Serangan drone Israel di Khan Yunis, kembali memakan korban. Serangan brutal Zionis Israel itu sedikitnya telah menewaskan 6 warga Palestina. Bahkan Israel sering menargetkan dan membunuh polisi Palestina di Gaza meskipun ada gencatan senjata yang sudah diberlakukan.
Semarak.co – Setidaknya enam warga Palestina, termasuk petugas polisi dan warga sipil, gugur dalam dua serangan drone oleh pasukan militer negara yahudi Israel di area Al-Mawasi, sebelah barat Khan Yunis, pada Ahad dini hari (29/3/2026).
Serangan yang menyasar pos pemeriksaan polisi tersebut memicu kepanikan luar biasa di kalangan penduduk yang sedang beristirahat. Saksi mata menggambarkan suasana mencekam saat ledakan keras mengguncang pemukiman sebelum fajar.
Fatima Abu Salem, seorang warga lokal, menyatakan kepada The New Arab, anak-anak terlalu ketakutan untuk tidur setelah ledakan tersebut. “Pembunuhan para pemuda ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga mereka, tapi bagi seluruh komunitas. Mereka berjaga untuk keamanan di sini,” ujarnya.
Serangan ini, seperti dilansir Arrahmah.id (30/3/2026), melanjutkan pola serangan Israel terhadap institusi kepolisian dan keamanan Palestina di Gaza, yang dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan penghentian permusuhan.
Direktur Rumah Sakit Syifa, Mohammed Abu Selmeia, memeringatkan, fasilitas medis telah mencapai titik nadir. Kurangnya pasokan makanan dan medis akibat pembatasan bantuan membuat rumah sakit kesulitan menangani gelombang korban luka yang terus berdatangan.
Juru bicara Kepresidenan Palestina, Nabil Abu Rudeineh, mengungkapkan bahwa data mengejutkan sejak gencatan senjata dideklarasikan pada bulan Oktober 2025, operasi militer Israel telah menewaskan sedikitnya 692 warga Palestina.
Selain di Gaza, kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat dilaporkan terus meningkat di bawah perlindungan tentara, yang menurut otoritas Palestina dapat membuat segala upaya perdamaian di kawasan menjadi sia-sia.
Ketua Dewan Nasional Palestina, Rawhi Fattouh, menyebut serangan udara ini sebagai kejahatan perang yang secara sengaja menargetkan warga sipil dan menghancurkan properti mereka di tengah perjanjian penghentian permusuhan.
Insiden ini menunjukkan betapa rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang ada. Dengan jumlah korban yang terus bertambah mencapai hampir 700 jiwa sejak “damai” dideklarasikan, tekanan terhadap komunitas internasional dan AS untuk bertindak nyata semakin menguat.
Tanpa adanya koridor bantuan kemanusiaan yang stabil dari negara-nagara donor, wilayah dan warga Gaza, negara Palestina tidak hanya terancam oleh ledakan bom, tetapi juga oleh kelaparan dan kolapsnya sistem kesehatan secara total. (net/aid/tna/kim/smr)






