Sejumlah orang melakukan aksi taekwondo saat memprotes penutupan gedung olahraga, di tengah wabah penyakit virus corona (Covid-19), di lapangan San Jaume, Barcelona, Spanyol, Senin (27/7/2020). Foto: internet

Spanyol mencatat jumlah kasus positif Covid-19 sebanyak 31.428 tambahan sejak Jumat (18/9/2020), sehingga menambah jumlah kumulatif menjadi 671.468 kasus

semarak.co– Data Kementerian Kesehatan Spanyol menyebut, jumlah korban meninggal akibat Covid-19 di negara tersebut mencapai 30.663. Ini naik dari 30.495 pada Jumat (18/9/2020), kata kementerian terkait, pada Senin (21/9/2020) seperti dilansir Reuters.

Spanyol melaporkan jumlah kasus Covid-19 tertinggi di Eropa barat. Otoritas regional telah menginstruksikan penguncian parsial mulai Senin di sejumlah daerah Madrid, di mana penyebaran kasus Covid-19 cepat meluas. Namun, penguncian parsial yang bertujuan untuk memutus rantai penyebaran virus corona menuai aksi protes.

Ibu kota Spanyol menyumbang sekitar sepertiga dari jumlah kasus Covid-19 negara tersebut. Pandemi di Spanyol mengakibatkan sekolah-sekolah ditutup lebih dari enam bulan. Pekan pertama September sebanyak 28.600 sekolah di Spanyol dibuka.

Namun beberapa pekan kemudian beberapa guru di  56 sekolah dinyatakan terpapar corona dan sejumlah sekolah ditutup kembali. Spanyol membuka kembali sekolah dengan menerapkan jaga jarak antarsiswa di ruang kelas, mereka diwajibkan mengenakan masker selama di sekolah.

Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson akan meminta rakyat Inggris untuk bekerja dari rumah dan memberlakukan pembatasan baru kembali di pub, bar, dan restoran dalam upaya untuk mengatasi gelombang kedua wabah virus corona yang meningkat dengan cepat.

BACA JUGA :  Kecam Kekerasan atas Muslim India, Menag: Umat Agar Kedepankan Toleransi Beragama

Dalam pidatonya di parlemen pada 1130 GMT dan kemudian kepada publik pada 1900 GMT, Johnson mengatakan tidak akan melakukan penguncian penuh skala nasional seperti yang dia terapkan pada Maret 2020.

“Kami tahu ini tidak akan mudah, tapi kami harus mengambil tindakan lebih lanjut untuk mengendalikan kemunculan kembali kasus virus dan melindungi NHS,” kata Johnson, menurut kutipan ucapannya yang didistribusikan kantornya di Downing Street Inggris, seperti dilansir Reuters, Selasa (22/9/2020).

Langkah-langkah itu diambil setelah petugas medis senior memperingatkan pada Senin (21/9/2020) bahwa Inggris menghadapi tingkat kematian yang meningkat secara eksponensial dalam beberapa minggu mendatang kecuali jika tindakan segera diambil.

Kasus baru Covid-19 meningkat setidaknya 6.000 per hari di Inggris, menurut data lama pekan lalu, sementara itu rujukan ke rumah sakit berlipat ganda setiap delapan hari, dan sistem pengujian mengalami tekanan. Peraturan baru akan membatasi sektor jasa hanya untuk layanan meja, berdasarkan hukum.

Hanya beberapa minggu setelah mendesak orang untuk mulai kembali bekerja, Johnson akan menyarankan mereka untuk bekerja dari rumah jika mereka bisa. Dia juga akan meminta semua pub, bar, restoran, dan layanan jasa lainnya di seluruh Inggris untuk mulai tutup pada pukul 10 malam. mulai dari Kamis (24/9/2020).

BACA JUGA :  Bukan Superman, Tapi Superteam yang Diperlukan untuk Bangun Budaya Integriras

Menteri untuk Kantor Kabinet Michael Gove mengatakan, salah satu hal yang akan ditekankan adalah bahwa jika memungkinkan bagi orang untuk bekerja dari rumah. “Kami akan mendorong mereka untuk melakukannya. Akan ada pergeseran penekanan,” kata Gove kepada Sky News, Selasa (23/9/2020).

Sementara jutaan orang di Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara sudah berada di bawah sejumlah bentuk pembatasan, Johnson diperkirakan tidak akan mengumumkan penguncian sepenuhnya seperti yang terjadi pada Maret 2020.

Inggris akan mengalami tingkat kematian akibat Covid-19 yang meningkat secara eksponensial kecuali jika pemerintah segera bertindak, kata Chris Whitty, kepala medis pemerintah, dan Patrick Vallance, kepala penasihat ilmiahnya.

Inggris sudah mencatat jumlah kematian resmi COVID-19 terbesar di Eropa – dan terbesar kelima di dunia – di saat negara itu berusaha memulihkan ekonominya.

Gove, salah satu menteri paling senior di kabinet Johnson mengatakan ada banyak jenis pekerjaan yang tidak dapat dilakukan di rumah, mulai dari sektor manufaktur dan konstruksi hingga ritel.

BACA JUGA :  Keamanan Seperti Terancam, Mabes Polri Kerahkan Brimob dari Dua Polda ke Jakarta

“Kita perlu menyeimbangkan, antara, kebutuhan untuk memastikan bahwa orang dapat terus bekerja, dan bahkan yang penting – terus bersekolah dan mendapatkan manfaat dari pendidikan, dengan kebutuhan mengambil langkah untuk mencoba mengurangi virus, itulah sebabnya jika kita dapat membatasi, atau dengan tepat menahan, kontak sosial, itulah yang kami coba lakukan,” katanya.

Penutupan kedua dimulai, tulis tajuk halaman depan Daily Telegraph sementara Daily Mail menulis, Inggris dipaksa bergerak mundur. Saham grup pub dan restoran yang terdaftar di Inggris turun tajam pada Senin (21/9/2020) untuk mengantisipasi langkah tersebut.

Meskipun tidak ada kebijakan yang konsisten secara nasional, langkah tersebut akan memajukan waktu penutupan pub dan restauran setidaknya satu jam untuk sebagian besar wilayah.

Walikota London Sadiq Khan mengatakan dia telah setuju dengan para pemimpin dewan lokal dan ahli kesehatan masyarakat tentang pembatasan baru Covid-19 yang akan diberlakukan oleh pemerintah pusat, dalam upaya untuk membendung wabah di ibu kota. (net/smr)

LEAVE A REPLY