Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN (Mendukbangga) Wihaji mengatakan bahwa hari pertama sekolah bukan sekadar awal tahun ajaran, melainkan awal perjalanan belajar yang akan membekas dalam ingatan anak.
Semarak.co – Karena itu, menurut Menteri Wihaji, kehadiran ayah pada momen tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar mengantar ke gerbang sekolah.
“Semangatnya sama, yakni untuk mengingatkan seluruh orang tua dan para ayah di Indonesia untuk hadir, menemani, dan mendampingi mereka” tambahnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Selasa malam (14/7/2026)
Wihaji menyampaikan pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) turut didukung oleh koordinasi lintas kementerian. “Harapannya, para ayah dan para wali ayah di mana pun berada dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk hadir dan mendampingi anak pada momen penting tersebut,” ujarnya.
Pentingnya kehadiran ayah di hari pertama sekolah tidak lahir tanpa alasan. Masih banyak anak di Indonesia yang tumbuh dengan minimnya keterlibatan ayah dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan Pendataan Keluarga Tahun 2025, sebanyak 25,8% anak Indonesia mengalami fatherless.
Di tengah berbagai tantangan pengasuhan, satu pagi yang diluangkan ayah untuk mengantar anak ke sekolah dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih dekat dan bermakna. Perjalanan singkat itu menjadi ruang bagi ayah dan anak untuk berbincang, saling mendengarkan, serta memperkuat ikatan emosional.
Melalui GAMAS di SLB Negeri 02 Jakarta, Kemendukbangga/BKKBN mengingatkan bahwa kehadiran ayah merupakan hak setiap anak, tanpa terkecuali, karena keluarga yang kuat menjadi ruang terbaik bagi anak untuk tumbuh, berkembang, dan mengoptimalkan potensinya.
Kini, GAMAS bukan sekadar ajakan bagi para ayah, tetapi juga panggilan bagi seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keterlibatan ayah dalam pengasuhan.
Kemendukbangga/BKKBN mengajak kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan satuan pendidikan mengambil bagian dalam gerakan ini agar kehadiran ayah menjadi budaya, bukan sekadar peristiwa. Dari langkah kecil mengantar anak ke sekolah, lahir keluarga yang semakin kuat dan generasi Indonesia yang lebih berkualitas.
BKKBN Sumsel Dorong Keterlibatan Ayah melalui Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah
Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan mendukung pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah (GAMAS) sebagai upaya mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan memperkuat ketahanan keluarga.
Dukungan tersebut ditunjukkan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Arios Saplis, dengan mengantar putrinya yang menjadi siswi baru di SDIT Al Furqon Palembang, Senin (13/7/2026).
Kehadiran ayah pada momen hari pertama sekolah menjadi bentuk nyata dukungan emosional bagi anak sekaligus memperkuat rasa percaya diri dan semangat belajar sejak dini. Melalui GAMAS, para ayah diharapkan semakin aktif hadir dalam kehidupan anak sebagai bagian dari penguatan peran keluarga.
Arios Saplis menegaskan bahwa peran ayah tidak hanya sebatas pencari nafkah, tetapi juga sebagai sosok yang hadir, mendengar, dan mendampingi anak dalam proses tumbuh kembangnya. Menurutnya, keterlibatan ayah sejak dini akan memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter, kedekatan emosional, serta kesiapan anak dalam menempuh pendidikan.
“Gerakan ini mengajak para ayah untuk hadir lebih dekat dalam kehidupan anak. Kehadiran ayah pada momen mengantar anak ke sekolah memiliki makna yang luar biasa. Anak akan merasa didukung, dicintai, dan lebih percaya diri dalam belajar. Semangat ini yang ingin terus kita bangun melalui Program GAMAS,” ujar Arios.
GAMAS merupakan inisiasi Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN melalui Surat Edaran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Nomor 17 Tahun 2026 tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.
Pelaksanaan gerakan ini diperkuat koordinasi lintas kementerian. Kementerian PANRB menerbitkan Surat Menteri Nomor B/257/M.KT.02/2026 tanggal 10 Juli 2026 tentang Dukungan Penguatan Ketahanan Keluarga bagi Pegawai ASN yang memberikan kesempatan ASN yang memiliki anak usia sekolah mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah.
Melalui gerakan ini, Kemendukbangga/BKKBN mengajak kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan satuan pendidikan untuk bersama-sama membudayakan kehadiran ayah dalam pengasuhan anak.
Gerakan ini juga merupakan bagian dari upaya menjawab fenomena fatherless yang masih menjadi perhatian di Indonesia agar anak-anak tumbuh lebih percaya diri dan memperoleh dukungan penuh dari figur ayah.
Data UNICEF (2021) menunjukkan 20,9 persen anak di Indonesia kehilangan kehadiran sosok ayah akibat perceraian, kematian, maupun pekerjaan ayah yang jauh dari keluarga. Sementara itu, hasil Pemutakhiran PK-25 menunjukkan persentase fatherless di Indonesia mencapai 25,8 persen.
Kepala SDIT Al Furqon Palembang, Mona Moulyna, menyambut baik gerakan tersebut dan menilai GAMAS sangat positif dalam memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Menurutnya, keterlibatan orang tua, khususnya ayah, sangat penting dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang suportif bagi anak. Sinergi antara rumah dan sekolah akan mendukung proses belajar anak secara optimal.
Sementara itu, salah seorang orang tua murid, Ozzy Ramadhana, memberikan apresiasi terhadap gerakan ini. Menurutnya, GAMAS merupakan program yang sangat baik karena pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Peran ayah juga sangat besar dalam mendukung kegiatan sekolah. Ia berharap program ini dapat terus berlanjut.
Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah dalam membangun generasi yang sehat, percaya diri, dan berdaya saing.
Momentum sederhana ini menjadi pengingat bahwa peran ayah tidak hanya bertanggung jawab memastikan kesejahteraan keluarga, tetapi juga hadir dalam pengasuhan melalui pemberian kasih sayang, pembentukan karakter, penguatan stabilitas emosi, serta penanaman kedisiplinan dan kemandirian anak. (hms/smr)





