logo pwi. foto: internet

Anggota Dewan Pers dari unsur pemimpin perusahaan pers Ahmad Djauhar mengatakan wartawan atau pers bukanlah tukang ketik yang hanya memindahkan omongan orang dari bahasa lisan menjadi tulis tanpa melalui proses verifikasi.

semarak.co -Djauhar mengatakan itu, saat menjadi pembicara dalam edukasi dan media gathering Kalimantan dan Sulawesi 2019mengatakan, verifikasi merupakan tugas yang wajib dilakukan oleh wartawan saat melakukan tugas jurnalistik.

“Sangat memprihatinan, bila ada media mainstrem justru mengambil dan membuat berita dari media sosial dan kurang menggali isu. Tidak menutup kemungkinan, pembaca akan bilang, ngapain membaca berita di koran atau media online, kalau beritanya mengambil di media sosial,” kata Djauhar di Makassar, 8-9 Oktober 2019.

Kondisi tersebut, kata dia, justru akan merugikan media mainstrem, karena tidak menutup kemungkinan, pembacanya pada akhirya meninggalkan media, karena merasa cukup dengan keberadaan media sosial.

Wartawan yang banyak memanfaatkan informasi dari media sosial tanpa melakukan verifikasi, kata dia, tidak menutup kemungkinan akan mudah terjebak dalam hoaks. Namun demikian, tambah dia, media sosial juga sangat penting dan masih diperlukan dalam perkembangan digital saat ini.

Hal yang sama juga disampaikan Pemred Media Indonesia Usman Kansong yang mengatakan, yang membedakan media sosial dengan media mainstrem adalah upaya cek ricek sedangkan media sosial adalah konten.

Usman juga mengungkapkan, akibat terlalu sering mengambil informasi dari media sosial, juga mengakibatkan media berkurang kewibawaannya. “Bagi wartawan cek ricek adalah hal utama yang harus dilakukan, sedangkan media sosial biasanya mengandalkan konten,” katanya.

Edukasi dan Media Gathering tentang peran media dalam membangun opini publik yang positif bagi industri Hulu Migas dan peningkatan peran media online dalam mendukung kegiatan hulu tersebut, didukung belasan Kontraktor-Kontraktor Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di wilayah Kalimantan dan Sulawesi.

Acara yang diikuti 46 wartawan dari berbagai media di Kalimantan dan Sulawesi itu, dilaksanakan selama dua hari di dua tempat yaitu Makasar dan Gowa pada 8-9 Oktober 2019.

Pada acara tersebut juga menghadirkan nara sumber antara lain Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo Wibowo Satria yang menyampaikan tentang seni mengelola media sosial dan Pemred Media Indonesia Usman Kansong untuk menyampaikan materi pada sesi pertama.

Kepala Perwakilan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Wilayah Kalimantan dan Sulawesi Syaiffudin mengatakan keberadaan media penting untuk membangun opini positif terhadap berbagai program pengembangan industri Migas nasional.

Menurut Syaifuddin dalam pembukaan Edukasi dan Media Gathering Kalimantan dan Sulawesi 2019, tujuan industri sudah pasti baik, sehingga keberadaan media untuk menyebarkan berbagai informasi terkait ekplorasi dan eksploitasi migas yang perlu diketahui masyarakat sangat diperlukan.

“Keberadaan media untuk menyampaikan berbagai program guna memberikan pelayanan kepada masyarakat sangat penting,” katanya dalam edukasi tentang peran media dalam membangun opini publik yang positif bagi industri Hulu Migas dan peningkatan peran media online dalam mendukung kegiatan Hulu Migas.

Namun demikian, tambah dia, kritik dari media juga tidak kalah penting sebagai upaya perbaikan. “Silakan kritik yang bertujuan untuk membangun industri Migas menjadi lebih baik ke depannya,” katanya.

Edukasi dan Media Gathering yang didukung sekitar 12 Kontraktor-Kontraktor Kerja Sama (KKKS) yang beroperasi di wilayah Kalimantan dan Sulawesi itu dilaksanakan selama dua hari di dua tempat yaitu Makasar dan Gowa pada 8-9 Oktober 2019.

Pada acara tersebut menghadirkan nara sumber antara lain Direktur Eksekutif Komunikonten Hariqo Wibowo Satria yang menyampaikan tentang seni mengelola media sosial dan Pemred Media Indonesia Usman Kansong untuk menyampaikan materi pada sesi pertama. (net/lin)

LEAVE A REPLY