Ustadz Abdul Somad Ingatkan Pemilu 2024 Jangan Sampulnya Demokrasi, tapi Isinya Monarki

Ustadz Abdul Somad. Foto: suaranasional.com

Ustadz Abdul Somad (UAS) menyampaikan penjelasan tentang bagaimana umat, terutama Islam menjaga suasana hati menjelang pemilihan umum (Pemilu) 2024. Ini disampaikan UAS dalam tayangan video di kanal Youtube Ustadz Abdul Somad Official dengan judul Ekslusif | Dialog Akal Sehat | Prof Rocky Gerung & Ustadz Abdul Somad.

semarak.co-Tayangan tersebut juga menampilkan pengamat politik Rocky Gerung dan moderator Dikki Akhmar. Dalam kesempatan itu, UAS menyinggung soal Indonesia yang merupakan negara demokrasi. UAS melanjutkan, biarkanlah orang bebas memilih pilihannya.

Bacaan Lainnya

“Sekarang kita mesti terbuka mata, kita tinggal di negara demokrasi. Dalam dunia demokrasi, biarkanlah orang memilih. Orang punya pilihan. Jangan digiring dengan adanya kekuasaan, endorse mengendorse, dan lain sebagainya,” kata Ustadz Abdul Somad memulai pemaparannya dilansir gentapos.com/Juni 08, 2023.

Dia juga menekankan pentingnya menyadarkan warga bangsa ini bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. “Jangan sampulnya demokrasi, tapi isinya monarki. Apalagi, kalau sampai sampulnya demokrasi isinya anarki. Kita teriak tidak boleh khilafah, karena bertentangan dengan demokrasi, tetapi perbuatan kita sendiri sebetulnya ada bau-bau monarki,” ujarnya.

Misalnya, UAS melanjutkan, dengan melakukan segala macam usaha agar ada keberlanjutan kekuasaan. “Dari mulai penambahan waktu yang telah ditetapkan oleh demokrasi, kemudian tidak bisa melakukan itu, lalu dilanjutkan oleh orang berbeda tetapi signal-nya tetap sama,” kata UAS dari artikel asli republika.co.di.

Karena itu, UAS mengatakan, perlu ada penyadaran terhadap umat ini sehingga di sinilah pentingnya akal sebagai alat untuk berpikir, menemukan kebenaran dan kejernihan. Menurut UAS, masyarakat yang tidak punya kepentingan, insya Allah pikirannya jernih. Masyarakat pulalah yang memberikan hak suara.

“Suara terbesar dalam demokrasi itu ada di kedaulatan rakyat. Rakyat yang berdaulat. Silakan saja orang yang punya kekuasaan, yang berharta, menunjukkan kekuasaannya. Tetapi ingat, periode lalu itu 32 tahun, dengan segala perangkat kekuasaan yang ada, toh pada akhirnya tumbang juga karena masih ada orang-orang berakal, orang-orang cerdas,” ujarnya.

UAS juga mengutip surat al-Mulk ayat 10, yang berisi tentang ganjaran bagi orang-orang yang tidak berpikir. “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala” (QS al-Mulk ayat 10). (net/gen/rep/smr)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *