Sejumlah orang mencoba membakar foto Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed al-Nahyan saat melakukan protes terhadap Uni Emirat Arab yang membuat kesepakatan baru dengan Israel, di depan Kubah Batu, di Kota Tua Yerusalem, Jumat (14/8/2020). Foto: internet

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan, kesepakatan Israel, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain dalam menjalin hubungan diplomatik merupakan langkah besar di mana warga dari semua iman dan latar belakang hidup bersama dalam damai dan kemakmuran.

semarak.co– Presiden Trump mengumumkan di Gedung Putih AS, Selasa (15/9/2020) bahwa tiga negara Timur Tengah akan bekerja bersama-sama, mereka adalah para sahabat. Kesepakatan-kesepakatan yang berturut-turut menandai satu kemenangan diplomatik yang mustahil bagi Trump.

Dia telah menggunakan masa kepresidenannya meramalkan kesepakatan-kesepakatan mengenai masalah-masalah musykil seperti program nuklir Korea Utara yang sulit dicapai.

Membawa Israel, UAE dan Bahrain bersama-sama mencerminkan keprihatinan mereka atas pengaruh Iran yang terus meningkat di kawasan dan perkembangan rudal balistik. Iran mengkritik kesepakatan-kesepakatan itu.

Ketiga pemimpin negara Timur Tengah itu menyambut kesepakatan itu dan peran Trump dengan kata-kata yang positif, bersama Netanyahu yang mengatakan kesepakatan itu memberikan harapan bagi semua umat Ibrahim.

Namun para pejabat UAE dan Bahrain berusaha meyakinkan kembali rakyat Palestina bahwa UAE dan Bahrain tak sedang meninggalkan rakyat Palestina dan perjuangan mereka mendirikan negara di Tepi Barat dan Jalur Gaza, meskipun para pemimpin Palestina mengecam kesepakatan itu sebagai pengkhianatan terhadap masalah Palestina.

BACA JUGA :  Usai Salahkan China Atas Penyebaran Virus Corona, Presiden AS Trump Tuntut Bertanggung Jawab

Sebagai tanda bahwa pertikaian kawasan pasti berlanjut ketika konflik Israel-Palestina tetap tak terpecahkan, para milisi Palestina menembakkan roket-roket dari Gaza ke arah Israel selama upacara penandatanganan, kata militer Israel.

Layanan ambulans Magen David Adom Israel mengatakan sejumlah paramedis merawat dua pria karena luka-luka ringan akibat kaca-kaca yang melayang di Ashdod, dan empat orang lainnya mengalami guncangan.

“Ini bukan perdamaian, ini penyerahan diri sebagai balasan berlanjutnya agresi. Tak akan ada perdamaian sebelum Palestina merdeka,” demikian terbaca satu cuitan pada akun Twitter Organisasi Pembebasan Palestina, Selasa (15/9/2020).

UAE dan Bahrain menandatangani kesepakatan pada Selasa (15/9/2020) untuk menetapkan ikatan formal dengan Israel, menjadi negara-negara Arab pertama dalam seperempat abad mengakhiri tabu yang berlangsung lama, dalam sebuah persekutuan kembali yang strategis negara-negara Timur Tengah melawan Iran.

Presiden Trump menjadi tuan rumah penandatanganan itu di Gedung Putih, menyelesaikan satu bulan yang dramatis saat untuk pertama kalinya UAE lalu Bahrain sepakat membalikkan beberapa dekade permusuhan tanpa penyelesaian atas pertikaian Israel dengan rakyat Palestina.

BACA JUGA :  Puncak Arus Balik Diprediksi H+5 dengan Jumlah 23 Ribu Orang Per Hari

Di depan kerumunan ratusan orang di halaman Gedung Putih, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menandatangani kesepakatan dengan Menlu UAE Sheikh Abdullah bin Zayed al-Nahyan dan Menlu Bahrain Abdulatif Al Zayani.

Kesepakatan itu, yang dikecam rakyat Palestina, menjadikan mereka negara-negara Arab ketiga dan keempat mengambil langkah-langkah tersebut menuju hubungan yang normal sejak Israel menandatangani perjanjian damai dengan Mesir pada 1979 dan Yordania 1994.

Bertemu Netanyahu sebelumnya di Ruang Oval, Trump mengatakan, “Kita akan memiliki sedikitnya lima atau enam negara yang menyusul segera untuk membangun kesepakatan mereka sendiri dengan Israel.

Kemudian Trump mengatakan kepada wartawan satu negara Teluk Arab ketiga, Arab Saudi, akan membuat kesepakatan dengan Israel pada saat yang tepat. Kabinet Saudi menekankan dalam satu pernyataan kebutuhan untuk satu solusi adil dan menyeluruh bagi isu Palestina.

Saudi merupakan kekuatan terbesar di kawasan Teluk Arab. Rajanya merupakan penguasa tanah suci bagi umat Islam dan memerintah negara pengekspor minyak terbesar dunia. Meski ada keengganan, persetujuan diam-dian kerajaan itu terhadap kesepakatan dipandang krusial.

BACA JUGA :  Opini: Koperasi, Pemerataan dan Keadilan

Upacara penandatanganan itu memberi Trump citra yang bernilai saat dia berusaha mempertahankan kekuasaan dalam pilpres 3 November. Bendera-bendera AS, UAE, dan Bahrain berkibaran. “Kita di sini sore ini mengubah jalannya sejarah,” kata Trump dari balkon Gedung Putih, seperti dilansir Reuters, Rabu (16/9/2020). (net/smr)

LEAVE A REPLY