Alhamdulillah. Raksasa NATO Jerman Akui Iran Menang, Presiden Amerika Trump Kalah Bahkan Dipermalukan

Kanselir Jerman Friedrich Merz (kiri) saat bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, namun Merz menyatakan Trump sudah kalah dari Iran. Foto: internet

Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS) dengan menilai Washington kini berada dalam posisi lemah dihadapan Iran. Ia bahkan menyebut Negeri Paman Sam dipermalukan oleh strategi diplomasi Teheran Irarn yang dinilai lebih lihai.

Semarak.co – Mengutip The Guardian, Kanselir Merz menyampaikan pandangannya saat berbicara di hadapan mahasiswa di Marsberg Jerman. Ia menilai pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump gagal mengimbangi taktik negosiasi Iran yang cenderung berlarut-larut tanpa hasil.

Bacaan Lainnya

“Orang-orang Iran jelas sangat terampil dalam bernegosiasi atau lebih tepatnya sangat terampil dalam tidak bernegosiasi, membiarkan orang-orang Amerika datang dan pergi tanpa hasil apapun,” sindir Merz seperti dilansir cnbcindonesia.com, 03 May 2026 10:45 dicopas dari laman pencarian google.co.id, Minggu (3/5/2026).

Menurut Merz, kebuntuan diplomasi ini menjadi pukulan telak bagi reputasi global AS. Ia juga menyoroti peran Pengawal Revolusi Iran yang dianggap menjadi aktor kunci di balik kerasnya sikap Teheran. “Seluruh bangsa sedang dipermalukan oleh kepemimpinan Iran, terutama oleh kelompok yang disebut Pengawal Revolusi ini,” imbuhnya.

“Dan saya berharap hal ini berakhir secepat mungkin,” demikian Merz yang diketahui, pernyataan Merz muncul setelah Trump membatalkan rencana perjalanan tim negosiator AS ke Islamabad Pakistan untuk melanjutkan pembicaraan tidak langsung dengan Iran.

Padahal, dua pekan sebelumnya, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance telah lebih dulu memimpin delegasi ke Pakistan, namun tidak menghasilkan kemajuan berarti. Di sisi lain, Trump sempat mengklaim posisi AS jauh lebih kuat dibanding Iran.

Ia bahkan menyebut Teheran yang seharusnya mengambil inisiatif untuk membuka komunikasi. “Kami memegang semua kartu. Jika Teheran ingin berbicara, mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.

Namun sinyal berbeda justru datang dari Iran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan, tekanan ekonomi dari AS tidak melemahkan negaranya. Bahkan disebutnya dunia kini mulai melihat kekuatan Iran yang sesungguhnya. “Dunia kini telah menyadari kekuatan sejati Iran. Telah menjadi jelas bahwa Republik Islam Iran adalah sistem yang stabil, solid, dan kuat,” ujar Araghchi.

Di bagian lain Presiden Rusia Vladimir Putin yang selama ini menjadi sekutu Iran turut menyampaikan komitmen Rusia untuk mendukung stabilitas kawasan melalui jalur diplomasi. Putin menekankan pentingnya menjaga kepentingan bersama di tengah meningkatnya ketegangan.

“Rusia akan melakukan segalanya yang melayani kepentingan Iran, kepentingan semua orang di kawasan ini, sehingga perdamaian dapat dicapai sesegera mungkin,” tutur Putin dilansir telisik.id, Rabu, 29 April 2026.

Sementara itu, situasi di kawasan Timur Tengah masih menunjukkan potensi eskalasi. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa opsi militer tetap terbuka sebagai respons terhadap ancaman dari kelompok yang didukung Iran. “Masih ada dua ancaman utama dari Hizbullah: roket 122mm dan drone. Ini menuntut kombinasi aktivitas operasional dan teknologi,” pungkas Netanyahu.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa dinamika konflik di Timur Tengah tidak hanya berlangsung melalui jalur diplomasi, tetapi juga dibayangi kemungkinan peningkatan ketegangan militer di lapangan. (net/cbc/til/gle/smr)

Pos terkait