Jaga Tradisi, UIN Jakarta Tambah Pasangan Suami Istri Raih Guru Besar

Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali membuktikannya menyusul penyerahan Keputusan Menteri Agama (KMA) Guru Besar pada 13 Juli 2026.

Meraih puncak karier akademik tertinggi sebagai guru besar kerap dipandang sebagai perjalanan panjang yang penuh tantangan. Namun, menghadirkan dua profesor yang juga pasangan suami-istri dalam satu atap keluarga bukanlah hal mustahil.

Semarak.co – Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta kembali membuktikannya menyusul penyerahan Keputusan Menteri Agama (KMA) Guru Besar pada 13 Juli 2026, yang menandai bertambahnya tradisi pasangan suami-istri bergelar profesor di kampus tersebut.

Bacaan Lainnya

Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menjelaskan fenomena suami istri meraih guru besar saat ini bukan kali pertama terjadi. UIN Jakarta memiliki tradisi akademik yang kuat sehingga mampu melahirkan banyak akademisi dengan capaian tertinggi dalam karier dosen.

“Alhamdulillah, ini bukan kali pertama pasangan suami-istri dosen UIN Jakarta berhasil meraih jabatan guru besar. Dalam sejarah UIN Jakarta, sudah ada beberapa pasangan profesor yang menjadi bagian dari tradisi akademik kampus ini,” ujar Prof. Tholabi, dirilis humas melalui laman resmi kemenag.go.id dilansir WAGroup Jurnalis Kemenag, Rabu (22/7/2026).

Menurutnya, UIN Jakarta mencatat sejumlah nama pasangan profesor yang memberikan kontribusi besar bagi pengembangan pendidikan tinggi Islam. Mereka adalah:

1. Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, M.A. (alm) dan Prof. Dr. H. Abdul Wahab Abdul Muhaimin, Lc., M.A. dari Fakultas Syariah dan Hukum;

2. Prof. Dr. H. Ahmad Thib Raya, M.A. (Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan) bersama Prof. Dr. Hj. Musdah Mulia, M.A. (Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta); serta

3. Prof. Nur Hidayah, S.Ag., S.E., M.A., M.A., Ph.D. (Fakultas Ekonomi dan Bisnis) bersama Prof. Dr. Agus Salim, S.Ag., M.Si. (Fakultas Sains dan Teknologi).

Tradisi keteladanan keilmuan tersebut kini berlanjut dengan jabatan guru besar yang baru saja diraih Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag. dalam bidang Pemikiran Pendidikan Islam pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta.

“Dengan terbitnya KMA Guru Besar yang diserahkan pekan lalu, pasangan suami-istri profesor di UIN Jakarta kembali bertambah. Prof. Suwendi kini menyusul istrinya, Prof. Dr. Hj. Mesraini, S.Ag., S.H., M.Ag., yang lebih dahulu dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Fiqh Munakahat pada tahun 2023,” jelasnya.

Saat ini, Prof. Mesraini juga mengemban amanah sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

Pencapaian Prof. Suwendi sekaligus menggarisbawahi pentingnya proses dan konsistensi dalam meniti karier akademik. Mengawali kiprah sebagai dosen UIN Jakarta pada tahun 2006, ia berhasil meraih jabatan akademik Lektor Kepala dalam waktu lima tahun.

Pada periode 2012 hingga 2023, Prof. Suwendi mendapat amanah menduduki berbagai posisi struktural di lingkungan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI. Sesuai regulasi yang berlaku, jabatan fungsional dosennya dihentikan sementara selama masa pengabdian struktural tersebut.

“Beliau sangat produktif dalam melakukan penelitian, menulis artikel pada jurnal internasional bereputasi, menerbitkan karya ilmiah, terlibat dalam berbagai forum akademik, serta memenuhi beban kerja dosen secara konsisten. Semua itu menjadi modal penting dalam memenuhi persyaratan untuk meraih jabatan guru besar,” kata Prof. Tholabi.

Menurutnya, keberhasilan pasangan suami-istri meraih jabatan profesor tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi dorongan moral serta inspirasi bagi seluruh civitas akademika UIN Jakarta.

“Sebagai pimpinan universitas, kami tentu sangat bangga. Capaian ini menunjukkan bahwa budaya akademik yang kuat dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan keluarga akademisi. Ini menjadi teladan bahwa dedikasi, kerja keras, dan produktivitas ilmiah akan membuahkan hasil yang membanggakan,” ujarnya.

Prof. Tholabi berharap capaian tersebut dapat memotivasi para dosen, khususnya di lingkungan UIN Jakarta dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), untuk terus meningkatkan kualitas penelitian, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Semakin banyak guru besar yang lahir, semakin kuat pula kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan Islam, dan pembangunan bangsa. Karena itu, kami terus mendorong para dosen untuk meningkatkan produktivitas akademiknya dan mencapai jenjang karier tertinggi sebagai profesor,” pungkasnya. (hms/smr)

 

Pos terkait