Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) memperkuat upaya pengembangan peluang akses pendanaan pasar modal bagi pegiat ekonomi kreatif bersama Bursa Efek Indonesia (BEI).
Semarak.co – Menteri Ekraf (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan, ekonomi kreatif diproyeksikan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional. Penguatan ekosistem dan pemahaman regulasi pasar modal menjadi krusial agar sektor ini dapat berkembang pesat.
“Potensi kreativitas, inovasi, dan kekuatan budaya Indonesia harus didukung dengan ekosistem yang lengkap, termasuk akses pendanaan dan investasi sehingga para pegiat ekraf dapat lebih berkembang secara berkelanjutan,” ujarnya, dirilis humas melalui WAGroup Kemenekraf Siaran Pers, Rabu (10/6/2026).
Realisasi investasi sektor ekonomi kreatif pada 2025 tercatat mencapai Rp 183 triliun dengan pertumbuhan 32,33 persen dibanding tahun sebelumnya. Subsektor ekraf juga mencatat kontribusi positif terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan kelas menengah, dengan jumlah tenaga kerja mencapai 27,4 juta jiwa.
“Kementerian Ekraf fokus mendorong pegiat ekonomi kreatif dapat naik kelas menjadi perusahaan nasional bahkan berskala global. Kolaborasi dengan BEI membuka peluang semakin banyak pegiat ekraf yang memahami pasar modal dan siap memanfaatkan kreativitas sebagai sumber investasi,” jelas Riefky.
Sebelumnya, Kementerian Ekraf dan BEI pernah mengadakan program roadshow Workshop Go Public dan coaching clinic Usaha Ekonomi Kreatif bertajuk KreatIPO untuk meningkatkan literasi finansial dan memfasilitasi akses pendanaan.
Pjs. Direktur Utama, Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa BEI begitu terbuka untuk memperluas partisipasi berbagai sektor dalam pasar modal, khususnya tiap subsektor ekonomi kreatif yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan investasi tinggi.
“Kami tentu menyambut pegiat-pegiat ekonomi kreatif untuk bisa bergabung di pasar modal, baik sebagai investor untuk menikmati pertumbuhan pasar modal maupun sebagai perusahaan persatuan untuk menghimpun dana dan mengembangkan usaha,” ucap Jeffrey Hendrik.
Audiensi ini juga diharapkan membuka peluang penyusunan skema IPO bagi industri kreatif yang lebih adaptif sehingga perusahaan-perusahaan yang potensial dapat memanfaatkan akselerasi pasar modal secara berkelanjutan.
“Tentu, harapan kolaborasi antara BEI dengan Kementerian Ekraf bisa dimulai dengan meningkatkan edukasi, awareness, dan pemahaman dari para pegiat ekonomi kreatif sehingga semakin banyak pejuang ekonomi kreatif yang bisa melantai di Bursa Efek Indonesia,” harap Jeffrey Hendrik. (hms/smr)





