Formula Baru Transmigrasi, Mentrans Iftitah Satukan Lahan, Kampus, dan Investor Bangun Mesin Pertumbuhan Baru

Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. (Humas Kementerian Transmigrasi/ Rajif Nugraha)

Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mengenalkan  paradigma baru pembangunan kawasan transmigrasi dengan menyatukan kekuatan perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat transmigrasi.

Semarak.co – Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, melalui sinergi tersebut, kawasan transmigrasi diproyeksikan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang ditopang inovasi, investasi, serta akses pasar yang terintegrasi.

Bacaan Lainnya

“Pembangunan transmigrasi tidak lagi hanya berorientasi pada penyediaan lahan dan permukiman. Kini, yang dibangun adalah ekosistem ekonomi yang menghubungkan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, dan pasar,” ujarnya, dirilis humas usai acara melalui WAGroup ForWaTrans, Kamis (9/7/2026).

Kementrans punya dua kekuatan, yaitu lahan dan tenaga kerja, yaitu para transmigran. Namun, Kementrans juga punya tiga kekurangan. Pertama, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua, modal yang kami datangkan melalui investasi dunia usaha. Ketiga, offtaker atau akses pasar yang juga kami bangun bersama dunia usaha.

“Kalau tiga kekurangan ini bisa kami lengkapi, maka lahan dan para transmigran akan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” kata Menteri Iftitah.

Menurutnya, sinergi tersebut menjadi fondasi transformasi transmigrasi. Sepuluh perguruan tinggi mitra diterjunkan melalui Program Transmigrasi Patriot untuk melakukan riset, pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menyusun feasibility study yang dapat ditawarkan kepada calon investor.

“Kami melibatkan sepuluh kampus mitra agar kawasan transmigrasi menjadi laboratorium hidup. Dari sana lahir inovasi, teknologi, dan berbagai solusi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat,” ujarnya.

Hasil riset tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan proyek-proyek investasi yang siap ditawarkan kepada dunia usaha, sehingga setiap kawasan memiliki arah pengembangan yang jelas dan berbasis potensi unggulannya.

“Inilah cara kami membangun transmigrasi baru: kampus menghadirkan ilmu pengetahuan, dunia usaha membawa investasi dan pasar, sementara masyarakat transmigrasi menjadi pelaku utama pembangunan,” katanya.

Iftitah menegaskan, pendekatan baru transmigrasi tidak lagi berhenti pada pembagian lahan atau bantuan produksi. Seluruh rantai nilai ekonomi dibangun secara terpadu, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, masuknya investasi, hingga tersedianya kepastian pasar.

Sebagai contoh, Kementerian Transmigrasi telah membuka akses ekspor durian dari kawasan transmigrasi di Parigi Moutong ke pasar Tiongkok. Langkah tersebut meningkatkan harga yang diterima petani secara signifikan.

Selain memperkuat akses pasar, Kementerian Transmigrasi juga mengembangkan setiap kawasan sesuai potensi unggulannya, baik di sektor industri, pariwisata, energi, pertanian, maupun sektor strategis lainnya.

Seluruh pengembangan dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan kebutuhan investasi agar mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan nilai tambah, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat transmigrasi maupun masyarakat lokal. (RDP)

Menteri Iftitah: Investor Global Mulai Lirik Kawasan Transmigrasi

Kawasan transmigrasi kini mulai menarik perhatian investor global. Berbagai sektor strategis, mulai dari pusat data (data center), industri galangan kapal, hingga pengembangan kawasan berbasis potensi sumber daya alam, menjadi peluang investasi baru yang tengah dikembangkan pemerintah di kawasan transmigrasi.

Mentrans Iftitah mengatakan, setiap kawasan transmigrasi memiliki karakteristik dan keunggulan komparatif yang berbeda sehingga strategi pengembangannya harus disesuaikan dengan potensi unggulan masing-masing daerah.

“Era ketika kawasan transmigrasi hanya dipandang sebagai kawasan pertanian telah berubah. Hari ini, investor mulai melihat kawasan transmigrasi sebagai lokasi yang kompetitif untuk investasi di berbagai sektor strategis,” ujarnya.

Salah satu contohnya adalah kawasan transmigrasi di Barelang, Batam, yang dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan pusat data. Kawasan tersebut didukung pasokan listrik yang memadai, lokasi yang strategis, serta konektivitas yang kuat dengan pusat industri dan perdagangan regional.

“Ada kawasan transmigrasi di Batam yang sangat potensial untuk data center. NVIDIA bahkan telah masuk ke kawasan tersebut. Mengapa? Karena kebutuhan listriknya tersedia dan lokasinya sangat strategis,” jelasnya.

Selain itu, minat investor juga datang dari Australia. Menurut Menteri Iftitah, sejumlah calon investor telah datang langsung untuk melihat potensi kawasan transmigrasi sebagai lokasi investasi.

“Kami menerima calon investor dari Australia yang datang untuk melihat langsung potensi kawasan transmigrasi. Ini menunjukkan bahwa kawasan transmigrasi mulai diperhitungkan dalam peta investasi internasional, bukan lagi hanya sebagai kawasan permukiman,” ungkapnya.

Untuk mempercepat masuknya investasi, Kementerian Transmigrasi menggandeng berbagai perguruan tinggi dalam menyusun kajian akademik dan feasibility study. Dengan demikian, setiap kawasan memiliki proyek investasi yang matang, terukur, dan siap ditawarkan kepada calon investor.

“Investor tidak datang ke tempat yang belum jelas. Karena itu, setiap kawasan harus didukung kajian ilmiah dan feasibility study yang memberikan kepastian sekaligus menjadi dasar pengambilan keputusan investasi,” kata Menteri Iftitah.

Menurutnya, transformasi transmigrasi tidak lagi berhenti pada penyediaan lahan dan pembangunan permukiman. Pemerintah kini membangun ekosistem investasi yang menghubungkan potensi kawasan dengan kebutuhan dunia usaha.

“Kita sebenarnya sudah memiliki modal dasarnya, yaitu lahan, kawasan, dan sumber daya manusia. Yang harus kita bangun adalah ekosistemnya, menghadirkan teknologi, permodalan, industri, dan offtaker agar seluruh potensi itu menghasilkan nilai tambah yang sebesar-besarnya,” tegasnya.

Selain sektor digital, peluang investasi juga terbuka di sektor maritim. Kawasan transmigrasi Barelang, misalnya, memiliki potensi besar untuk mendukung pengembangan industri galangan kapal yang selama ini menjadi salah satu sektor unggulan Kepulauan Riau.

“Setiap kawasan transmigrasi memiliki keunggulan yang berbeda. Ada yang kuat di sektor digital, ada yang potensial untuk industri maritim, energi, pertanian, maupun sektor lainnya. Pengembangannya harus mengikuti keunggulan masing-masing kawasan,” ujarnya. (RDP/SMR)

Pos terkait