Oleh Akbar Hussein *)
semarak.co-Hari ini, Rabu 28 September 2021 tepat satu tahun kepergian almarhum Ir. Mulyono Santoso atau yang biasa dipanggil dengan Pak Mul yang juga salah seorang pendiri Majelis Kebangsaan Panji Nusantara (MKPN) atau Pancasila Center yang wafat sewaktu masih menjalani hukuman di penjara Lapas Pemuda Tangerang.
Almarhum Ir. Mulyono Santoso atau Pak Mul merupakan satu di antara kawan-kawan Tokoh Pergerakan, di antaranya Prof. DR Abdul Basith, MSc (Guru Besar IPB), Laksamana Pertama (Purn). Sonny Santoso (Pati TNI AL) dan Almarhum DR.
Insanial Burhamzah (Pengurus Pusat DEKOPIN) yang pernah bersama-sama berstatus sebagai Eks-TAPOL 2019. Sebenarnya antara saya sebagai penulis dengan Pak Mul itu belum lama juga kita saling mengenal.
Atau tepatnya sekitar medio akhir Agustus 2019 pasca Pilpres, saya mengenal Pak Mul di kantornya di bilangan daerah Cawang Jakarta Timur. Dimana kantor tersebut juga merupakan sekretariat MKPN atau Pancasila Center.
Ketika itu di akhir bulan Agustus tahun 2019, saya diajak oleh salah seorang kawan untuk menghadiri sesi diskusi di kantor Majelis Kebangsaan Panji Nusantara (MKPN) atau Pancasila Center tersebut.
Selain Pak Mul, salah satu peserta yang hadir pada sesi diskusi tersebut yaitu Laksamana TNI (Purn) Slamet Soebiyanto (Mantan KASAL), yang juga ternyata merupakan pendiri dari Majelis Kebangsaan Panji Nusantara (MKPN) atau Pancasila Center.
Singkat cerita, setelah Aksi-aksi Rally atau unjuk rasa yang kami pimpin di depan gedung DPR RI selama kurun waktu antara bulan September dan awal Oktober tahun 2019 itu berujung rusuh atau Chaos.
Dimana saat itu juga, secara bersamaan turut berlangsung Aksi-aksi demo yang dilakukan oleh ratusan pelajar STM se-Jabodetabek, bersama Ribuan rekan-rekan Mahasiswa yang pada saat itu turun Aksi Menolak revisi RUU KPK di depan gedung DPR, yang juga berakhir rusuh atau Chaos.
Oleh sebagian pengamat mengistilahkan peristiwa rusuh atau Chaos yang terjadi di depan gedung DPR/MPR pada bulan September tahun 2019 tersebut, dengan istilah Crackdown September 2019.
Lalu setelah peristiwa Crackdown September 2019 itu usai, maka beberapa waktu kemudian Pak Mul, Saya berserta Tokoh-tokoh Pergerakan Eks-TAPOL 2019 lainnya ditangkap, sekitar medio akhir September dan awal Oktober tahun 2019.
Karena dituduh terlibat Aksi Makar dengan bahan peledak yang berencana ingin mengagalkan pelantikan Presiden Jokowi Ma’ruf Amien yang dilaksanakan pada tanggal 20 Oktober 2019 silam.
Dan selama di dalam tahanan itu, tentunya banyak hal dan cerita yang kita lalui bersama-sama dengan almarhum Pak Mul, baik itu ketika kami semua bersama puluhan Eks-TAPOL 2019 lainnya masih mendekam di Rutan Tahti Polda Metro Jaya.
Maupun ketika sebagian Tapol 2019 tersebut, untuk selanjutnya diterbangkan ke Penjara Lapas Pemuda Tangerang, jadi terhitung  selama 12 bulan atau setahun lamanya kami dibui. Di lapas Pemuda Tangerang ini, saya dan Pak Mul menempati ruangan kamar Sel yang sama.
Terakhir kalinya, tak lama kemudian Pak Mul jatuh sakit di dalam kamar Sel tersebut, lalu dibawa menuju ke Rumah Sakit. Ketika tengah diupayakan mendapatkan perawatan oleh dokter  yang menanganinya, mendadak Pak Mul menghembuskan nafas terakhirnya.
Dan kejadian almarhum Pak Mul wafat ini, tepat persis dua hari menjelang kebebasan saya dan rekan-rekan Tapol 2019 lainnya, yang keluar ‘Bebas’ dari penjara lapas pemuda Tangerang pada tanggal 30 September 2020 yang lalu.
Selamat Jalan Pak Mul
Kebaikan, Bekal ilmu dan Pengalaman yang telah engkau berikan selama ini, khususnya ketika di dalam penjara akan selalu saya ingat dan kenang untuk selamanya. Semoga Alloh SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa menempatkanmu di Jannah Firdaus Surga-Nya Alloh SWT.
*) eks Tapol
sumber: WAGroup Gerakan Amanah Sejahtera (postSelasa28/9/2021/mozi loncengmerahputih)





