Orang Batak Sudah Hilang Ashobiyah-nya

Oleh Syahrul Efendi Dasopang *

semarak.co-Dulu saya pernah dengar istilah dongan tubu. Artinya, kawan tumbuh bersama. Ada lagi, sabituha. Artinya satu perut yang sama, atau lahir dari rahim ibu yang sama.

Kedua istilah itu merupakan ungkapan melambangkan satu ikatan emosional dan kekerabatan sesama orang Batak. Dengan demikian, sesama orang Batak saling asih saling asuh.

Tapi tadi di perempatan jalan saya memanggil dengan lambaian tangan seorang gadis memegang gitar. Lumayan kumal. Tapi wajah khas bataknya dan sorot mata menantangnya tak bisa menyembuyikan ciri boru Bataknya.

Dia pun datang menjawab panggilan saya. “Boru aha doho?” tanyaku menodong. Artinya, putri dari marga apa kau? Spontan dia mesem-mesem campur malu, “Purba,” jawabnya singkat. Berarti gadis remaja itu marga Purba. Saya memberikan uang lembaran merah kepadanya. Niat untuk menolongnya yang lagi ngamen. Mengingat puasa karena Sang Pencipta.

Sekarang anak-anak dan remaja Batak makin banyak saja di perempatan jalan. Ada yang ngamen dengan modal lagu dan musik. Tapi ada juga yang jadi Silver Man alias manusia silver, yang wajah dan sekujur tubuhnya diwarnai putih perak.

BACA JUGA :  Pertamina Merugi: Presiden Jokowi Harus Bertanggungjawab

Dihubungkan dengan ungkapan Dongan Tubu dan Sabituha, makna riil ungkapan itu sudah pupus dan redup. Orang-orang Batak yang terlantar dan berkulan di perempatan jalan hanya untuk meminta belas kasih para pelalu lalang, menunjukkan matinya ashobiyah suku Batak saat ini.

Padahal lusinan konglomerat Batak dari setingkat dewa seperi The Lord Luhut Panjaitan hingga setingkat para suplayer telur di Bekasi, tak peduli lagi dengan nasib orang-orang muda Batak di jalanan. Atau mungkin tidak sanggup lagi para orang kaya Batak meladeni tingginya arus urbanisasi orang Batak yang sebagian melahirkan kemiskinan itu.

*) Penulis adalah Sekjen ISQI

 

sumber: WAGroup Keluarga Alumni HMI MPO (post Jumat 30/4/2021)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY