Kabut Menyelimuti Prospek Gencatan Senjata AS-Iran: Antara Proposal dan Ancaman Perang Lagi

Bayang-bayang perang berlanjut menghantui para pemegang tampuk kekuasaan, baik di pihak Amerika Serikat (AS) maupun Iran. Perundingan melalui proposal “damai” beberapa kali di Islamabad, Pakistan, masih belum memenuhi harapan dan jauh dari ekspektasi masing-masing kubu.

Semarak co Konflik AS-Iran kini memasuki fase baru kebuntuan  diplomatik (deadlock). Sementara Teheran dan Washington saling bertukar proposal untuk mengakhiri perang melalui mediasi Pakistan di ibukota Islamabad, beberapa kali.

Bacaan Lainnya

Kesiagaan militer di Israel meningkat tajam di tengah sinyal dari pemerintah negeri Paman Sam mengenai kemungkinan dimulainya kembali operasi militer jika tidak ada kesepakatan yang memuaskan antara kedua belah pihak.

Penasihat juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran mengatakan kepada Al Jazeera seperti dilansir Arrahmah.id (4/5/2026) bahwa Teheran telah menerima respons AS pada hari Ahad (3/5/2026) terkait proposal 14 poin mereka.

Pihak Iran menyatakan bahwa Washington telah memasukkan revisi ke dalam proposal tersebut, yang kini sedang dipelajari secara mendalam sebelum posisi akhir Iran dikirimkan kembali melalui mediator dan fasilitator Pakistan.

Sebaliknya, atmosfer di Washington tampak jauh lebih keras. Lembaga penyiaran Israel melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump menilai proposal Iran “tidak dapat diterima” karena dianggap tidak memenuhi aspirasi AS untuk mengakhiri konflik secara tuntas.

Di Istana Gedung Putih, Donald Trump mengisyaratkan dua pilihan di hadapan pemerintahannya: “Menyerang mereka dengan keras dan mengakhiri masalah ini sama sekali,” atau terus mencoba mencapai kesepakatan sehingga tuntas.

Proposal Iran: Peta Jalan 3 Tahap

Proposal Iran mencakup rencana ambisius untuk menghentikan perang yang terdiri dari tiga tahap: Pertama, (minimal 30 hari): Mengubah gencatan senjata menjadi pengakhiran perang sepenuhnya, dengan komitmen timbal balik untuk tidak saling menyerang yang mencakup Washington, Tel Aviv serta Teheran dan sekutunya.

Tahap pengubahan gencatan senjata menjadi pengakhiran perang sepenuhnya ini juga mencakup pembukaan bertahap Selat Hormuz, pencabutan blokade pelabuhan Iran, dan penarikan pasukan AS dari perairan sekitar Iran.

Tahap Kedua, adalah pembekuan penuh terhadap pengayaan uranium untuk jangka waktu panjang dan lama hingga waktu 15 tahun, dengan kembali ke pengayaan uranium dengan batas maksimal 3,6% sesuai  prinsip  “nol penyimpanan”.

Tahap Ketiga, atau opsi terakhir, adalah kedua belah pihak, baik Amerika Serikat maupun Republik Iran untuk bisa memulai dialog strategis regional yang bertujuan untuk membangun sistem keamanan yang mencakup seluruh kawasan.

Perang Kembali: Masalah Waktu?

Indikator-indikator tetap menunjukkan potensi tinggi runtuhnya gencatan senjata yang rapuh ini. Israel telah menaikkan status siaga ke level maksimal di tengah estimasi militer. AS mungkin akan melakukan aksi militer terbatas terhadap target di dalam Iran untuk memaksa Teheran melunak di soal nuklir.

Pejabat senior pemerintahan Zionis Israel mengatakan kepada media Channel 14 bahwa kembalinya pertempuran dipaksakan oleh realitas dan pertanyaannya bukan lagi “apakah itu akan terjadi?”, melainkan “kapan?”

Komando Pusat Amerika terus menerapkan blokade laut dengan ketat, mengumumkan perubahan rute 49 kapal dagang untuk memastikan kepatuhan terhadap sanksi yang diberlakukan di pelabuhan-pelabuhan wilayah Iran.

Perkembangan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk menyelamatkan gencatan senjata yang dimulai pada 8 April 2026 lalu, setelah sekitar 40 hari konfrontasi langsung yang dimulai pada 28 Februari dan menelan lebih dari 3.000 jiwa.

Dengan masih lebarnya kesenjangan antara persyaratan Teheran dan tuntutan AS, kawasan ini seolah berada di persimpangan jalan, terobosan diplomatik di saat-saat terakhir atau terperosok kembali ke dalam konfrontasi militer skala luas. (net/aid/rts/alz/c14/kim/smr)

Pos terkait