Kemana Ormas dan Tokoh-tokoh Islam?

50

Oleh Anonym *

semarak.co-Islam tidak sama dengan Marxisme, Sosialisme, dan Kapitalisme hanya karena ada aspek nilai yang mirip. Kita juga perlu memahami sebuah isme dengan sekedar pemikiran dan prilaku, pemikiran dan perilaku sosialis atau kapitalis bagi muslim lalu dianggap isme atau berpaham sosialisme dan kapitalisme.

Kolektivisme tidak selalu sosialisme atau marxisme. Individual itu bukan berarti indivifualusme. Nara sumber ini terkesan gebyah uyah. Sangat dangkal analisis yang gebyah uyah. Tjokroaminto, Soekarno, Mohammad Hatta, Agus Salim, dan tokoh besar lainnya nasionalis dan internasional di cap penganut marxisne, sosialisme atau kapitalisme.

Ada dua kejadian penting baru-baru ini yang perlu dicatat. Pertama ulah Andreas Benaya Rehiary yang melaporkan Ustadz Yahya Waloni ke polisi. Kedua, ulah sekelompok orang yang menolak pendirian Masjid At Tabayyun di Meruya, Jakarta Barat.

Dua fenomena ini menunjukkan bahwa kaum minoritas di tanah air ini banyak yang radikal. Banyak di antara mereka yang peduli untuk membela agamanya dan tidak rela Islam menjadi agama mayoritas atau yang mewarnai negeri ini. Mereka adalah kaum radikal. Mereka adalah para pemberani.

Sementara kaum nonMuslim di sini bergerak atau dididik radikal, kaum Muslim dikampanyekan agar jadi moderat. Maka jangan heran, kalau yang menguasai negeri ini bukan kaum Muslim lagi. Maka jangan heran banyak tokoh-tokoh Islam yang moderat atau diam ketika tokoh Islam lain dizalimi.

Lihatlah tokoh-tokoh ormas atau tokoh politik Islam yang diam ketika FPI (Front Pembela Islam) dibubarkan atau pimpinan-pimpinannya dizalimi pemerintah. Bahkan ketika laskar Islam FPI enam orang dibunuh yang membelanya pun hanya segelintir orang.

Para tokoh Islam tertipu oleh Barat dan agen-agennya disini mengembangkan Islam Moderat. Padahal Barat mengembangkan istilah ini agar kaum Muslim tidak jadi pemimpin alias menjadi “pak turut” membebek pemerintah Barat.

Tokoh-tokoh disini yang selalu mengaminkan pemerintah dan mengampanyekan Islam Moderat, sebenarnya telah kehilangan jati dirinya. Mereka lebih mementingkan jabatan atau uang daripada kemuliaan agamanya.

Bila kita mau teliti mengamati fenomena pendidikan dan politik di tanah air, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa kaum minoritas banyak dididik menjadi radikal, sedangkan kaum Muslim disuruh menjadi moderat. Lihatlah PSI yang radikal melawan syariat Islam.

Melawan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang pro Islam, melawan tokoh-tokoh Islam dan seterusnya. Karena mereka radikal dan punya cita-cita tinggi, maka kini mereka menguasai negeri ini. Mereka akan membayar kaum Muslim yang ikut agenda mereka.

Maka jangan heran ketika Yahya Waloni ditangkap, geng Cokro TV, Abu Janda, Muanas Aidit dan konco-konconya langsung bersorak. Orang-orang bayaran seperti ini tidak punya ghirah Islam sama sekali. Mereka bersekutu dengan nonMuslim untuk melemahkan Islam di negeri ini.