Kejujuran dan Keadilan Ibarat Dua Sisi Mata Uang

Wali Kota Javier Delgado tidak melawan saat salah satu kakinya tampak dipasung warga akibat berbohong pada warganya untuk membangun jembatan. (Foto: Oddity Central/okezone.com)

Kejujuran dan keadilan adalah ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Karena kejujuran tidak mungkin terwujud tanpa adanya keadilan dan begitu juga keadilan tidak mungkin tercapai tanpa adanya kejujuran.

semarak.co-Seseorang tidak mungkin dikatakan adil, kalau ia tidak memiliki sifat jujur, demikian juga seseorang tidak mungkin dikatakan jujur, kalau ia tidak memiliki sifat adil.

Bacaan Lainnya

Sekarang didepan mata kita melihat betapa ketidak adilan dan dusta itu dipertontonkan ditengah masyrakat baik lewat media televisi maupun media lainnya. Segala dusta dianggap kebenaran, kedzaliman dianggap keadilan.

Para team sukses para buzzer bayaran saling ngotot menipu mengelabui rakyat, neraka di bilang sorga, keterpurukan dikatakan keberhasilan, utang riba menjulang dikatakan investasi, rakyat menjerit tidak bisa kerja, harga sembako meroket, pajak mencekik, ekonomi sosial budaya semua bahkan harga diri bangsa hancur.

Masihkah kalian tidak melihat itu semua? Atau menunggu hingga umat islam ini seperti Andalusia?

Rasulullah SAW bersabda,

الدين النصيحة ثلاثا قلنا لمن يا رسول الله قال لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامتهم

“Agama ini nasehat! (3x). Kami bertanya, Nasehat untuk siapa wahai Rasulullah? Rasul menjawab, Untuk Allah, KitabNya, RosulNya dan Pemimpin kaum muslimin serta rakyatnya.” (HR. Muslim).

ستكون أمراء من دخل عليهم فأعانهم على ظلمهم وصدقهم بكذبهم فليس مني ولست منه ولن يرد على الحوض ومن لم يدخل عليهم ولم يعنهم على ظلمهم ولم يصدقهم بكذبهم فهو مني وأنا منه وسيرد على الحوض” – صحيح الترغيب والرهيب للألباني.

“Akan datang suatu pemimpin dimana orang yg mendatanginya dan menolong kedzolimannya, dan membenarkan kedustaanya, maka dia bukan golonganku dan aku bukan golongannya dan tidak akan minum air telagaku. Dan barangsiapa yg tidak mendatanginya dan tidak menolong kedzolimannya juga tidak membenarkan kedustaannya, maka dia golonganku dan aku golongannya, dan akan meminum air telagaku.”

Firman Allah SWT dalam Surat Al-Ma’idah Ayat 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal: 25)

Allah bahkan mengancam orang-orang yang tidak melakukan aktivitas amar ma’ruf nahi munkar melalui lisan Rasul-Nya sebagai berikut:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ المُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Artinya: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian harus memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, atau Allah akan menimpakan hukuman atas kalian (karena meninggalkan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar), kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan tidak dikabulkan-Nya.” (HR.Tirmidzi )

Bersatulah umat islam rapatkan barisan pilihlah pemimpin yang perduli pada umat islam pada agama islam atau engkau akan dipimpin mereka yang tidak perduli pada islam.

MashaAllah….

Di ruang tunggu Bandara Internasional Jeddah, Haji Sa’id duduk menunggu. Di sampingnya ada seorang jama’ah haji lainnya. Dari sinilah obrolan mereka bermula. “Aku bekerja sebagai kontraktor dan Allah telah memberikan aku kenikmatan yaitu dengan memberiku kesempatan berhaji ini. Ini adalah hajiku yang ke sepuluh.”

Mendengar basa-basi teman duduknya itu, Haji Sa’id kemudian menimpali: “Semoga haji diterima dan dosa-dosa pun terampuni.”

Lelaki itu kemudian bertanya kepada Haji Sa’id:

“Dan engkau sendiri, apakah pernah haji sebelumnya.”?

Sa’id menjawab:

“Demi Allah, akhi, hajiku ini memiliki kisah tersendiri dan aku tidak ingin membuatmu berlelah-lelah mendengar kisah tsb.”

Lelaki itu tertawa, lalu berkata: “Demi Allah, ceritakanlah akhi. Seperti yang engkau lihat, kita sedang menunggu.”

Sa’id tersenyum dan memulai kisah singkatnya.

“Iya benar, menunggu. Dan dari menunggulah kisahku bermula. Aku telah lama menunggu bertahun-tahun. Setelah bekerja selama 30 tahun di sebuah rumah sakit, barulah aku bisa mengumpulkan dana haji.

Di hari yang sama saat aku akan mengambil uang di rekeningku di rumah sakit, seorang ummahat -yang anaknya kutangani karena lumpuh- tiba-tiba terjatuh di hadapanku. Mukanya terlihat begitu sedih dan berkata kepadaku:

“Kutitipkan engkau kepada Allah wahai akhi Sa’id. Ini adalah ziarah terakhir kami di rumah sakit ini.”

Aku merasa aneh dengan ucapannya dan sepertinya ia tidak ridha dengan cara dan metodeku dalam menangani anaknya dan ia sepertinya berpikir untuk memindahkan anaknya ke rumah sakit lain.

Dia kembali berkata kepadaku: “Tidak akhi Sa’id. Allah sebagai saksi bahwa engkau lebih perhatian terhadap anakku dibanding seorang ayah. Pengobatanmu telah banyak membantunya padahal kami sebelumnya telah pupus harapan.”

Lelaki yang mendengar kisah Sa’id ini berkata: “Aneh ya. Jika ibu itu memang ridha dengan pelayananmu dan anaknya pun semakin membaik, lantas kenapa begitu saja ia ingin keluar dari rumah sakit padahal masa pengobatan belum usai?”

Sa’id menjawab: “Inilah yang aku pikirkan. Aku lantas menuju salah satu unit tertentu di rumah sakit dan bertanya. Nampaklah bahwa ayah si anak kehilangan pekerjaan dan tidak mampu  membayar biaya pengobatan yang telah menunggak.

Aku lantas menemui direktur rumah sakit dan memintanya agar pihak rumah sakit tetap melanjutkan proses terapi untuk anaknya namun direktur menolak dengan keras sambil berkata: “Ini adalah rumah sakit dan bukan yayasan sosial.”

Aku keluar dari ruangan direktur dalam keadaan sedih sekali. Kumasukkan tanganku ke kantong yang di dalamnya terdapat dana haji. Kuangkat tanganku dan kepalaku menengadah ke langit sambil berujar kepada Rabbku:

“Rabbanaa, Engkau maha mengetahui keadaanku dan Engkau pun megetahui bahwa tidak ada yang lebih dicintai jiwaku selain berkunjung menjadi tamu agung-Mu di rumah-Mu dan menziarahi masjid nabi-Mu. Itu semua telah kupendam bertahun-tahun namun seorang ibu miskin itu dan anaknya membuat hatiku bersedih maka janganlah engkau haramkan aku untuk meraih segala keutamaanMu.”

Aku lalu pergi ke bagian kasir dan mengeluarkan semua yang ada di kantongku guna membayar semua biaya pengobatan selama 6 bulan. Aku segera menghubungi sang ibu dan mengabarkannya bahwa pihak rumah sakit memberikan pertimbangan dan keringanan sehingga pengobatan bisa dilanjutkan tanpa berbayar.

Lelaki yang mendengar Sa’id berkisah merasa terharu dan air matanya berlinang tak ia sadari lalu berkata kepada Sa’id: “Semoga Allah memberkahimu dan orang-orang sepertimu. Oya, jika uangmu terpakai untuk itu, lantas bagaimana engkau bisa berhaji?”

Sa’id menjawab: “Hari itu aku kembali ke rumah dalam keadaan amat sedih sebab hilangnya kesempatan emas untuk berhaji namun hatiku dipenuhi dengan kebahagiaan sebab telah membantu ibu dan anaknya itu keluar dari kehimpitan.

Malam itu aku tertidur dalam keadaan air mata terkuras. Dalam mimpi, aku melihat diriku sendiri thawaf mengelilingi Ka’bah dan dan orang-orang memandangku dan mengajakku bersalaman sambil berkata: “Hajj mabrur wahai Haji Sa’id. Engkau telah menunaikan haji di langit sebelum berhaji di bumi. Doakan lah kami wahai Haji Sa’id.”

Aku terbangun dari tidur dan aku merasakan kebahagiaan tiada tara yang luar biasa. Aku lalu memuji Allah dan ridha dengan segala ketentuan-Nya. Tiba-tiba handphoneku berbunyi tertnyata ada pangiilan dari direktur rumah sakit. Beliau berkata:

“Bantulah saya. Pemilik rumah sakit akan berangkat haji tahun ini dan ia tidak bisa berangkat tanpa ditemani perawat/dokter pribadinya. Sayangnya  istri dokter pribadinya sedang hamil dan ia sendiri tidak bisa meninggalkan istrinya.”

Aku bersujud syukur kepada Allah. Dengan kesempatan inilah aku bisa bisa berangkat haji sebagaimana engkau lihat.

Allah telah memberiku kesempatan berhaji tanpa harus membayar apapun. Saat berhaji, aku kisahkan kisahku kepada pemilik rumah sakit tentang keprihatinan ibu dan anaknya yang kutangani di rumah sakit lalu beliau memerintahkan agar anak tsb tetap mendapat pengobatan dengan biaya dari beliau. Beliau juga berpesan agar di rumah sakit ada pengumpulan dana untuk biaya pengobatan orang miskin.

Beliau juga memberikan lapangan kerja kepada suami ibu tsb di tempat lain dan juga mengembalikan semua uang yang kugunakan untuk membiayai pengobatan anak dari ibu tadi. Adakah engkau melihat keutamaan yang lebih agung dan luas dari keutaaman Rabb kita?

Orang yang mendengar kisah haji Sa’id berkata: “Masya Allah. Pahala hajimu berkali lipat dari hajiku. Aku sekarang memahami bahwa aku berhaji menuju baitullah sementara engkau, Allah lah yang memanggilmu menuju rumah-Nya.”

Rabbanaa, mudahkan kaum muslimin melaksanakan ibadah di masjidil Haram, masjid Nabawi dan masjid al-Aqsha.

Alih bahasa: Yani Fahriansyah (2018)

 

sumber: Akun Marina Ma’dan di WAGroup PA Al-Wasliyah P.Brayan (post Senin 5/4/

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *