Wamenekraf Irene: Film Berkualitas Kunci Karya Indonesia Tembus Pasar Global

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar (tengah), bersama Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka (kanan), serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Wamen PPPA), Veronica Tan (kiri), menghadiri preview screening film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang (My Own Last Supper) di XXI Agora Mall, Jakarta, Jumat (17/07/2026).

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) mengapresiasi keberhasilan film ‘Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang’ (My Own Last Supper) yang lolos ke Shanghai International Film Festival (SIFF) 2026.

Semarak.co – Film kolaborasi Matta Cinema Production dan Ruang Basbeth Bercerita ini mengangkat isu dinamika keluarga Tionghoa-Indonesia yang pernah mengalami trauma identitas etnis dengan nuansa harmoni sosial.

Bacaan Lainnya

“Selamat atas pencapaian film Indonesia yang mengangkat kehidupan dari berbagai sisi anak, dewasa, dan orang tua dengan penyajian sinematik yang menarik. film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang memiliki daya saing untuk menjangkau layar internasional,” ungkap Irene Umar, dirilis humas melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Sabtu (18/7/2026).

Senada dengan itu, Wamendukbangga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menilai film tersebut menghadirkan kisah keluarga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus membawa pesan kemanusiaan yang universal sehingga memperkuat daya saing film Indonesia di panggung global.

“Film My Own Last Supper memiliki makna keluarga yang sangat mendalam. Penonton akan diajak mengikuti perjalanan hidup seseorang yang tidak mudah, tetapi harus mampu bertahan. Intinya, film ini akan mengingatkan kita untuk kembali kepada keluarga dan banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik dari dinamika keluarga yang disajikan,” tutur Isyana.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Wisnu Suryaning Adji yang diterbitkan Bentang Pustaka. Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menilai kekuatan cerita film ini mampu menyampaikan nilai-nilai keluarga dan kemanusiaan secara menyentuh.

“Setelah menonton, kita bisa memahami konflik batin dari setiap personal yang ada dalam cerita ini. Ada orang tua yang sudah ditinggal oleh istrinya. Selain itu, bagaimana perasaan anak-anak dalam menghadapi situasi keluarga Tionghoa yang bergejolak,” tambah Veronica Tan.

Produser Film Rencana Besar untuk Mati dengan Tenang Nugroho Dewanto menjelaskan, film tersebut membingkai drama keluarga Tionghoa Indonesia sebagai cerminan kehidupan yang penuh nilai keberagaman dan kebersamaan. Meski mengalami trauma psikologi dan politik, tokoh utamanya mengajak penonton melihat sejarah kemanusiaan di Indonesia.

“Kami merasa penting membuat film ini karena ingin menunjukkan kehidupan keluarga Tionghoa-Indonesia sebagai sesuatu yang normal, hidup berdampingan dengan berbagai latar belakang. Kami berharap film ini menjadi pengingat agar sejarah kelam yang pernah terjadi tidak terulang kembali,” harap Nugroho Dewanto. (hms/smr)

Pos terkait