Menpar Widiyanti Perkuat Sinergi Kawal Implementasi RIDPN Raja Ampat 2024-2044

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana saat rapat Forum Koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat di Hotel Aston Sorong, Senin (11/5/2026).

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Papua Barat Daya dalam rangka Monitoring dan Evaluasi (Monev) pelaksanaan Rencana Induk Destinasi Pariwisata Nasional (RIDPN) Raja Ampat 2024–2044.

Semarak.co – Menpar mengatakan pertemuan ini bertujuan menyelaraskan langkah pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga kedaulatan pariwisata berkualitas sebagai arah besar pengembangan pariwisata Raja Ampat.

“RIDPN merupakan panduan bersama agar pembangunan pariwisata Raja Ampat berjalan terarah pada visi besarnya. Kita ingin menjadikan Raja Ampat sebagai destinasi geopark kepulauan berkualitas yang berbasis konservasi dan berkelanjutan,” ujarnya, dirilis humas melalui WAGroup Siaran Pers Kemenpar2, Senin malam (11/5/2026).

Menpar mengatakan bahwa koordinasi bersama Pemerintah Daerah (Pemda) merupakan kunci utama dalam menghadapi tantangan nyata di lapangan. Mulai dari ancaman aktivitas ekstraktif hingga pengelolaan daya dukung lingkungan.

“Pesan kami sangat jelas, Raja Ampat harus dijaga sebagai destinasi high quality sustainable tourism. Industri pariwisata di sini tidak boleh bersifat ekstraktif maupun eksploitatif yang mengorbankan alam,” tegasnya.

Dari hasil evaluasi lapangan, Menteri Pariwisata mengidentifikasi beberapa titik krusial yang memerlukan intervensi bersama. Di antaranya pengendalian aktivitas yang berpotensi merusak ekosistem laut serta penataan lalu lintas kapal wisata.

Pemerintah tengah mengkaji penambahan pelampung tambat sebagai solusi mitigasi utama untuk mencegah kerusakan terumbu karang akibat penggunaan jangkar kapal. “Penambahan ini memerlukan komitmen pemda untuk mengelolanya secara berkelanjutan setelah terpasang nanti,” jelas Widiyanti.

Selain itu, Menpar menyoroti isu manajemen daya dukung dan risiko overtourism . Ia mengungkapkan, rencana penambahan frekuensi penerbangan ke Sorong guna meningkatkan devisa sering kali berbenturan dengan batas kemampuan alam dalam menerima wisatawan.

Menpar mengingatkan bahwa status Raja Ampat sebagai “Surga Terakhir di Bumi” membawa tanggung jawab besar bagi aparatur pemerintah untuk mengedepankan etika lingkungan di atas keuntungan ekonomi jangka pendek.

“Pariwisata berkualitas bukan sekadar jumlah kunjungan, melainkan tentang keamanan, kebersihan, aksesibilitas, layanan, hingga rasa hormat terhadap manusia dan alam,” pungkasnya.

Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau menyatakan,  Raja Ampat merupakan satu dari sedikit tempat di dunia yang menyandang dua gelar UNESCO sekaligus, yakni Global Geopark dan Biosphere Reserve. Raja Ampat juga sukses mempertahankan status Platinum Blue Park 2024 dari Marine Conservation Institute.

“Keistimewaan ini menjadikan Papua Barat Daya sebagai laboratorium hidup pariwisata berkelanjutan kelas dunia yang tidak tertandingi,” kata Nausrau.

Meski demikian, Nausrau juga memaparkan sejumlah kendala yang dihadapi pelaku industri lokal. Seperti keterbatasan kompetensi SDM, kurangnya jadwal feri rute Sorong–Waisai, serta belum adanya transportasi antar-pulau yang teratur dengan tarif terjangkau.

Ia juga menyoroti kurangnya pemanfaatan layanan internet berbasis satelit untuk memperkuat konektivitas di pulau-pulau terpencil. Nausrau juga mendorong penguatan pendampingan dari Kemenpar dalam proses revalidasi Raja Ampat oleh tim asesor UNESCO pada Agustus 2026. (hms/smr)