Militer rezim Zionis Israel telah mengintensifkan serangannya di Tepi Barat selama setahun terakhir dengan serangan yang sering terjadi di seluruh wilayah tersebut. Bahkan mereka melancarkan operasi militer besar-besaran di Hebron dan Tepi Barat.
Semarak.co – Militer Israel mengumumkan, Senin (19/1/2026), telah meluncurkan operasi militer besar-besaran di Hebron, Tepi Barat yang diduduki, sejak malam sebelumnya. Di saat sama, puluhan warga Palestina lainnya ditangkap di berbagai wilayah pendudukan lainnya.
Dalam pernyataan resminya, pihak militer Zionis Israel mengonfirmasi, operasi di Tepi Barat/Hebron, ini akan berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan dinas keamanan internal Shin Bet dan Polisi Perbatasan.
Video yang beredar di kalangan warga Gaza dan masyarakat internasional menunjukkan, jalan-jalan di Hebron diblokade dengan blok semen dan pos pemeriksaan militer, yang membuat penduduk kota tersebut terkepung dan ruang geraknya terbatas.
Laporan media lokal Palestina yang dilansir arrahmah.id pada 20/1/2026, menyebutkan sejumlah warga ditangkap setelah pasukan Israel menggeledah rumah-rumah mereka, termasuk seorang remaja berusia 13 tahun bernama Mohammed Mutawwar.
Militer mengklaim operasi di wilayah Jabal Johar, Hebron, itu bertujuan untuk “menghancurkan infrastruktur” milik kelompok perlawanan Palestina. Selain Hebron, ketegangan juga pecah di Jenin, Nablus, Tulkarem, dan Betlehem.
Sebanyak 20 warga Palestina ditangkap dalam serangkaian penggerebekan di wilayah utara dan selatan Tepi Barat. Di kota Qabatiya, sekolah-sekolah terpaksa diliburkan setelah kendaraan militer merangsek masuk ke pemukiman warga.
Bahkan pada Ahad malam (18/1/2026), pasukan Israel dilaporkan mengepung masjid besar di desa Kafr Nima saat warga sedang beribadah, menggunakan granat kejut dan gas air mata untuk menahan jamaah di dalam gedung.
Sejak perang di Gaza meletus pada Oktober 2023, kekerasan di Tepi Barat terus meningkat tajam. Data resmi Palestina menunjukkan, korban jiwa lebih dari 1.100 warga Palestina, korban luka sekitar 11.000 orang terluka dan penahanan lebih dari 21.000 orang sempat ditahan atau masih berada dalam tahanan.
Di Yerusalem Timur, pemerintah kota yang dikuasai Zionis Israel mengumumkan rencana penyitaan lahan seluas 1.100 meter persegi di lingkungan Al-Bustan, Silwan. Alasan yang digunakan adalah untuk proyek taman dan parkir.
Pemerintah Yerusalem mengecam langkah ini taktik hukum untuk mencegah warga Palestina gunakan tanah milik mereka sendiri. Al-Bustan (1.500 jiwa) kini menghadapi kampanye sistematis; pembongkaran rumah, penangkapan dan penutupan jalan guna memperketat kendali Israel di sekitar Masjid Al-Aqsa. (net/aid/mp/kim/smr)





