredes. Paredes melepaskan dua atau tiga pukulan ke arah wajah seseorang.
“Dia benar-benar menyerang lawannya. Tidak ada tempat untuk tindakan seperti itu di sepak bola. Kami tahu betapa besar arti pertandingan ini bagi mereka dan kami juga tahu betapa menyakitkannya kekalahan. Tetapi ada cara yang benar untuk menerima kekalahan. Terlalu sering kita melihat reaksi seperti ini dari Argentina. Apa yang terjadi setelah peluit akhir benar-benar buruk.”
Komentator ESPN UK sekaligus mantan pemain timnas Skotlandia, Craig Burley, memberikan kritik yang bahkan lebih pedas. Ia menyoroti buruknya penampilan Argentina di final. Menurutnya, Argentina hanya mampu melepaskan dua tembakan sepanjang pertandingan, sementara Spanyol mencatatkan 20 percobaan.
Argentina benar-benar memalukan hari ini, baik dari segi permainan maupun perilaku mereka. Kami memang sudah memperkirakan akan ada aksi-aksi provokatif, permainan kasar, dan pelanggaran tanpa bola. Tetapi kami juga berharap mereka bisa menunjukkan kualitas saat menguasai bola,” ujar Burley.
“Nyatanya mereka benar-benar berantakan, menjijikkan, dan memalukan. Saya sangat senang Spanyol yang menang. Penampilan Argentina benar-benar menjijikkan,” demikian Burley meanmbahkan.
Sementara itu, kapten Argentina Lionel Messi tampil di bawah performa terbaiknya pada laga final dan terlihat menangis setelah pertandingan berakhir. Final Piala Dunia 2026 diyakini menjadi penampilan terakhir Messi di ajang tersebut pada usia 39 tahun.
Mantan gelandang timnas Ghana, Kevin-Prince Boateng, juga menilai tindakan para pemain Argentina tidak hanya tidak menghormati Spanyol sebagai juara, tetapi juga mencoreng warisan Messi.
“Melihat apa yang terjadi setelah pertandingan, itu adalah contoh kekalahan yang tidak bisa diterima. Itu bukanlah hal yang pantas didapatkan oleh sosok seperti Lionel Messi,” kata Boateng kepada SBS. (net/tbc/rep/bol/gle/msn/smr)





