Kementerian UMKM Kembangkan Ekosistem Digital bagi UMKM Sumbar Pascabencana, Gandeng Bank Sumut Salurkan Banpres Terdampak Bencana

Kementerian UMKM bersama PT Bank Sumut menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai salah satu bank penyalur Bantuan Presiden (Banpres) untuk mendukung keberlangsungan aktivitas usaha dan sumber penghidupan pengusaha UMKM terdampak. Foto: humas UMKM

Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bersama PT Bank Sumut menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) sebagai salah satu bank penyalur Bantuan Presiden (Banpres) untuk mendukung keberlangsungan aktivitas usaha dan sumber penghidupan pengusaha UMKM terdampak.

Semarak.co – Untuk 2026 secara keseluruhan Banpres itu menyasar 200 ribu pengusaha UMKM di 3 provinsi, yakni Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut), dan Aceh yang terdampak bencana banjir bandang besar melanda pulau Sumatra, beberapa bulan lalu.

Bacaan Lainnya

Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah menangani dampak bencana terhadap kegiatan usaha, termasuk kerusakan sarana usaha, kehilangan pendapatan, dan terhentinya aktivitas ekonomi.

Tenaga Ahli Menteri UMKM Faisal Anwar mengatakan, Banpres merupakan wujud kehadiran negara dalam membantu pengusaha UMKM bangkit dari dampak bencana sekaligus memberikan kesempatan bagi mereka untuk kembali produktif dan mandiri secara ekonomi.

“Bencana membuat banyak pengusaha UMKM kehilangan aktivitas dan pendapatan. Pemerintah hadir memberikan stimulus agar mereka dapat kembali menjalankan usahanya,” ujar Faisal di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Faisal menjelaskan, bantuan sebesar Rp3 juta bagi setiap penerima dapat dimanfaatkan secara fleksibel sesuai kebutuhan dan kondisi usaha masing-masing, mulai dari penyediaan modal kerja, pembelian bahan baku, perbaikan sarana usaha, hingga pemenuhan kebutuhan operasional lainnya.

Fleksibilitas pemanfaatan bantuan tersebut diharapkan dapat membantu pengusaha UMKM menentukan kebutuhan paling mendesak sehingga kegiatan produksi, perdagangan, maupun pelayanan kepada konsumen dapat segera berjalan kembali.

“Bantuan ini diharapkan dapat menjadi stimulus awal untuk memenuhi kebutuhan usaha dan menjaga keberlangsungan kegiatan pengusaha UMKM,” kata Faisal dirilis humas usai acara melalui WAGroup Media Teman UMKM, Kamis (8/10/2026).

Menurut Faisal, pemulihan usaha pascabencana tidak cukup hanya melalui pemberian bantuan finansial. Pengusaha UMKM juga memerlukan dukungan berkelanjutan agar mampu menghadapi tantangan usaha, memulihkan jaringan pemasaran, serta membangun kembali kapasitas produksi dan daya saing.

Karena itu, bantuan pemerintah perlu diikuti dengan pendampingan usaha, perluasan akses pembiayaan, peningkatan kapasitas pengusaha, pembukaan akses pasar, serta pemanfaatan teknologi digital untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Setelah bantuan disalurkan, lanjut dia, pengusaha UMKM tetap membutuhkan pendampingan dan akses penguatan usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan. Keberhasilan pemulihan ekonomi di wilayah terdampak bencana membutuhkan sinergi

Yaitu antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga perbankan, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya. Dalam konteks inilah, kerja sama Kementerian UMKM dengan Bank Sumut menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan mekanisme penyaluran bantuan.

“Yaitu melalui lembaga keuangan sehingga dukungan pemerintah dapat menjangkau pengusaha UMKM yang membutuhkan. Kolaborasi semua pihak penting agar dukungan bagi pengusaha UMKM terdampak dapat berjalan efektif,” ungkap Faisal.

Kementerian UMKM berharap penyaluran Banpres tidak hanya membantu pengusaha UMKM memenuhi kebutuhan mendesak untuk kembali berusaha, tetapi juga menjadi titik awal pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Kembalinya kegiatan usaha diharapkan dapat menghidupkan rantai pasok lokal, menjaga perputaran ekonomi masyarakat, serta mempertahankan sumber pendapatan keluarga yang bergantung pada keberlangsungan usaha mikro dan kecil. Melalui program ini, pemerintah menegaskan bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar membangun kembali infrastruktur fisik.

Tapi juga memastikan masyarakat memiliki kesempatan untuk kembali bekerja, berusaha, dan membangun kemandirian ekonomi. Kementerian UMKM akan terus memastikan pengusaha UMKM terdampak mendapatkan dukungan yang diperlukan.

Di bagian lain dirilis humas UMKM sebelumnya, Rabu (7/10/2026), bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat tidak hanya menyebabkan kerusakan sarana dan prasarana, tapi juga berdampak pada keberlangsungan usaha masyarakat.

Khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Aktivitas produksi terganggu, rantai pasok terhambat, dan akses pasar menjadi terbatas. Di tengah proses pemulihan tersebut, pemanfaatan ekosistem digital menjadi salah satu jalan bagi pengusaha UMKM untuk kembali menjangkau konsumen sekaligus memperluas pasar.

Sebagai bagian dari upaya mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2025, Kementerian UMKM mendampingi pengusaha UMKM melalui kegiatan Fasilitasi Landing Page UMKM Sumatera Bangkit Bersama serta mengaktifkan kembali Klinik UMKM Bangkit di Sumbar.

Kegiatan yang diselenggarakan secara hybrid di Kabupaten Padang Pariaman pada 6 Oktober 2026 dan Kota Padang pada Rabu, 7 Oktober 2026 tersebut dirancang untuk membantu pengusaha UMKM mempersiapkan pemulihan usaha sekaligus memperluas akses pasar.

Rangkaian kegiatan dimulai dari tahap pra-business matching, pembekalan peningkatan kapasitas, hingga kurasi untuk mempersiapkan UMKM mengikuti puncak kegiatan business matching yang dijadwalkan berlangsung pada November 2026.

Asisten Deputi Bidang Pemasaran dan Digitalisasi Usaha Mikro Kementerian UMKM Ari Anindya Hartika menjelaskan, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan mengembalikan kemampuan UMKM untuk berproduksi. Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan produk yang dihasilkan memiliki akses terhadap pasar.

“Ini adalah bagian dari pemulihan UMKM pascabencana dan juga sebagai tindak lanjut dari rangkaian percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dilaksanakan di wilayah Sumatera Barat,” ujar Ari dirilis humas usai acara melalui WAGroup Media Teman UMKM, Rabu petang (7/10/2026).

Menurut Ari, proses untuk kembali menjalankan usaha setelah terdampak bencana bukan perkara mudah. Karena itu, pendampingan diperlukan agar pengusaha UMKM dapat kembali berproduksi sekaligus memperoleh respons positif dari pasar.

“Pemulihan ini tidak cukup hanya tentang bagaimana usaha bisa kembali berjalan, tetapi kami juga memastikan ada pasar yang siap menampung produk. Hari ini kami tidak hanya berbicara mengenai akses pasar, digitalisasi, dan kemitraan, tetapi juga menghadirkan langkah nyata,” imbuhnya.

Karena itu, fasilitasi landing page ini diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ekosistem digital. Pemanfaatan kanal digital diharapkan dapat membuka peluang bagi pengusaha UMKM terdampak bencana untuk menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa sepenuhnya bergantung pada pasar di sekitar lokasi usaha.

Upaya tersebut mendapat respons positif dari pengusaha UMKM peserta kegiatan. Salah satunya Ulfa, pengusaha kuliner asal Padang Pariaman yang tengah berupaya memulihkan usahanya setelah terdampak bencana.

Ulfa mengakui kemampuan memanfaatkan teknologi digital masih menjadi salah satu tantangan dalam mengembangkan usahanya. Karena itu, pendampingan yang diperolehnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan literasi digital sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.

“Literasi digital merupakan hal yang perlu saya pelajari karena saya memahami ini masih menjadi kelemahan yang saya miliki. Melalui kegiatan optimalisasi landing page UMKM Bangkit ini, saya berharap produk saya bisa terjual hingga ke luar Sumatera Barat,” ujar Ulfa.

Harapan serupa disampaikan Ina, pengusaha UMKM asal Kota Padang. Ia berharap dapat mengikuti tahapan business matching dan bertemu dengan calon pembeli yang mampu menyerap produknya dalam jumlah lebih besar.

Bagi Ina, perluasan pasar tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan usahanya sendiri. Peningkatan permintaan dan kapasitas produksi juga berpotensi membuka kesempatan bagi masyarakat di sekitarnya untuk memperoleh penghasilan.

“Saya ingin bisa mengikuti business matching dan bertemu dengan pembeli untuk jumlah yang besar. Harapannya, kapasitas produksi ikut meningkat sehingga saya bisa mengajak ibu-ibu di sekitar untuk produktif dan memiliki penghasilan,” kata Ina.

Pengalaman Ulfa dan Ina menunjukkan bahwa pemulihan UMKM pascabencana tidak hanya berkaitan dengan menghidupkan kembali aktivitas produksi, tetapi juga membangun kemampuan usaha agar dapat beradaptasi dengan perubahan pasar.

Literasi digital, perluasan akses pasar, kemitraan, serta pertemuan dengan calon pembeli menjadi bagian penting agar pengusaha UMKM tidak sekadar pulih, tetapi juga memiliki fondasi usaha yang lebih tangguh setelah melewati masa krisis.

Kembali Ari menambahkan, melalui kolaborasi pemerintah, korporasi, BUMN, asosiasi, serta pengusaha UMKM, proses pemulihan ekonomi Sumatera Barat diharapkan tidak berhenti pada dukungan jangka pendek.

Upaya tersebut sekaligus menjadi momentum bagi UMKM lokal untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, serta semakin terhubung dengan ekosistem dan rantai pasok nasional secara berkelanjutan. (hms/ukm/smr)

Pos terkait