Usung Isu Kesetaraan, Wamenekraf Irene Apresiasi Konsep Pameran Komunitas Seni ARTPORA

Wamenekraf) Irene Umar menerima audiensi ARTPORA,  membahas rencana penyelenggaraan Biennale MARWAH, sebuah pameran seni rupa yang berfokus pada karya perupa perempuan Indonesia.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menerima audiensi ARTPORA,  membahas rencana penyelenggaraan Biennale MARWAH, sebuah pameran seni rupa yang berfokus pada karya perupa perempuan Indonesia.

Semarak.co – Wamen Irene Umar mengapresiasi konsep pameran yang dihadirkan komunitas seni ARTPORA tersebut. ARTPORA merupakan wadah kolektif bagi seniman di Jakarta yang berupaya memperkuat identitas kota melalui praktik seni rupa.

Bacaan Lainnya

“Saya senang dengan spiritual aspect dalam konsep Biennale MARWAH. Arti ‘Marwah’ dalam Bahasa Indonesia seperti ada sentuhan spiritualisme-nya, ada sentuhan Indonesianya, ada sentuhan authenticity-nya dan expression-nya dari para wanita ini,” ujarnya, dirilis humas melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Kamis (12/3/2026).

Melalui inisiatif Biennale MARWAH, komunitas ini ingin menghadirkan ruang dialog kreatif bagi para perempuan perupa sekaligus menegaskan kontribusi mereka dalam perkembangan seni kontemporer Indonesia.

Wamenekraf turut memuji pameran yang memadukan nilai spiritual, identitas kebudayaan, serta ekspresi personal para seniman tersebut. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi kekuatan penting dalam membangun narasi seni yang autentik.

Biennale MARWAH dirancang sebagai pameran yang menghadirkan karya seniman perempuan Indonesia dengan menyoroti isu identitas, kesetaraan, dan keberanian dalam menyuarakan pengalaman hidup melalui medium seni. Kegiatan ini akan berlangsung pada 21 Agustus hingga 4 September 2026 di Pos Bloc Jakarta.

Kurator pameran Dolorosa Sinaga menjelaskan, MARWAH tidak hanya berbicara mengenai perempuan, tetapi juga tentang nilai kemanusiaan secara lebih luas. Sekitar 50 seniman perempuan akan terlibat dalam pameran bertema Reposisi, yang menekankan upaya menempatkan kembali perspektif perempuan dalam ruang sosial dan kebudayaan.

“Pameran ini semacam pernyataan untuk tidak lagi menjadi pameran tahunan, tetapi berkembang menjadi Biennale MARWAH, yakni biennale karya perempuan yang mungkin menjadi salah satu yang pertama di dunia,” ujarnya. (hms/smr)

Pos terkait