ToT Green Tourism MSMEs 2026, Kemenpar Perkuat Kapasitas Fasilitator Pariwisata Hijau Berbasis Masyarakat

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Martini M. Paham, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (3/6/2026) (foto ilustrasi dok. Kemenpar)

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Training of Trainers (ToT) Green Tourism MSMEs 2026, sebagai upaya memperkuat kapasitas pelaku usaha pariwisata berbasis masyarakat dalam menerapkan praktik pariwisata berkelanjutan di Malang,  pada 18–24 Mei 2026.

Semarak.co – Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar Martini M Paham, mengatakan program Green Tourism MSMEs dirancang untuk melahirkan fasilitator lokal yang mampu memperluas penerapan praktik pariwisata berkelanjutan di berbagai destinasi wisata.

Bacaan Lainnya

“Melalui program Green Tourism MSMEs, kami ingin mendorong lahirnya fasilitator lokal yang mampu memperluas praktik pariwisata berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat di destinasi wisata,” kata Martini, dirilis humas melalui WAGroup Siaran Pers Kemenpar2, Rabu (3/6/2026).

Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Masyarakat Kemenpar Ika Kusuma Permana Sari menambahkan, program ini dirancang untuk menyiapkan peserta agar mampu melakukan pendampingan secara langsung kepada masyarakat dan pelaku usaha di lapangan.

“Melalui ToT Green Tourism MSMEs, peserta tidak hanya dibekali pemahaman teoritis mengenai pariwisata hijau, tetapi juga keterampilan fasilitasi, komunikasi, dan metode pendampingan yang aplikatif. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh dapat langsung diterapkan saat replikasi pelatihan di destinasi masing-masing,” kata Ika.

Program ini mulai menunjukkan dampak nyata terhadap penguatan kapasitas usaha masyarakat. Perubahan yang terlihat antara lain penerapan pencatatan keuangan yang lebih baik, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, hingga penerapan praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.

Salah satu peserta, Dwi Kuntari, pemilik usaha Jamu Deka, merasakan langsung manfaat dari pendampingan yang diberikan. “Keuntungan usaha saya meningkat drastis dari yang awalnya hanya sekitar 1–2% menjadi 17% setelah memperkuat tata kelola dan sistem pencatatan keuangan usaha,” ujarnya.

Untuk memperluas dampak tersebut, Kementerian Pariwisata melibatkan 15 peserta terpilih yang berasal dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) dan tiga Destinasi Pariwisata Regeneratif (DPR).

Para peserta dipilih melalui proses kurasi yang mempertimbangkan pengalaman fasilitasi, rekam jejak pendampingan, keterlibatan dalam pengembangan pariwisata daerah, serta komitmen untuk melakukan replikasi pelatihan di wilayah masing-masing.

Selama tujuh hari pelatihan intensif, peserta mendapatkan pembekalan komprehensif yang mencakup konsep green tourism dan pengembangan usaha berkelanjutan, literasi keuangan dan strategi pemasaran, teknik fasilitasi partisipatif, serta praktik microteaching dan simulasi pelatihan lapangan.

Selain meningkatkan kapasitas individu, kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi bagi para fasilitator dari berbagai destinasi untuk saling berbagi pengalaman, pengetahuan, dan praktik-praktik terbaik dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan berbasis masyarakat.

Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta akan mengikuti proses asesmen yang menilai performa selama pelatihan, kemampuan fasilitasi, penguasaan materi, tingkat partisipasi, serta hasil microteaching. Peserta dengan performa terbaik akan dipertimbangkan terlibat Training of Beneficiaries (ToB) berikutnya. (hms/smr)

Pos terkait