Hikmah 5 Keutamaan Bangsa Iran yang Dikisahkan Al Quran dan Hadis Nabi SAW

Bendera negara Iran. Foto: internet

Setidaknya ada 5 keutamaan Bangsa Iran atau Persia dalam Islam yang dijelaskan Hadis Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam (SAW). Bangsa Iran atau Persia ternyata dikisahkan dalam Al Quran bahkan bangsa itu memiliki keutamaan berdasarkan penjelasan hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Semarak.co – Berikut penjelasan tentang bangsa Iran yang tengah menghadapi serangan komplotan Israel bersama Amerika Serikat saat ini; Setidaknya ada 5 keutamaan Bangsa Iran atau Persia dalam Islam, seperti dilansir SINDOnews.com, Selasa, 24 Juni 2025 – 12:06 WIB. Di antaranya

Bacaan Lainnya

1. Persia tersirat dalam Al-Quran Surat Al-Jum’ah ayat 3 dan Surat Muhammad ayat 38. Allah ta’ala berfirman: وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمّا يَلْحَقُواْ بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS Al-Jum’ah: 3].

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, Ibnu Abi Haatim, dan Ibnu Jariir, melalui jalan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ”: Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu diturunkan kepada beliau surat Al-Jum’ah:

‘Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.’ (QS. Al-Jum’ah: 3).

Para shahabat bertanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau tidak memberikan jawaban kepada mereka sehingga beliau sempat ditanya ketiga kalinya, sedang di antara kami terdapat Salman Al-Farisi.

Rasulullah SAW lalu meletakkan tangannya di atas tubuh Salman Al-Farisi seraya bersabda: “Seandainya keimanan itu ada pada bintang Tsurayaa, pastilah akan dicapai oleh beberapa orang atau seseorang di kalangan mereka”.

Ibnu Katsir melanjutkan: “Dalam hadis ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa surat ini adalah Madaniyyah, dan juga menunjukkan keumuman pengutusan Muhammad SAW sebagai Nabi kepada seluruh umat manusia.

Hal itu disebabkan karena beliau menafsirkan firman Allah ta’ala: “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka” dengan Persia. Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengirimkan surat ke Persia, Romawi, dan umat-umat lainnya. Beliau menyeru kepada mereka untuk menempuh jalan Allah ta’ala serta mengikuti apa yang di bawanya.

Oleh karena itu Mujaahid dan yang lainnya berkata mengenai firman Allah ta’ala: “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka.” ia berkata: “Mereka adalah orang-orang ‘Ajam (nonArab) dan semua orang yang membenarkan Nabi SAW dari kalangan selain ‘Arab”.

Selanjutnya, dalam Surat Muhammad ayat 38 Allah ta’ala berfirman: وَإِن تَتَوَلّوْاْ يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمّ لاَ يَكُونُوَاْ أَمْثَالَكُم “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini” [QS Muhammad: 38].

2. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata ketika turun ayat ini para sahabat bertanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah?” Beliau bersabda – yang waktu itu Salman ada di sisi beliau – : ‘Mereka adalah bangsa Persia, orang ini (yaitu Salman) dan kaumnya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar no. 2135; sanadnya hasan].

Ada juga hadis dari dari Usamah bin Zaid, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, ia berkata: “Seandainya aku bukan berasal dari Quraisy, sungguh aku senang jika aku berasal dari Persia, kemudian aku senang jika aku berasal dari Ashbahaan” [Diriwayatkan oleh ‘Aliy bin Ja’d no. 2921; sanadnya hasan].

3. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim menyebut bahwa para ulama berkata Salman Al-Farisiy termasuk penduduk Ashbhaan. Begitu pula ‘Ikrimah maulaa Ibni ‘Abbaas dan yang lainnya.

Sesungguhnya atsar-atsar Islam yang ada di negeri Ashbahaan lebih tampak dibandingkan negeri-negeri yang lain, hingga Al-Haafidh ‘Abdul-Qaadir Ar-Rahaawiy rahimahullah berkata: ‘Aku tidak pernah melihat satu negeri setelah Baghdaad yang lebih banyak hadisnya dibandingkan Ashbahaan’.

4. Para imam sunah dalam hal ilmu, fiqh, hadis, dan seluruh ilmu Islam yang murni yang dimiliki penduduk Ashbahaan lebih banyak dibandingkan selain mereka. Hingga dikatakan bahwa hakim-hakim mereka termasuk fuqahaa’ hadis semisal Shaalih bin Ahmad bin Hanbal, Abu Bakr bin Abi ‘Aashim, dan yang lainnya……”

Al-Ashmaa’iy mengatakan orang ‘ajam (nonArab) negeri Ashbahaan adalah Quraisy-nya orang-orang ‘ajam”.

5. Banyak sekali ulama Ahlus-Sunnah yang berasal dari negeri Persia. Di antaranya Salmaan Al-Faarisiy, Fairuuz Ad-Dailamiy Al-Faarisiy Al-Yamaniy, Saalim maulaa Hudzaifah, dan Munabbih bin Kaamil radliyallaahu ‘anhum.

Dan setelah mereka di antaranya: Thaawuus bin Kaisaan (w. 106), Al-A’masy (w. 148 H), Sibawaih Al-Faarisiy (w. 183 H), Adz-Dzuhliy (w. 258 H), Muslim bin Al-Hajjaaj (w. 261 H), Abu Zur’ah Ar-Raaziy (w. 264 H), Abu Haatim Ar-Raaziy (w. 277 H), Muhammad bin ‘Iisaa At-Tirmidziy (w. 279 H).

Lalu ‘Abdurrahmaan bin Ahmad An-Nasaa’iy (w. 303 H), Ibnu Maajah (w. 309 H) dan Abu Ja’far Ath-Thabariy (w. 310 H). Selanjutnya, Ibnu Khuzaimah (w. 331 H), ‘Abdullah bin Ja’far bin Darastawaih Al-Faarisiy An-Nahwiy (w. 347 H), Al-Hasan bin ‘Abdirrahmaan Ar-Raamahurmuziy (w. 360 H),

Kemudian Abusy-Syaikh Al-Ashbahaaniy (w. 369 H), Abu ‘Abdillah Al-Haakim An-Naisaabuuriy (w. 405 H), Abu Nu’aim Al-Ashbahaaniy (w. 430 H), Ahmad bin Al-Husain Al-Baihaqiy (w. 458 H), ‘Abdul-Wahhaab bin Muhammad Al-Ashbahaaniy (w. 475 H),

Selanjutnya Ibnu Faaris Al-Lughawiy (lahir tahun 395 H), Abul-Qaasim bin Muhammad Al-Ashbahaaniy (w. 535 H), dan masih banyak lagi yang lainnya. Demikian ulasan tentang keutamaan bangsa Persia. Semoga bermanfaat.

Bangsa Iran dikisahkan dalam Al Quran juga diposting facebook.com/roizracunz/posts/-bangsa-iran-atau-persia-ternyata-dikisahkan-dalam-al-quran-bahkan-bangsa-tersebut.

Bangsa Iran atau Persia ternyata dikisahkan dalam Al Quran, bahkan bangsa tersebut memiliki keutamaan berdasarkan penjelasan hadis Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

1. Persia tersirat dalam Al-Quran Surat Al-Jum’ah ayat 3 dan Surat Muhammad ayat 38. Allah ta’ala berfirman: “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” [QS Al-Jum’ah: 3].

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, At-Tirmidziy, An-Nasaa’iy, Ibnu Abi Haatim, dan Ibnu Jariir, melalui jalan Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu ”:

Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu diturunkan kepada beliau surat Al-Jum’ah: ‘Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka’ (QS. Al-Jum’ah: 3). Para shahabat bertanya: “Siapakah mereka wahai Rasulullah ?”.

Beliau tidak memberikan jawaban kepada mereka sehingga beliau sempat ditanya ketiga kalinya, sedang di antara kami terdapat Salman Al-Farisi.  Rasulullah SAW lalu meletakkan tangannya di atas tubuh Salman Al-Farisi seraya bersabda: “Seandainya keimanan itu ada pada bintang Tsurayaa, pastilah akan dicapai oleh beberapa orang atau seseorang di kalangan mereka”.

Ibnu Katsir melanjutkan: “Dalam hadis ini terdapat bukti yang menunjukkan bahwa surat ini adalah Madaniyyah, dan juga menunjukkan keumuman pengutusan Muhammad SAW sebagai Nabi kepada seluruh umat manusia. Hal itu disebabkan karena beliau menafsirkan firman Allah ta’ala: “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka” dengan Persia.

Oleh karena itu, Rasulullah SAW mengirimkan surat ke Persia, Romawi, dan umat-umat lainnya. Beliau menyeru kepada mereka untuk menempuh jalan Allah ta’ala serta mengikuti apa yang dibawanya.  Oleh karena itu Mujaahid dan yang lainnya berkata mengenai firman Allah ta’ala: “Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka”;

Ia berkata: “Mereka adalah orang-orang ‘Ajam (non-Arab) dan semua orang yang membenarkan Nabi SAW dari kalangan selain ‘Arab”. Selanjutnya, dalam Surat Muhammad ayat 38 Allah ta’ala berfirman: “Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini” [QS Muhammad : 38].

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata ketika turun ayat ini para sahabat bertanya : “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”.  Beliau bersabda – yang waktu itu Salman ada di sisi beliau – : ‘Mereka adalah bangsa Persia, orang ini (yaitu Salman) dan kaumnya” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Syarh Musykiilil-Aatsaar no. 2135; sanadnya hasan].

Ada juga hadis dari dari Usamah bin Zaid, dari Sa’iid bin Al-Musayyib, ia berkata: “Seandainya aku bukan berasal dari Quraisy, sungguh aku senang jika aku berasal dari Persia, kemudian aku senang jika aku berasal dari Ashbahaan” [Diriwayatkan oleh ‘Aliy bin Ja’d no. 2921; sanadnya hasan].

2. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dalam Iqtidlaa’ Ash-Shiraathil-Mustaqiim menyebut bahwa para ulama berkata Salman Al-Farisiy termasuk penduduk Ashbhaan. Begitu pula ‘Ikrimah maulaa Ibni ‘Abbaas dan yang lainnya.

Sesungguhnya atsar-atsar Islam yang ada di negeri Ashbahaan lebih tampak dibandingkan negeri-negeri yang lain, hingga Al-Haafidh ‘Abdul-Qaadir Ar-Rahaawiy rahimahullah berkata: ‘Aku tidak pernah melihat satu negeri setelah Baghdaad yang lebih banyak hadisnya dibandingkan Ashbahaan’.

3. Para imam sunah dalam hal ilmu, fiqh, hadis, dan seluruh ilmu Islam yang murni yang dimiliki penduduk Ashbahaan lebih banyak dibandingkan selain mereka. Hingga dikatakan bahwa hakim-hakim mereka termasuk fuqahaa’ hadis semisal Shaalih bin Ahmad bin Hanbal, Abu Bakr bin Abi ‘Aashim, dan yang lainnya…..”

4. Al-Ashmaa’iy mengatakan orang ‘ajam (nonArab) negeri Ashbahaan adalah Quraisy-nya orang-orang ‘ajam”.

5. Banyak sekali ulama Ahlus-Sunnah yang berasal dari negeri Persia, di antaranya Salmaan Al-Faarisiy, Fairuuz Ad-Dailamiy Al-Faarisiy dan masih banyak lagi.

Kedudukan Bangsa Persia dan Yaman menurut Tafsir Alquran (2/2)

Ayat Ketiga

إِلَّا تَنفِرُواْ يُعَذِّبۡكُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا وَيَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ وَلَا تَضُرُّوهُ شَيۡـٔٗاۗ وَٱللهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ

Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikan-Nya sedikit pun. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS. At-Taubah [8]: 39)

Tafsir Qurtubi

Dalam menafsirkan ayat ini, Qurtubi (w. 1273 M) menyatakan, “’Dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain’ adalah janji Allah kepada Rasul-Nya yang akan menggantikan kaumnya yang menolak dimobilisasi untuk perang.

Pendapat pertama menyatakan bahwa mereka adalah bangsa Persia dan pendapat lain menyatakan bahwa mereka adalah bangsa Yaman.” (Baca sebelumnya: Kedudukan Bangsa Persia dan Yaman menurut Tafsir Alquran -1)

Tafsir Fath al-Qadir

As-Syaukani (1173 – 1250 H) menyatakan dalam tafsirnya ini, “Orang-orang berselisih pendapat siapakah kaum yang dimaksud. Pendapat pertama menyatakan bahwa mereka adalah bangsa Yaman dan pendapat lain menyatakan bahwa mereka adalah bangsa Persia.”

Tafsir Al-Kasyaf

Zamakhsyari (467 – 538 H/1074 – 1143) menyatakan dalam tafsirnya ini, “Firman ‘kaum selain kalian’ yang dimaksud adalah bangsa Yaman. Pendapat lain menyatakan putra-putra Persia.”

Tafsir Mafatih al-Ghaib

Fakhruddin al-Razi (544 – 606 H) dalam tafsirnya ini mengutip Sa’id bin Jubair (w. 95 H), “Mereka adalah putra-putra Persia.” Lalu mengutip Abu Rawq (w. 332 H), “Mereka adalah bangsa Yaman.”

Tafsir Baidhawi

Nasiruddin Al-Baidhawi (w. 685 H) dalam tafsirnya, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, menyatakan, “Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang)’: maksudnya jika kalian tidak mau dimobilisasi. ‘Niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih:

“Maksudnya, kematian yang disebabkan hal-hal buruk seperti kekeringan dan tampilnya musuh. ‘Menggantikan kamu dengan kaum yang lain’: maksudnya menggantikan kalian dengan kaum lain yang patuh seperti bangsa Yaman dan putra-putra Persia.”

Tafsir Baghawi

Al-Baghawi (433 – 516 H) dalam kitab tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, menyatakan, “’Menggantikan kamu dengan kaum yang lain’: maksudnya lebih baik dari kalian dan lebih patuh. Sa’id bin Jubair berkata, “Mereka adalah bangsa Persia. Pendapat lain mengatakan bahwa mereka bangsa Yaman.”

Tafsir al-Bahr al-Muhith

Abu Hayyan Muhammad bin Yusuf al-Garnathi (654 – 745 H) penulis tafsir abad 14 masehi, al-Bahr al-Muhith, menyatakan, “Mengenai pergantian kaum yang dijanjikan, suatu pendapat menyatakan bahwa mereka adalah kelompok bangsa Yaman. Sementara Ibnu Jubair menyatakan mereka adalah bangsa Persia.”

Ayat Keempat

وَإِن تَتَوَلَّوۡاْ يَسۡتَبۡدِلۡ قَوۡمًا غَيۡرَكُمۡ ثُمَّ لَا يَكُونُوٓاْ أَمۡثَٰلَكُم

Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini). (QS. Muhammad [47]: 38)

Tafsir Thabari

Dalam menafsirkan ayat ini, At-Thabari (224 – 310 H/839 – 923 M) menukil riwayat dari Abu Hurairah  yang menyatakan bahwa kaum pengganti tersebut adalah bangsa Persia dan 1 riwayat yang menyatakan kaum tersebut adalah bangsa Yaman. (Baca: Perpecahan di Tengah Umat Islam; Sebuah Telaah)

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir (w. 774 H) menukil riwayat dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa kaum tersebut adalah bangsa Persia.

Tafsir al-Kasyaf

Zamakhsyari (467 – 538 H/1074 – 1143) menukil riwayat, “Rasulullah saw ditanyakan tentang kaum tersebut sementara Salman berada di sisinya. Lalu beliau saw menepuk pahanya (Salman) seraya berkata, ‘Inilah dia dan bangsanya. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai iman tergantung di gugusan bintang, niscaya para pemuda dari Persia akan menjangkaunya.’”

Tafsir Mafatih al-Ghaib

Fakhruddin al-Razi (544 – 606 H) menyatakan, “Firman-Nya ‘dan mereka tidak akan seperti kamu’: mereka adalah bangsa Persia. Diriwayatkan bahwa Nabi saw ditanya tentang kaum manakah yang kelak menggantikan mereka jika mereka berpaling.

Sementara itu, Salman berada di sisi Nabi. Beliau pun bersabda, “Inilah dia dan bangsanya,” lalu melanjutkan, “Andaikan iman tergantung di gugusan bintang, niscaya para pemuda dari Persia akan meraihnya.”

Tafsir Qurtubi

Dalam menafsirkan ayat ini, Qurtubi (w. 1273 M) mengutip beberapa pendapat, antara lain: al-Hasan berkata, “Mereka adalah nonarab.” Ikrimah berkata, “Mereka adalah bangsa Persia.” Pendapat lain mengatakan mereka adalah bangsa Yaman. Kemudian Qurtubi mengutip riwayat Abu Hurairah yang serupa dengan tafsir Al-Kasyaf. (Baca: Di Balik Kisah 70 Tahun Tragedi Nakba Palestina)

Tafsir Baidhawi

Nasiruddin Al-Baidhawi (w. 685 H) dalam tafsirnya, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, menafsirkan ayat, “Dia akan menggantikan dengan kaum selain kamu,” maksudnya: kaum lain akan menggantikan posisi kalian. “Dan mereka tidak akan seperti kamu,” dalam hal ketaatan, zuhud dalam beriman.

Mereka adalah bangsa Persia, karena suatu hari Nabi saw ditanya tentang hal itu sementara Salman berada di sisinya. Lalu beliau memukul pahanya (Salman) seraya bersabda, “Inilah dia dan bangsanya,” atau al-Ansar, bangsa Yaman atau Malaikat.

Tafsir Fath al-Qadir

As-Syaukani (1173 – 1250 H) dalam tafsirnya ini mengutip riwayat Abu Hurairah yang berkata, “Rasulullah saw membaca ayat ini, ‘Dan jika kamu berpaling, Dia akan menggantikan dengan kaum selain kamu.’

Mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah mereka yang andai kami berpaling, niscaya mereka menggantikan kami dan mereka tidak seperti kami?’ Lalu Rasulullah saw menepuk bahu Salman seraya berkata, ‘Inilah dia dan bangsanya. Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, andai iman tergantung di gugusan bintang, niscaya para pemuda dari bangsa Persia akan meraihnya.’”

Tafsir Baghawi

Al-Baghawi (433 – 516 H) dalam kitab tafsirnya, Ma’alim at-Tanzil, mengutip beberapa pendapat:

Al-Kalbi berkata, “Mereka adalah Bani Kindah dan Nakha’i.

Al-Hasan berkata, “Mereka nonarab.”

Ikrimah berkata, “Mereka bansa Persia dan Romawi.”

Kemudian Al-Baghawi mengutip riwayat Abu Hurairah yang serupa dengan tafsir sebelumnya. (Baca: Solidaritas Palestina dan Tafsir Ayat Persaudaraan)

Ayat Kelima

أُوْلَئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ فَإِن يَكْفُرْ بِهَا هَؤُلاء فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُواْ بِهَا بِكَافِرِينَ

Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan kitab, hikmah dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya. (QS. Al-An’am [6]: 89)

Tafsir Mafatih al-Ghaib

Fakhruddin al-Razi (544 – 606 H) dalam menafsirkan ayat ini mengutip Mujahid, “Mereka adalah bangsa Persia.”

Tafsir Baidhawi

Nasiruddin Al-Baidhawi (w. 685 H) dalam tafsirnya, Anwar at-Tanzil wa Asrar at-Ta’wil, menafsirkan ayat, “Maka Kami akan menyerahkannya,” maksudnya: dengan segala kehormatannya. “Kepada kaum yang tidak mengingkarinya,” mereka adalah para Nabi as yang disebutkan beserta para pengikut mereka.

Suatu pendapat menyatakan mereka adalah para penolong, para sahabat Nabi saw, setiap orang yang beriman kepadanya, atau bangsa Persia. Pendapat lain menyatakan mereka adalah malaikat.

Tafsir al-Kasyaf

Zamakhsyari (467 – 538 H/1074 – 1143) menyatakan, “Suatu pendapat menyatakan bahwa mereka adalah malaikat dan orang-orang Ansar mengaku sebagai kaum pengganti tersebut.” Sementara Mujahid berkata, “Mereka adalah bangsa Persia.”

Makna penyerahan (wakkalna biha) adalah bahwa mereka memperoleh taufik sehingga beriman, lalu menegakkan hak-haknya seperti seorang pemuda memperoleh kepercayaan untuk menjalankan sesuatu, lalu berkomitmen dan memelihara amanat yang diberikan kepadanya. (net/snc/smr)

Pos terkait