Praktik Baik dari Malinau Kalimantan Utara, Keterbatasan Geografis Tidak Jadi Penghalang Bangun Budaya Literasi

Di tengah keterbatasan akses buku dan fasilitas belajar, sebuah ruang sederhana bernama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lasan Baca perlahan menjadi tempat tumbuhnya harapan baru bagi anak-anak di desa.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen bekerja sama dengan Program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), kemitraan pendidikan antara pemerintah Indonesia dan Australia, menggelar acara wicara “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi”, di Malinau, Kalimantan Utara.

Semarak.co – Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menegaskan bahwa literasi menjadi fondasi utama dalam pembangunan sumber daya manusia dan pencapaian tujuan pendidikan nasional.

Bacaan Lainnya

“Literasi menjadi fondasi penting mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pendidikan dan literasi tidak dapat dipisahkan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Jumat (22/5/2026).

Hafidz menegaskan, visi Pendidikan Bermutu untuk Semua yang diusung  Mendikdasmen Abdul Mu’ti, dilandasi semangat agar layanan pendidikan dapat dinikmati seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali.

“Pilar terpenting pendidikan adalah guru, sarana yang memadai, dan pembelajaran yang bermakna. Literasi menjadi alat utama untuk meningkatkan pemahaman siswa, tidak hanya sekadar membaca dan menulis, tetapi memahami apa yang dibacanya,” tuturnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa praktik baik dari Malinau menunjukkan bahwa keterbatasan geografis tidak menjadi penghalang untuk membangun budaya literasi yang kuat.

“Orang sering mengatakan daerah Tertinggal, Terdepan, Terluar (3T) dan perbatasan memiliki keterbatasan. Namun Malinau menunjukkan bahwa dengan keterbatasan justru lahir inovasi dan kreativitas yang luar biasa,” ungkap Hafidz.

Hafidz juga mengungkapkan bahwa Indeks Kegemaran Membaca Kalimantan Utara di atas rata-rata nasional, yaitu mencapai 58,89. “Ini bukan hasil yang datang begitu saja. Ada cerita, kerja keras, dan gerakan bersama di baliknya khususnya di Kabupaten Malinau,” ujarnya.

Bunda Literasi Kabupaten Malinau Maylenty Wempi menegaskan, gerakan literasi di wilayahnya dibangun melalui semangat gotong royong dengan pendekatan berbasis keluarga. “Gerakan literasi di Malinau adalah gerakan bersama. Bukan hanya tugas pemerintah, tetapi semua mengambil peran,” ujarnya.

Menurut Maylenty, keluarga menjadi titik awal yang strategis dalam menumbuhkan budaya baca di masyarakat. Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk INOVASI, turut memperkuat kesadaran akan pentingnya literasi sejak dini.

“Kami menyadari peran kami sangat strategis karena langsung menyentuh keluarga,” katanya. Ia menambahkan bahwa literasi berperan dalam meningkatkan kemampuan memahami kondisi, berpikir kritis, berkomunikasi efektif, serta membentuk karakter.

Ia juga mengakui tantangan geografis Malinau sebagai wilayah perbatasan dengan luas wilayah dan keberagaman budaya, termasuk 11 suku asli. Karena itu, pendekatan berbasis budaya dan bahasa lokal menjadi penting agar masyarakat lebih mudah terlibat.

Meski demikian, gerakan literasi terus berkembang melalui sinergi lintas sektor hingga tingkat desa dan RT. Partisipasi berbagai pihak mendorong peningkatan jumlah pegiat literasi dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) secara konsisten.

Sejak 2020, jumlah TBM meningkat dari 5 menjadi 96 unit pada 2026, sementara jumlah pegiat literasi bertambah dari 11 menjadi sekitar 768 orang. Peningkatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi yang terbangun mampu memperkuat ekosistem literasi secara inklusif dan berkelanjutan.

Belajar Sambil Bermain, TBM Lasan Baca Tumbuhkan Semangat Literasi Anak di Malinau

Di sebuah desa di Malinau, Kalimantan Utara, suara anak-anak yang membaca dan bercerita kini terdengar lebih ramai. Di tengah keterbatasan akses buku dan fasilitas belajar, sebuah ruang sederhana bernama Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lasan Baca perlahan menjadi tempat tumbuhnya harapan baru bagi anak-anak di desa.

Di tempat itu, belajar tidak selalu dilakukan dengan cara yang kaku. Anak-anak diajak bermain, mendengar cerita, tertawa bersama, lalu perlahan belajar mengenal huruf, membaca, dan memahami dunia di sekitar mereka.

Bagi para relawan, yang terpenting bukan hanya membuat anak-anak bisa membaca, tetapi juga membantu mereka tumbuh dengan rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka memiliki masa depan yang layak diperjuangkan.

Kisah tersebut dibagikan dalam gelar wicara bertajuk “Cerita dari Perbatasan: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi di Malinau, Kalimantan Utara”. Adalah Zsazsa Suharningtyas, pegiat literasi sekaligus guru di SMPN 3 Malinau Selatan Hilir, yang selama ini mendampingi anak-anak di wilayah terpencil tersebut.

Zsazsa bercerita, TBM Lasan Baca yang berdiri pada 2024 lahir dari kegelisahan sederhana. Ia dan rekan-rekannya masih menemukan anak-anak sekolah dasar, bahkan siswa SMP, yang belum mampu membaca dengan lancar.

“Kami menemukan masih ada murid kelas tiga SD bahkan SMP yang belum bisa membaca. Itu yang menjadi motivasi kami bergerak,” ujarnya dalam acara yang berlangsung di Jakarta, Kamis (21/5).

Berangkat dari kondisi tersebut, mereka mencoba menghadirkan cara belajar yang lebih dekat dengan dunia anak-anak. Di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya akses buku, TBM Lasan Baca tetap menjalankan berbagai kegiatan kreatif dengan pendekatan bermain dan bercerita.

Ia juga mengungkapkan bahwa bantuan buku bacaan bermutu dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) melalui Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sangat membantu proses pendampingan literasi di desa.

Menurutnya, buku-buku tersebut terasa dekat dengan kehidupan anak-anak sehingga membuat mereka lebih antusias membaca. “Cerita-ceritanya dekat dengan kehidupan lokal dan sangat disukai anak-anak,” tuturnya.

Perlahan, perubahan mulai terlihat. Zsazsa mengungkapkan bahwa salah satu anak binaannya yang sebelumnya selalu berada di peringkat terbawah di kelas karena belum mampu membaca dengan baik. Kini, anak tersebut berhasil masuk dalam 10 besar terbaik di sekolah dengan kemampuan literasi dan numerasi yang meningkat pesat.

Saat ini, TBM Lasan Baca memiliki 65 anak aktif dan didukung 12 relawan. Meski berada di daerah dengan berbagai keterbatasan, semangat mereka tetap sama yakni melayani dengan hati dan menghadirkan perubahan meski sekecil apa pun bagi anak-anak di desa.

“Prinsip kami adalah melayani dengan hati untuk mengubah keadaan di desa. Kami percaya, meski dari daerah terpencil, kami tetap bisa ikut berperan membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Zsazsa. (hms/smr)

Pos terkait