Usai Wajib Militer, BTS Luncurkan Arirang

Penantian panjang selama lebih dari tiga tahun, dunia musik global kembali diguncang oleh kabar kembalinya sang legenda K-pop. BTS. Secara resmi, grup musik Korea mengumumkan perilisan album studio kelima mereka yang bertitel “Arirang” pada 20 Maret 2026.

Semarak.co – Album “Arirang”, selain menampilkan koleksi tembang anyar, juga sebuah pernyataan emosional dan budaya yang menandai babak baru bagi RM, Jin, SUGA, j-hope, Jimin, V dan Jung Kook setelah menyelesaikan masa wajib militer mereka.

Pemilihan kata “Arirang” sebagai judul album memiliki resonansi yang sangat kuat. Dalam budaya Korea, “Arirang” seperti dilansir Jernih.co pada 6/3/2026, adalah lagu rakyat tradisional yang dianggap sebagai “lagu kebangsaan tidak resmi”.

Asal kata atau nama “Arirang” ini berasal dari gabungan kata kuno/klasik, yakni “ari” yang berarti indah atau bisa dimaknai kerinduan yang mendalam dan “rang” yang boleh dibilang dimaknai sebagai kekasih atau orang yang disayangi.

Bagi BTS, “Arirang” melambangkan perjalanan hidup yang penuh dengan rintangan, perpisahan, namun diakhiri dengan harapan dan reuni. Album ini menjadi jembatan yang menghubungkan akar budaya mereka di Korea dengan status mereka sebagai ikon global.

Melalui judul yang bermakna kekasih nan indah ini, grup musik BTS ingin menyampaikan bahwa meski mereka telah menjelajahi puncak dunia, hati dan identitas mereka tetap tertanam kuat pada jati diri mereka sebagai musisi Korea.

Apa yang membuat “Arirang” istimewa adalah keterlibatan penuh para anggotanya dalam setiap proses kreativitas. Jika album sebelumnya seperti “Map of the Soul: 7” banyak bicara tentang introspeksi diri dan BE tentang pandemi, “Arirang” lebih fokus pada remanifestasi identitas.

Ini adalah album pertama mereka sejak “Proof” (2022) dan merupakan proyek perayaan 10 tahun seri legendaris The Most Beautiful Moment in Life (HYYH). Perbedaan mencolok lainnya terletak pada keberanian sonik mereka.

Dalam album ini, BTS berkolaborasi dengan produser kelas dunia seperti Diplo, Kevin Parker (Tame Impala), Ryan Tedder dan Mike WiLL Made-It. Perpaduan antara elemen tradisional Korea dengan sentuhan pop alternatif, hip-hop modern, dan psikedelik.

Perpaduan itu menciptakan tekstur musik yang lebih matang dan eksperimental dibanding karya-karya sebelumnya. Lagu andalannya, “SWIM”, digambarkan sebagai trek pop alternatif yang megah. Ditulis oleh RM, lagu ini menganalogikan kehidupan seperti berenang melawan arus di samudra luas.

Pesan yang tertanam dalam tembang ini jelas: ketekunan dan keberanian untuk terus maju meski badai menghadang. Rintangan apapun yang menerpa mereka, tak akan berarti. Dan ini berbeda dengan album sebelumnya yang sering digarap di studio HYBE di Seoul.

Atau saat mereka sedang menjalani sebuah tur, untuk “Arirang”, ketujuh personel grup musik ini kekeuh memutuskan untuk melakukan retret kreatif selama sebulan di sebuah vila terpencil di pegunungan Provinsi Gangwon.

Tanpa manajer, staf produksi yang berlebihan dan dengan akses internet terbatas, mereka masak sendiri dan menghabiskan malam dengan berdiskusi di depan api unggun. Suasana “kembali ke dasar” inilah melahirkan kejujuran lirik dalam lagu-lagu seperti “NORMAL” dan “they don’t know ’bout us”.

Keunikan teknis dalam album ini adalah penggunaan Gugak (musik tradisional Korea) yang sangat eksperimental. Mereka tidak hanya menggunakan sampel digital, tetapi mengundang maestro musik tradisional untuk memainkan instrumennya.

Yaitu gayageum atau terkenal dengan kecapi Korea, peranti musik tradisi yang digunakan dalam paduan menggunakan distorsi gitar elektrik yang melengking untuk mengeluarkan sekaligus menciptakan suara “rock-tradisional”.

Kemudian piri (suling bambu) dimana digunakan sebagai hook utama dalam lagu andalan mereka, “SWIM”. Tak ketinggalan suara alam, SUGA kabarnya merekam suara angin di puncak gunung dan aliran air sungai dekat tempat mereka menginap untuk dijadikan latar atmosferik di beberapa lagu B-side.

Ada satu fakta menarik yang sempat dibocorkan oleh Jimin dalam siaran langsungnya: beberapa vokal latar (backing vocals) dalam album ini tidak direkam di studio kedap suara. Mereka sengaja merekam suara saat mereka sedang tertawa, mengobrol dan bernyanyi bersama di ruang terbuka.

Tujuannya adalah untuk menangkap “suara kehidupan” yang orisinal (asli), murni dan otentik serta jernih dan jujur, sehingga para pendengar diharapkan bisa merasakan seolah-olah sedang berada di tengah-tengah mereka.

Untuk pertama kalinya, BTS memutuskan seluruh foto konsep dalam buku album (photobook) dilakukan dengan minimal make-up dan pencahayaan alami. Mereka ingin menunjukkan sisi “manusia” mereka yang telah melewati masa pendewasaan selama wajib militer.

Pakaian atau kostum yang dikenakan mereka pun banyak yang berasal dari koleksi pribadi mereka sendiri, bukan hanya brand mewah sponsor, untuk memerkuat kesan otentik. Yang paling unik adalah keterlibatan penggemar (ARMY) secara tidak langsung.

Melalui kampanye rahasia di aplikasi Weverse beberapa bulan sebelum album dirilis, BTS meminta penggemar mengirimkan rekaman suara saat menyanyikan melodi sederhana. Rekaman ribuan suara ARMY dari seluruh dunia ini kemudian disatukan menjadi paduan suara megah (choir) di lagu penutup, “Into the Sun”.

Ini adalah simbol bahwa meskipun para personel grup BTS ini sempat terpisah dan tercerai berai, “kekuatan” ARMY selalu ada di dalam musik mereka. Strategi perilisan album ini terbilang sangat unik dan berbeda dari biasanya.

Salah satu kejutan terbesar adalah pengiriman kartu pos tulisan tangan langsung ke rumah para penggemar yang berstatus Gold Member pada malam tahun baru 2026 lalu untuk membocorkan tanggal comeback mereka.

Yang patut dicatat, BTS akan menggelar konser dengan tajuk “BTS The Comeback Live | Arirang” di Gwanghwamun Square, Seoul, Korea Selatan, pada tanggal 21 Maret 2026. Menariknya, acara ini akan disiarkan secara eksklusif dan global melalui platform streaming digital Netflix.

Ini menandai kolaborasi bersejarah antara industri K-pop dan platform streaming raksasa tersebut. Untuk kolektor fisik, album ini hadir dalam 16 versi berbeda, termasuk piringan hitam (vinyl) khusus untuk masing-masing anggota, yang memertegas sisi eksklusivitas karya ini.

Secara keseluruhan, “Arirang” adalah sebuah mahakarya yang membuktikan bahwa BTS tidak hanya kembali untuk merebut tahta, tetapi juga untuk merayakan kemanusiaan, budaya dan cinta yang tak tergoyahkan bersama penggemar mereka. (net/jc/kim/smr)

Pos terkait