Mentrans Iftitah: Abad 21 Era Transmigrasi Pengetahuan, Teknologi dan Talenta

Menteri Iftitah pada Pertemuan Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB PTNBH) di Kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung. (Humas Kementerian Transmigrasi / Antonius A. Giovanni)

Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman menegaskan, abad 21 harus menjadi era transmigrasi pengetahuan, teknologi, dan talenta. Menurutnya, Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Namun tantangan terbesar bangsa adalah memastikan talenta terbaik bersedia hadir dan bekerja untuk Indonesia.

Semarak.co – Hal tersebut disampaikan Menteri Iftitah pada Pertemuan Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB PTNBH) di Kampus Unpad Dipati Ukur, Bandung.

Bacaan Lainnya

“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia menggunakan kepintarannya untuk Indonesia. Kita tidak sedang mencari talenta terbaik untuk dirinya sendiri. Tapi talenta terbaik yang bersedia mengabdi untuk bangsa,” tegasnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Minggu (21/6/2026).

Iftitah menjelaskan, transmigrasi dan perguruan tinggi sesungguhnya memiliki misi yang sama sebagai instrumen peradaban. Kampus membangun pusat keunggulan ilmu pengetahuan, sementara transmigrasi membangun pusat pertumbuhan baru.

“Jika kampus menciptakan pengetahuan, maka kawasan transmigrasi menyediakan ruang tempat pengetahuan itu diuji, diterapkan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Iftitah juga menyampaikan apresiasi kepada PTNBH yang telah menjadi mitra Kementrans pada Program Transmigrasi Patriot. Pada 2025, tujuh PTNBH telah terlibat, yakni UI, IPB, ITB, Unpad, Undip, UGM, dan ITS. Tahun ini, kolaborasi diperluas dengan bergabungnya Unair, UB, dan Unhas.

Ia berharap, ke depan seluruh PTNBH dapat terlibat dalam gerakan besar membangun Indonesia melalui distribusi pengetahuan, teknologi, dan talenta ke seluruh Nusantara.

“Kami ingin menghadirkan ilmu pengetahuan. Kami ingin mendekatkan kampus dengan masyarakat. Kami ingin menjadikan kawasan transmigrasi sebagai laboratorium hidup pembangunan Indonesia,” katanya.

Iftitah menambahkan, kawasan transmigrasi harus menjadi tempat teori bertemu praktik, riset bertemu kebutuhan nyata, dan inovasi bertemu masyarakat. Dengan begitu, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti di kampus, tetapi melahirkan kesejahteraan nyata bagi rakyat. (hms/smr)

Pos terkait