Oleh Anonym *)
Semarak.co – Ratusan kabupaten di Indonesia punya masalah korupsi. Tapi cuma Pati yang rakyatnya rela iuran, patungan ongkos bus, lalu berangkat berhari-hari ke Jakarta cuma untuk teriak dua kalimat, sahkan RUU Perampasan Aset dan hukum mati koruptor.
Kenapa harus Pati? Karena di sana korupsi bukan cuma judul berita yang lewat di linimasa, tapi kejadian yang mereka tanggung sendiri. Bupatinya sendiri kena OTT KPK gara-gara jual beli jabatan perangkat desa, orang-orang kecil yang harus bayar demi jadi perangkat desa di kampungnya sendiri.
Dalam sejarah pergerakan rakyat, luka yang punya nama dan wajah selalu menggerakkan orang lebih cepat dibanding luka abstrak yang gampang dilupakan setelah scroll berikutnya. Itu sebabnya Pati berani jalan duluan, sementara daerah lain masih memilih diam dan menahan kesal sendiri-sendiri.
Terus di tengah perjalanan mereka, muncul kelakuan absurd khas pejabat tolol yang bikin geleng kepala. Rekening donasi buat ongkos perjuangan itu, atas nama Botok, isinya delapan puluh sekian juta hasil urunan rakyat kecil, tiba-tiba ditunda transaksinya oleh Bank Mandiri atas permintaan aparat.
Bank bilang sesuai prosedur, mengacu undang-undang pencucian uang. Oke, boleh jadi benar secara hukum di atas kertas. Tapi coba pikir logikanya sebagai rakyat biasa, urunan buat ongkos bus saudara sendiri yang mau demo lawan korupsi, kok ditahan seperti sedang mengusut bandar.
Bukan lagi soal prosedur perbankan, tapi soal siapa sebenarnya yang lebih dicurigai negara, koruptornya atau rakyat yang capek sama koruptor. Reaksinya cepat sekali menjalar. Ajakan boikot dan tarik uang ramai di media sosial, sahamnya ikut melemah beberapa hari terakhir.
Sejumlah figur publik ikut angkat suara mempertanyakan sejauh mana kuasa aparat bisa menyentuh rekening pribadi warga. Pengamat bilang reaksi ini berlebihan, katanya belum ada dampak signifikan secara angka. Mungkin benar secara laporan keuangan.
Tapi sejarah tidak pernah mencatat keretakan besar dari angka di neraca, ia mencatatnya dari cerita kecil yang menyebar dari mulut ke mulut, dari status ke status, sampai berubah jadi satu perasaan bersama, kita semua bisa jadi korban berikutnya.
Dua kejadian ini kalau dibaca terpisah kelihatan biasa saja, cuma berita harian yang lewat begitu cepat. Tapi coba rangkai satu per satu. Satu daerah kecil berani turun karena korupsi yang mereka rasakan langsung di kampung sendiri. Lalu institusi keuangan negara ikut menahan uang mereka justru pas lagi paling dibutuhkan.
Ini bukan kebetulan, ini pola yang saling menyalakan. Dalam filosofi Jawa ada konsep manunggaling kawula gusti, ikatan rakyat dan penguasa yang berdiri di atas rasa saling percaya. Begitu rakyat merasa dikhianati dua kali sekaligus, dikorupsi oleh yang seharusnya melindungi.
Lalu dicurigai balik saat mereka melawan, ikatan itu bukan sekadar retak lagi, itu sudah putus di titik yang paling dalam. Dan ini belum ditambah kekecewaan yang sudah lama menumpuk. Gaya hidup pejabat yang jauh dari kata prihatin sementara rakyat diminta berhemat.
Korupsi yang seolah tidak pernah kapok meski sudah bertahun-tahun diberantas. Program-program yang katanya untuk rakyat tapi pelaksanaannya terus dipertanyakan. Keraguan publik terhadap arah anggaran negara yang tidak kunjung terasa dampaknya di dompet orang kebanyakan.
Satu insiden kecil seperti rekening Bank Mandiri ini gampang sekali dibaca bukan sebagai kasus tunggal, tapi sebagai bukti tambahan dari kecurigaan yang sudah lama dipendam rakyat. Reformasi 98 juga bukan lahir dari satu ledakan besar dalam semalam.
Ia lahir dari rakyat yang diam-diam menyambungkan titik demi titik kecil, krisis moneter, harga sembako, represi aparat, sampai akhirnya semua titik itu bertemu di satu kesimpulan yang sama, cukup sudah cukup. Sejarah tidak pernah minta izin sebelum berubah arah, ia cuma butuh cukup banyak alasan yang datang bertubi-tubi dalam waktu berdekatan.
Filosofi Jawa punya ungkapan tua soal ini, kapercayan sing wis ilang angel digoleki gantine, kepercayaan yang sudah hilang susah dicari penggantinya. Kraton sekuat apapun pasukannya, tidak akan bertahan lama kalau rakyatnya berontak!!!
*) penulis belum ditemukan sampai berita ini ditayangkan, jika kelak ditemukan otomatis dilakukan koreksi. Redaksi
Sumber: WAGroup Alumni Mistik (postRabu26/8/2026/ikram)





