Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN terus memperkuat upaya menekan angka stunting di Indonesia melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Semarak.co – Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Sukaryo Teguh Santoso, pada acara “Sinergi dan Kolaborasi bersama Mitra Strategis Mendukung Program GENTING” menjelaskan, kemiskinan ekstrem dan stunting ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
“Kemiskinan ekstrem dan stunting saling berkaitan, dan intervensi terhadap keduanya diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup Jurnalis Kemendukbangga/BKKBN, Jumat (31/10/2025).
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, sekitar 4,5 juta anak Indonesia masih stunting dengan angka prevalensi 19,8%. Melihat angka tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menggerakkan program GENTING untuk memberikan solusi nyata.
Sasaran GENTING adalah Keluarga Risiko Stunting (KRS) dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan anak berusia di bawah dua tahun. Saat ini, jumlah KRS mencapai 8,6 juta keluarga. “Dari jumlah tersebut, terdapat KRS Desil 1 (miskin) yang menjadi sasaran GENTING sebanyak 1 juta keluarga,” jelas Teguh.
Per 23 Oktober 2025, GENTING telah mengintervensi 1.534.553 KRS dengan dukungan 287.358 mitra di seluruh Indonesia. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa pemberian nutrisi dan perbaikan lingkungan, tetapi juga edukasi pola asuh dan pemberdayaan ekonomi keluarga, agar kemiskinan tidak terus berulang lintas generasi.
Sementara itu, Staf Khusus Kemendukbangga/BKKBN Bidang Optimalisasi Aset dan Peningkatan PNBP, Noorrachmad Priyang Mangku Agung Prabowo, SE, menekankan pentingnya semangat kolaborasi dan gotong royong dalam membangun kesejahteraan masyarakat.
“Berdasarkan hasil indeks WGI (World Giving Index), kita termasuk orang-orang yang suka berdonasi tertinggi di dunia, tidak peduli siapa yang didonasi, tidak perlu kenal siapa yang akan diberi, itulah Warga Negara Indonesia,” ungkap Priyang.
Data World Giving Index (WGI) mencatat bahwa 66 persen masyarakat Indonesia suka membantu orang asing, 90 persen rutin berdonasi uang, dan 65 persen aktif menjadi relawan. Angka ini menunjukkan potensi besar kepedulian sosial yang dapat digerakkan untuk mendukung program-program kemanusiaan seperti GENTING.
Priyang juga menegaskan pentingnya data yang akurat dan kolaborasi lintas sektor dalam memastikan setiap bantuan tepat sasaran. Menurutnya, Kemendukbangga/BKKBN telah menyiapkan basis data terverifikasi serta membentuk tim pengendali lapangan guna memastikan pelaksanaan program berjalan efektif dan transparan.
Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, GENTING tidak hanya menjadi program cegah stunting, tetapi juga gerakan kemanusiaan yang menumbuhkan rasa kepedulian dan solidaritas bangsa untuk menciptakan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (hms/smr)





