TAMASYA di KERABAT Seri 17, Kemendukbangga Gelar Kelas Pengasuhan Anak Berkebutuhan Khusus

Kemendukbangga melalui TAMASYA di KERABAT Seri 17 Tahun 2026, menggelar kelas pengasuhan daring “Stimulasi Dini untuk Anak Berkebutuhan Khusus: Langkah Kecil, Dampak Besar menuju Dunia Inklusif”.

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui Taman Asuh Sayang Anak di Kelas Orang Tua Hebat (TAMASYA di KERABAT) Seri 17 Tahun 2026, menggelar kelas pengasuhan daring “Stimulasi Dini untuk Anak Berkebutuhan Khusus: Langkah Kecil, Dampak Besar menuju Dunia Inklusif”.

Semarak.co – Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga Nopian Andusti menyatakan, Program TAMASYA di KERABAT merupakan salah satu upaya Kemendukbangga /BKKBN dalam memperkuat kapasitas keluarga untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Bacaan Lainnya

“Melalui kelas pengasuhan ini, peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pengasuhan yang responsif, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Senin sore (22/6/2026).

Nopian menegaskan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.  “Tugas kita bukan sekadar menerima keberadaan anak berkebutuhan khusus, tetapi juga memastikan mereka mendapatkan hak yang sama untuk tumbuh, belajar, bermain, dan berkembang,” ujarnya.

Ketua UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Fitri Hartanto menjelaskan pentingnya periode seribu hari pertama kehidupan sebagai masa yang sangat menentukan perkembangan anak. Pada periode tersebut, pertumbuhan otak berlangsung sangat cepat sehingga membutuhkan stimulasi yang tepat dan berkelanjutan.

Menurut Dokter Fitri, dua tahun pertama kehidupan merupakan fase kritis yang harus dimanfaatkan secara optimal. Dia juga mengingatkan bahwa stimulasi tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit.

“Interaksi sederhana seperti mengajak anak berbicara, memberi kesempatan bereksplorasi, mengajarkan perilaku yang benar, serta memberikan apresiasi saat anak berhasil melakukan sesuatu merupakan langkah kecil yang dapat memberikan dampak besar bagi tumbuh kembang anak,” tambahnya.

Ia juga menjelaskan frame work pola layanan anak dengan disabilitas. Pertama, dalam upaya mencegah impairment (preventif primer): mencegah terjadinya mental retardasi dengan memenuhi kebutuhan dasar anak (Asuh,Asih, Asah), memperbaiki maternal dan perinatal care, dan Genetika Conselling.

Kedua, minimalisasi disability (preventif sekunder): mencegah impairments yang sudah terjadi agar tidak menjadi permanen dan mengurangi terjadinya disabilities misalnya identifikasi anak-anak dengan impairments. Terakhir, minimalisasi handicaps (preventif tersier): mencegah terjadinya handicaps yang lebih berat. (hms/smr)

Pos terkait