Prosesi wisuda Institut STIAMI. foto: heryanto

Dalam menjawab kebutuhan pasar di bidang komunikasi, Institut STIAMI membuka program studi (Prodi) Komunikasi, tahun 2015. Ini artinya, tahun 2019 ini Institut STIAMI menggelar wisuda Prodi Komunikasi perdana sebanyak 20 lulusan.

Kepala bagian (Kabag) Hubungan Dalam dan Luar Negeri Dedy Kusna Utama mengatakan, alasan STIAMI membuka Prodi Komunikasi karena menjawab kebutuhan masyarakat terhadap bidang komunikasi.

“Bagaimana humas-humas kita jadi humas yang andal. Orang humas kalau ditanya berapa jumlah humas di Indonesia, harusnya menjawabnya adalah seluruh penduduk Indonesia itulah humas terbaik. Jadi kita adalah humas terbaik bagi bangsa ini,” ujar Dedy di sela acara wisuda Institut STIAMI, Agustus 2019 lalu.

Makanya, lanjut Dedy, kita buka komunikasi mulai 2015 dan tahun lulusan pertama ada 10 mahasiswa. “Kalau sekarang mahasiwanya sudah sampai 600. Jadi peminatnya banyak,” ujarnya.

Karena waktu baru dibuka pertama kali pertengahan 2015 Prodi Komunikasi ini, lanjut dia, belum banyak bisa diterima. “Ternyata rata-rata 200 an mahasiswa setiap tahun jumlahnya. Tren mahasiswa baru naik terus,” imbuhnya.

Seperti diketahui, dunia komunikasi mulai turun. Ini terlihat dari turunan komunikasi itu di bidang kerja stasiun televisi yang dialami NET TV dengan keputusan mengurangi jumlah karyawannya, jumlah media cetak alias media massa juga banyak tutup, dampak buruk dari kompetisi menjamurnya media online atau internet.

“Tapi bagi STIAMI ada keseimbangan dengan minatnya. Itu tadi, trennya terus naik. Karena kami membaca situasi dan kondisi itu dengan memberi konsentrasi bidang ke humas atau public relation (PR). PR itu kan di mana saja bidang kerjanya. Bisa di instansi negeri dan swasta,” kilahnya.

Bahkan di organisasi-organisasi pun butuh humas, lanjut Dedy, jadi humas itu dibutuhkan. “Artinya, komunikasi itu banyak bidang konsentrasi sampai kita buka konsentrasi humas. Ternyata peminat humas itu cukup banyak,” tutupnya.

Selain buka Prodi Komunikasi, lanjut dia, STIAMI juga membuka Prodi Manajemen Logistik untuk menjawab tantangan zaman hari ini, tahun 2015 juga. “Kita inget revolusi industri membuat orang menggunakan teknologi membutuhkan juga ekspedisi pengantaran, bagaimana berkembangnya fintek-fintek logistik. Tahun ini lulusan pertama juga,” ungkapnya.

Di bagian lain Dedy mengungkapkan tema wisuda tahun ini selaras degngan tema HUT Kemerdekaan RI berkaitan yang bicara SDM unggul Indonesia Maju. “Kita meliaht bahwa Indonesia tidak lama lagi tahun 2020 dan 2030 akan terjadi bonus demosgrafi,” terangnya.

Artinya, lanjut dia, akan ada surplus SDM produktif dari usia 15 tahun dan di bawah 55 tahun. Diprediksi jumlahnya sampai 190 jutaan. “Ini sebuah modal besar. Tapi bonus demografi itu bisa jua menjadi sebuah ancaman kalau kita tidak persiapankan SDM dengan baik,” paparnya.

Baca juga: https://semarak.co/respon-sdm-unggul-indonesia-maju-institut-stiami-bekali-pendidikan-adab/

Jadi SDM produktif, nilai dia, tapi tidak memiliki knowledge atau tidak memiliki kemampuan kompetensi yang tepat. “Ini bisa jadi berbahaya malah. Nah institusi perguruan tinggi, utamanya Institut STIAMI punya peranan strategis untuk mencetak mahasiswa kita sehingga bisa memiliki kompetensi yang baik,” paparnya.

Ada dua hal yang dijadikan ciri di kampus STIAMI, yaitu pertama mahasiswa kita perkenalkan dengan mata kuliah pendidikan adab untuk seluruh program studi. Jadi di semester satu semua mahasiswa dapat mata kulaiah pendidikan adab. “Ini berupa wujud dari visi STIAMI jadi perguruan tinggi yang unggul dan berdaya saing, berakhlak mulia,” ungkapnya.

Sehingga dengan adab itu bisa mencetak akhlak mulia, seperti beradab pada orangtua, dosen, lingkungan hidup, menuntut ilmu. Adab itu juga miliki integritas sehingga dimana pun dia berada dia harus tegak lurus pada aturan dan tegak lurus pada mekanisme yang ada.

“Jadi ada cara-cara yang berbasis agama. Dulu kita punya mata kuliah budi pekerti. Ini dikembangkan dalam mata kuliah Pendidikan Adab. Orang jujur, tapi tidak pintar lebih baik dari pada orang pintar tapi tidak jujur misalnya. Ini sandingkan dengan mereka punya knowledge atau punya pengetahuan, tapi juga punya pondasi akhlak mulia,” ujarnya.

Kedua, rinci dia, nasionalisme di tataran mahsiswa perlu ditanamkan. Nasionalisme tidak hanya bentuk ikut bela negara wajib militer, tapi yang sederhana mahasiswa bisa menjadi wajib pajak yang baik.

“Ke depan dia punya penghasilan bisa bayar pajak dengan baik. Karena itu kita beri kuliah pengantar perpajakan untuk seluruh prodi. Mahasiswa komunikasi, logistik, pariwisata, semua dapat mata kuliah perpajakan,” terangnya.

Pajak itu tidak bisa lepas dari kehidupan manusia sejak lahir sampai mati, klaim dia, seperti melahirkan, beli makanan, meninggal, semua ada pajaknya. “Setelah mahasiswa memahami pajak, dia akan sadar untuk bayar apajak. Itulah salah satu bentuk cinta tanah air bela negara. Bayar pajak tepat waktu dan besaran penghasilan sesuai kemampuan mereka,” ujarnya.

Kita juga menyiapkan LSP (lembaga sertrifikasi profesi). Sekarang sudah jadi keharusan. Buat mahasiswa di masing-masing prodi mendapatkan sertifikasi berupa keahlian, seperti mahasiswa Prodi Pajak punya keahlian bisa menyusunan Pph pribadi atau badan dengan baik.

“Pariwista pun demikian. Misalnya, menjadi guide tour yang baik. Sertifikasi kompetensi itu berupa pendamping ijazah. Ini hasil kerja sama dengan BNSP (badan nasional sertifikasi profesi) untuk ijinnya. (smr)

LEAVE A REPLY