Real Food dan Terapi Maraton dalam Diabetes

Salah satu menu dalam Real Food. Foto: dokpri

Oleh Joko Intarto *)

Semarak.co – ​Mungkin ada yang bertanya, apa sih sebenarnya real food itu? Sederhananya, real food adalah makanan alami yang minim proses, tanpa tambahan bahan kimia, dan bentuknya masih sangat mirip dengan aslinya di alam. Singkatnya: bukan makanan pabrik, bukan juga makanan instan.

Bacaan Lainnya

​Lalu, apa hubungannya dengan penderita diabetes? Mengonsumsi real food sangat membantu menjaga kadar gula darah agar tetap stabil. Kok bisa? Ya, bisa karena:

  1. ​Kaya serat: Membuat kita kenyang lebih lama.
  2. ​Indeks glikemik lebih rendah: Proses penyerapan oleh tubuh berlangsung perlahan.
  3. ​Bebas “penyusup”: Tidak ada kandungan gula tambahan tersembunyi yang sering ditemukan di makanan kemasan.

​Menariknya, bahan pangan alami ini sangat mudah ditemukan di sekitar kita. Harganya pun ekonomis—bahkan sering kali lebih murah daripada beras. Semuanya kembali lagi ke kemauan kita untuk kembali ke makanan yang “jujur”.

​Menu pagi ini cukup sederhana: tiga potong ubi kuning, dua potong kentang, dan sebutir telur rebus. Kalau dihitung harganya, mungkin lebih murah dibanding standar Makan Bergizi Gratis yang konon mencapai Rp10.000 per porsi itu.

​Namun, sebelum menikmati sajian istimewa ini, saya harus sudah menyelesaikan jogging pagi selama 65 menit dengan jarak tempuh 6,5 kilometer. Aturan main saya dalam soal sarapan tetap konsisten: tidak ada sarapan jika target belum tercapai.

Minimal 5 kilometer, 6.000 langkah, atau durasi olahraga selama 60 menit. Sebagai pelengkap, saya menikmati segelas besar kopi yang diseduh sendiri menggunakan aseupan bambu. Kebiasaan meracik kopi dengan cara tradisional ini sudah saya jalani sejak tahun 2017.

Sederhana, alami, dan kembali ke dasar. Mengonsumsi real food bukan sekadar tren bagi saya, melainkan upaya nyata untuk menjaga agar gula darah tetap di batas aman.

Alhamdulillah, strategi ini terbukti ampuh—hingga hari ini, sudah lebih dari 800 hari saya bertahan tanpa mengonsumsi obat diabetes maupun melakukan suntik insulin. Semua dimulai dari apa yang ada di piring kita.

Terapi Maraton

Setelah mengikuti diskusi di grup penderita ​diabetes beberapa bulan, saya mulai punya kesimpulan sendiri: ​Banyak penderita yang terpenjara bukan karena diabetesnya, melainkan karena cara berpikir yang keliru. Setelah mengamati berbagai diskusi, ada 5 pergeseran mindset yang harus segera kita lakukan agar bisa kembali hidup normal:

​1. Diabetes Bukan “Hukuman Seumur Hidup” alias Tanpa Akhir

​Banyak penderita yang pasrah dan merasa akan bergantung pada obat atau insulin seumur hidup. Faktanya, meski sifatnya permanen, diabetes bisa dikendalikan. Obat bukan tujuan utama.

Dengan perubahan pola makan yang disiplin dan olahraga yang konsisten, banyak rekan kita yang berhasil mencapai kondisi sehat, ditandai oleh gula darah yang tetap stabil tanpa bergantung pada intervensi medis. Alhamdulillah, saya sudah merasakannya selama lebih dari 800 hari bebas obat diabetes maupun suntik insulin.

​2. Minum Obat Bukan Berarti Boleh Makan Sembarangan

​Ini kesalahan fatal: penderita diabetes merasa aman makan apa saja karena sudah minum obat atau suntik insulin. Padahal obat dan insulin hanyalah bantuan darurat. Anggaplah keduanya sebagai “tongkat” untuk membantu Anda berdiri sebelum Anda kuat berjalan sendiri dengan pola hidup sehat. Jika pola makan tidak diubah, dosis obat justru akan terus bertambah.

​3. Mitos “Kurang Nasi, Bikin Loyo”

Pendapat ​ini sering jadi alasan untuk menolak saran dokter. Banyak penderita merasa porsi nasi sekepal setiap kali makan itu “menyiksa” atau membuat badan loyo, karena dianggap terlalu sedikit. Padahal, yang membuat badan loyo bukanlah kekurangan nasi, melainkan gula darah yang tidak stabil.

Tubuh kita butuh nutrisi, bukan sekadar kenyang karbohidrat. Dengan mengurangi porsi nasi dan menambah porsi protein serta sayuran, tubuh justru akan merasa lebih bugar dan ringan, bukan malah lemas. Jangan biarkan lidah mengalahkan logika kesehatan kita.

​4. Menormalkan Bukan Sulap, Butuh Kesabaran

​Diabetes tidak datang dalam semalam; Diabetes adalah hasil dari tumpukan gaya hidup selama bertahun-tahun. Maka, pemulihannya pun tidak bisa instan. Jangan mencari “ramuan ajaib” yang menjanjikan sembuh dalam sekejap.

Belajarlah untuk sabar, step by step, dan yang paling penting: Konsisten. Perjalanan hidup kita masih panjang, jangan terburu-buru hingga merusak prosesnya.

​5. Pakailah Rasio, Jangan Emosi

​Saat panik, kita cenderung emosional dan mengikuti apa kata orang tanpa dasar ilmiah. “Minum rebusan ini,” atau “Makan akar itu.” Berhentilah menjadi kelinci percobaan. Gunakan logika dan percayalah pada diagnosa medis serta saran dokter yang memiliki kajian ilmiah jelas. Jangan korbankan organ tubuh Anda demi janji-janji yang tidak jelas sumbernya.

Teman-teman, mengelola diabetes ibarat lari maraton, bukan sprint. Mari tata kembali niat, perbaiki pola hidup, dan tetap gunakan akal sehat dalam setiap keputusan pengobatan. ​Mari hidup normal dengan semangat dan disiplin yang tinggi! Saya pun seperti itu, pada awalnya. (jto)

*) wartawan

 

Sumber: WAGroup INDOPOS Silaturahmi (postMinggu26/4/2026/jto)

Pos terkait