Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran perguruan tinggi sebagai pusat lahirnya wirausaha baru yang inovatif, produktif, berdaya saing, serta mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Semarak.co – Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Riza Damanik mengatakan perguruan tinggi memiliki potensi besar dalam melahirkan pelaku usaha baru melalui sumber daya manusia yang unggul, kreativitas, serta kemampuan menghasilkan solusi atas berbagai tantangan di masyarakat.
“Kita tidak mengharapkan seluruh lulusan menjadi pengusaha. Namun, setiap lulusan perlu memiliki pola pikir kewirausahaan,” kata Riza saat Rakernas III Perkumpulan Program Studi Kewirausahaan Indonesia (APSKI), dirilis humas usai acara melalui WAGroup Media Teman UMKM, Minggu malam (26/7/2026).
Riza menegaskan pengembangan kewirausahaan nasional tidak lagi dapat dilakukan melalui program-program yang berjalan sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, Kementerian UMKM terus mendorong terbangunnya ekosistem kewirausahaan nasional yang mengintegrasikan pendidikan, pendampingan, inkubasi, akses pembiayaan, hingga legalitas usaha.
“Pendidikan, pendampingan, inkubasi, legalitas, pembiayaan, digitalisasi, teknologi, pemasaran, hingga kemitraan usaha harus terhubung dalam satu perjalanan pengembangan usaha yang berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Riza, pendekatan tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026 tentang Pengembangan Kewirausahaan Nasional yang menjadi pedoman bersama bagi kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, serta dunia usaha dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan Indonesia.
Untuk mempercepat implementasi kebijakan tersebut sekaligus mendukung target 10 juta penduduk berusaha dan bekerja, Kementerian UMKM mengembangkan program PRO-KESRA Produktif sebagai instrumen pemberdayaan terpadu lintas kementerian dan lembaga.
Melalui program tersebut, mahasiswa maupun alumni tidak hanya memperoleh pelatihan dasar, tetapi juga layanan lanjutan yang disesuaikan dengan tahapan perkembangan usahanya, mulai dari pendampingan, inkubasi, sertifikasi dan legalitas, akses pembiayaan, digitalisasi, hingga perluasan kemitraan pasar.
“Seluruh layanan tersebut diintegrasikan secara digital melalui platform SAPA UMKM sebagai pintu masuk tunggal layanan dan data. Dengan demikian, pembinaan kewirausahaan di perguruan tinggi dapat dilaksanakan secara lebih tepat sasaran, terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan,” kata Riza.
Sebagai tindak lanjut Rakernas III APSKI, Kementerian UMKM bersama APSKI menyepakati enam agenda kolaborasi strategis, yakni mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026, memperluas pemanfaatan PRO-KESRA Produktif, memperkuat kurikulum kewirausahaan yang lebih aplikatif, serta mengintegrasikan ekosistem digital SAPA UMKM.
Kesepakatan tersebut akan diwujudkan melalui penyusunan peta jalan kolaborasi, pengembangan model pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik, serta pembentukan jejaring inkubator bisnis perguruan tinggi di tingkat nasional guna memperkuat ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan.
“Seluruh layanan tersebut diintegrasikan secara digital melalui platform SAPA UMKM sebagai pintu masuk tunggal layanan dan data. Dengan demikian, pembinaan kewirausahaan di perguruan tinggi dapat dilaksanakan secara lebih tepat sasaran, terukur, terintegrasi, dan berkelanjutan,” kata Riza.
Sebagai tindak lanjut Rakernas III APSKI, Kementerian UMKM bersama APSKI menyepakati enam agenda kolaborasi strategis, yakni mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 38 Tahun 2026, memperluas pemanfaatan PRO-KESRA Produktif, memperkuat kurikulum kewirausahaan yang lebih aplikatif, mengintegrasikan ekosistem digital SAPA UMKM.
Kesepakatan tersebut akan diwujudkan melalui penyusunan peta jalan kolaborasi, pengembangan model pembelajaran kewirausahaan berbasis praktik, serta pembentukan jejaring inkubator bisnis perguruan tinggi di tingkat nasional guna memperkuat ekosistem kewirausahaan yang berkelanjutan. (hms/smr)





