Sineas Aditya Ahmad saat konferensi pers serial drama Saiyo Sakato beberapa waktu lalu di Jakarta. Foto: internet

Nama Aditya Ahmad di dunia perfilman Indonesia dikenal melalui sederet prestasinya dari film-film pendek independen yang dibuat sepanjang dekade lalu. Sejauh ini, pria kelahiran Makassar 31 tahun silam itu telah membuat dua film pendek yang berhasil melaju ke kancah internasional, Sepatu Baru (2014) dan Kado yang dirilis 2018.

semarak.co -Sineas muda yang akrab disapa Adit itu memulai perjalanan di dunia perfilman melalui film Sepatu Baru, yang mulanya dibuat sebagai syarat kelulusan dari Institut Kesenian Makassar.

Ternyata, film itu berhasil mendapat sejumlah apresiasi positif. Film pendek itu berhasil menyabet Special Mention dalam kategori Generation Kplus di Festival Film Internasional Berlin, Berlinale. Tak hanya itu, Adit pun mengantongi predikat Sutradara Film Pendek Asia Tenggara Terbaik di ajang Festival Film Internasional Singapura 2014.

Saat ditemui wartawan beberapa waktu lalu di Jakarta, Adit mengatakan ia tertarik untuk berkarya lewat film karena ia telah jatuh cinta pada film sejak dini.

“Aku suka bercerita dan membagikan cerita-cerita ini dengan film yang buatku punya kekuatan untuk menyampaikan hal itu untuk penonton,” kata dia.

Empat tahun setelah Sepatu Baru, Adit kembali hadir dengan karya barunya, film pendek berjudul Kado (A Gift) yang diproduseri Mira Lesmana dan Riri Riza. Film ini juga bersinar di perfilman internasional.

Kado menyabet penghargaan Orizzonti untuk kategori Film Pendek Terbaik pada ajang 75th Venice International Film Festival 2018, dan juga ditayangkan di Festival Film Sundance 2018.

Setelah bertemu dengan Mira Lesmana dan Riri Riza, Adit dipertemukan dengan banyak sineas nasional lainnya dan bekerja bersama-sama, salah satunya adalah Gina S Noer dan Salman Aristo dalam serial drama Saiyo Sakato yang rilis awal tahun ini.

Ia mengaku senang bisa bekerja sama dengan banyak pembuat film yang ia kagumi. Adit mengatakan, bisa terjun langsung bersama para sineas nasional, semakin memberikan energi baginya untuk terus belajar dan semangat berkarya di bidang tersebut.

“Awalnya ya agak enggak percaya ketika diajak buat men-direct serial (“Saiyo Sakato”). Karena selain pengalaman pertama, aku juga ketemu orang-orang hebat lainnya di set. Seneng banget,” ujar Adit.

Cinta dan tantangan

Adit mengungkapkan kecintaannya dengan dunia visual dimulai dari kecil, dimana ia menuangkan ekspresinya melalui coretan dan gambar. Sejalannya waktu, ia kemudian menimba ilmu di pesantren IMMIM Makassar dan tinggal di asrama.

Ketika libur, Adit mengatakan ia menyempatkan untuk belajar mengenai film melalui pengenalan, pelatihan, hingga produksi. Kecintaannya dengan film kemudian semakin bertumbuh ketika ia mengikuti pelatihan bertajuk creative week oleh British Council yang mengajarkannya untuk bercerita lewat audio-visual, atau story telling.

Menurut pria berambut ikal itu, membuat film adalah sesuatu yang dapat dilakukan dengan penuh komitmen, cinta, dan semangat. Terlebih, pengerjaan film merupakan kerja tim dan seorang sutradara merupakan pusat energi bagi para kru dan pemain di set.

Tantangan saat membuat film pasti ada, kata dia, dan memiliki porsi yang berbeda. Ketika aku buat film dulu dengan sekarang, tantangannya beda.  Tapi bagaimana kita di lapangan, ketika bekerja sama dengan orang lain, kita juga dapat pandangan baru soal hal lainnya.

“Misalnya, aku baru kali ini membuat serial, diberi kesempatan seperti ini, ya bisa jadi ruang belajar baru buat aku dan lainnya juga,” ujarnya melanjutkan.

Film Indonesia kini

Sepanjang dekade lalu, penikmat film di Indonesia cukup dimanjakan dengan sajian film yang memiliki genre, kisah, dan karakter yang semakin bervariasi. Mulai dari drama hangat seperti Keluarga Cemara, drama komedi di Imperfect, teror dan horor di Perempuan Tanah Jahanam, hingga bangkitnya pahlawan super lokal Gundala.

Tak lupa bagaimana pembuat maupun penonton film nasional juga sudah mulai terbuka untuk mengangkat isu sensitif seperti di film Dua Garis Biru, 27 Steps of May, hingga Kucumbu Tubuh Indahku.

Lebih lanjut, pertumbuhan perfilman Indonesia yang membaik juga ditandai dengan jumlah bioskop yang bertambah, serta munculnya layanan streaming yang menawarkan berbagai film maupun serial original secara legal.

“Dan sekarang dengan adanya layanan on-demand juga semakin membuka ruang dan kesempatan baru buat sineas muda untuk berani berkarya di dunia film,” kata Adit.

Menurut dia, banyaknya layanan streaming yang melibatkan pembuat film baru akan semakin menambah keragaman cerita dan gaya dari para sineas ini untuk bersinar dan dikenal oleh sineas nasional lainnya, penikmat film, dan tak menutup kemungkinan untuk berkarya dan diapresiasi di kancah internasional.

“Jadi, pandangan aku pribadi, ini bagus. Aku berharap sih keberanian mereka (sineas muda) berekspresi dan bercerita lewat film juga senada dengan dukungan dari pemerintah,” kata Adit.

Ketika disinggung mengenai rumor dimana pemerintah berniat memblokir salah satu layanan streaming di Indonesia, ia berharap itu tidak terjadi.

Adit mengatakan, bukan hanya sineas yang terdampak, namun penikmat film pun ia nilai akan terbatas wawasan dan pilihan cerita dalam medium film, serta pengalamannya ketika menikmati film di platform lain selain bioskop.

“Banyak alternatif buat nonton film selain di bioskop. Kita sekarang juga bisa menonton serial selain di TV. Sekarang, kita yang memilih sendiri tontonan apa yang menarik, dan itu harusnya memang enggak dibatasi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Adit berharap, di masa sekarang dan masa depan, Indonesia tidak melewatkan potensi dan kesempatan baik bagi pertumbuhan film nasional dan para pekerja seni di belakangnya.

“Harapannya film Indonesia dan industrinya semakin maju, dan akan lebih banyak pembuat film hebat lainnya dengan banyak kisah yang akan disampaikan untuk banyak orang,” pungkasnya. (net/lin)

LEAVE A REPLY