Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menilai film Na Willa menunjukkan kuatnya potensi cerita lokal sekaligus membuka ruang lebih luas bagi karya film anak dalam industri perfilman Indonesia.
Semarak.co – Wamenekraf saat menghadiri konferensi pers film Na Willa di Epicentrum XXI Jakarta, menyatakan apresiasi kepada Visinema Studio, para kreator, para pemain, serta seluruh tim produksi yang menghadirkan film anak dengan pesan keluarga yang kuat.
“Film adalah salah satu cara memahami dunia. Seringkali cerita yang paling jujur justru datang dari sudut pandang anak-anak. Melalui Na Willa, kita diajak melihat kembali dunia dengan mata lebih terbuka, lebih jujur, dan penuh imajinasi seperti anak-anak,” ujar Irene. dirilis humas melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Rabu (11/3/2026).
Wamenekraf juga menilai film ini menghadirkan gambaran tentang keberagaman yang hidup secara alami dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Dalam cerita Na Willa, ada kehangatan dalam keberagaman.
Perbedaan bukan sesuatu yang rumit, tetapi sesuatu yang hidup secara alami dalam keluarga, dalam percakapan, dan dalam cara saling memahami satu sama lain. Bagi saya, inilah potret Indonesia yang sesungguhnya.
Dari perspektif ekonomi kreatif, karya seperti Na Willa menunjukkan bagaimana ide, imajinasi, dan karya intelektual para kreator dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus bagian dari budaya populer masyarakat.
Cerita yang kuat juga berpotensi berkembang menjadi intellectual property (IP) yang dapat hidup dalam berbagai bentuk karya lainnya, mulai dari film, buku, hingga produk kreatif seperti permainan maupun merchandise.
Kemenekraf terus mendorong lahirnya karya-karya kreatif berbasis cerita lokal yang dapat berkembang lintas medium melalui kolaborasi lintas sektor. Penguatan ekosistem cerita dan pengembangan IP kreatif ini menjadi bagian dari upaya menjadikan ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth bagi Indonesia.
Irene menilai Na Willa berpotensi menjadi pilihan tontonan keluarga Indonesia, khususnya menjelang libur Lebaran yang identik dengan momen kebersamaan dan suasana yang nyaman bersama keluarga.
“Saya berharap Na Willa dapat diterima dengan hangat oleh masyarakat Indonesia, oleh anak-anak maupun keluarga yang ingin merasakan kembali kehangatan dan kebahagiaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Semoga film ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi cerita yang tinggal di hati para penontonnya,” ujar Irene.
Film Na Willa dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 Maret 2026. Film keluarga ini mengisahkan keseharian seorang gadis berusia enam tahun di Surabaya pada dekade 1960-an yang tumbuh dalam keluarga multikultural dengan ibu berasal dari Nusa Tenggara Timur dan ayah keturunan Tionghoa.
Melalui sudut pandang anak, film ini menghadirkan cerita keseharian keluarga yang hangat dengan nilai keberagaman. Kehadiran film ini menunjukkan bagaimana cerita lokal dapat berkembang menjadi karya kreatif yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan nilai budaya serta memperkaya ekosistem industri kreatif Indonesia.
Film keluarga seperti ini diharapkan turut meramaikan aktivitas ekonomi kreatif selama periode Ramadan dan Lebaran, sekaligus menghadirkan ruang kebersamaan yang hangat bagi masyarakat. (hms/smr)





