Masmidah Abdul Mu’ti, istri Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) menyatakan, lingkungan rumah dan teladan yang dicontohkan orangtua adalah dua hal yang menjadi fondasi dalam membentuk karakter anak.
Semarak.co – Hal tersebut disampaikan Masmidah pada talkshow parenting, “Implementasi 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat” Kantor Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM), Kemendikdasmen, Depok, Jawa Barat, Selasa (26/8).
“Orang tua memiliki peran utama. Melalui talkshow ini saya berharap peran orang tua bisa mendapatkan wawasan baru, pendekatan yang relevan, dan strategi pengasuhan yang sesuai dengan tantangan zaman,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Mitra BKHumas Fortadik, Jumat (29/8/2025).
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen Rusprita menambahkan, pembiasaan sederhana tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dalam kehidupan sehari-hari dapat memberikan dampak yang sangat besar terhadap pembentukan karakter anak.
“Tujuh kebiasaan ini terlihat sepertinya merupakan aktivitas sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Namun ternyata dibalik kebiasaan-kebiasaan ini mengandung efek yang luar biasa besar sekali. Jadi, hal besar itu hanya bisa terbentuk atau tercapai melalui hal-hal kecil yang dilakukan secara kontinu,” jelasnya.
Proses pembiasaan ini akan membentuk kebiasaan dan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten akan terhabituasi dalam kehidupan sehari-hari sehingga membentuk karakter dan kepribadian. Dia yakin, jika proses ini dilakukan secara kolektif, maka akan membentuk peradaban bangsa.
Pada sesi diskusi, hadir narasumber psikolog, Irma Gustina, yang membahas tema Pola Pengasuhan Anak. Menurutnya, peran orang tua dalam membentuk kebiasaan anak sangatlah fundamental. Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan sehari-hari sejak dini. Mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, hingga mengonsumsi makanan bergizi.
“Parenting itu adalah perjalanan panjang kita. Kita merawat dia, merawat fisik mereka, mentalnya, spiritualnya, emosi, kemudian juga secara sosial. Jadi, kita membantu putra-putri kita ini supaya nanti bisa optimal tumbuh kembangnya dan survive dalam kehidupan,” ujarnya.
Irma kemudian menggambarkan peran orang tua dengan analogi yang mudah dipahami. Menurutnya, orang tua berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan anak sekaligus jangkar yang memberi kekuatan emosional.
Selain sebagai kompas, menurut Irma, orang tua adalah jangkar. “Kalau kita punya jangkar emosi yang kuat dengan anak, kemanapun anak kita melangkah, kembalinya pasti ke rumah. Anak yang dicintai, ditenangkan, dan distimulasi dengan tepat akan tumbuh jadi pribadi yang cerdas dan punya karakter,” jelasnya.
Kepala Sekolah SDS Islam Al Alaq, Zulfa Maulida, memaparkan strategi sekolahnya dalam mendukung program ini adalah dengan menggunakan platform yang berfungsi sebagai pusat kendali untuk mengelola dan memfasilitasi kegiatan pembelajaran daring atau jarak jauh
“Kami memiliki Learning Management System (LMS) Smart Al Alaq. Di sini kami buat satu segmen khusus untuk 7KAIH, sampai semua lagunya ada semua. Saya taruh di sini supaya orang tua, anak, dan guru bisa mengaksesnya secara langsung,” jelas Zulfa.
Zulfa juga memaparkan bahwa penerapan 7 KAIH telah membawa dampak nyata terhadap perilaku anak-anak di sekolah. Salah satunya dukungan kolaborasi dari orang tua siswa yang terlihat ketika anak-anak mulai membiasakan diri tidur lebih cepat dan bangun pagi dengan segar, hingga membawa bekal dari rumah. (hms/smr)