Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar, mengapresiasi festival NGAYOGJAZZ yang berbasis komunitas. Panggung ekonomi kreatif lokal ini diharapkan Wamen Ekraf bisa menularkan semangat ruang tumbuh kreativitas dan jejaring lintas sektor.
Semarak.co – Hal menarik dari NGAYOGJAZZ yaitu pendekatan acara yang tidak semata mengukur keberhasilan dari aspek komersial, tetapi ada pengalaman, interaksi, hingga dampak ekonomi, sosial budaya, serta lingkungan yang tumbuh secara organik dari masyarakat.
“Ini bisa menjadi contoh festival tahunan yang bisa menginspirasi ekosistem ekonomi kreatif dengan semangat gotong royong,” ujar Wamenekraf saat audiensi bersama NGAYOGJAZZ di kantor Kementerian Ekraf, dirilis humas melalui WAGroup Kemenekraf siaran Pers, Kamis (11/6/2026).
Bertumbuh sejak 2007, NGAYOGJAZZ semakin dikenal sebagai kegiatan berbasis komunitas di desa-desa Yogyakarta. Tahun ini, NGAYOGJAZZ 2026 siap menghadirkan pendekatan yang tak biasa dalam penyelenggaraan festival musik yaitu kolaborasi lintas komunitas.
Selain berorientasi sebagai panggung seni pertunjukan, festival ini akan menciptakan ruang pertemuan antara musisi, masyarakat, dan berbagai pejuang subsektor ekraf.
“Kita perlu mempertemukan talenta kreatif dengan ruang, festival, atau panggung yang tersedia. Banyak komunitas dan musisi yang membutuhkan panggung, sementara di sisi lain ada fasilitas yang belum dimanfaatkan maksimal,” ungkapnya.
Festival Director NGAYOGJAZZ Ajie Wartono menyampaikan bahwa festival musik ini mengedepankan keterlibatan masyarakat sekaligus fleksibilitas ruang kreasi di desa-desa Yogyakarta yang membangun pertemuan lintas budaya dan lintas generasi.
Selain menargetkan lebih dari 40 UMKM, NGAYOGJAZZ juga punya target 30.000 pengunjung, baik domestik maupun mancanegara. “Sejak dahulu, kami menyebut NGAYOGJAZZ bukan sekadar festival musik, tetapi suatu ‘peristiwa seni dan budaya’ yang mendorong eksperimentasi musisi dan interaksi berbagai elemen masyarakat,” jelasnya.
Selain menghadirkan musik, NGAYOGJAZZ juga mendorong berbagai aktivitas turunan seperti pelatihan membatik atau tari, workshop profesi kreatif, kolaborasi lintas komunitas, hingga praktik penyelenggaraan festival musik yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan manfaat ekonomi lokal.
Masyarakat desa setempat memiliki kesempatan untuk memperoleh pendapatan langsung melalui penjualan makanan, oleh-oleh khas desa, dan pengelolaan parkir bagi para pengunjung. Seluruh hasil dari bazar dan parkir sepenuhnya menjadi milik warga, tanpa ada potongan yang diambil oleh pihak NGAYOGJAZZ. (hms/smr)





