Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersumpah “tidak akan mundur” dari tujuannya untuk menguasai Greenland, wilayah otonom di bawah Kerajaan negara Eropa, Denmark. Pernyataan ‘keras kepala’ itu dikatakan Presiden Paman Sam pada hari Selasa (20/1/2026) kemarin.
Semarak.co – Presiden Donald Trump menolak mengesampingkan kemungkinan merebut pulau Arktik itu dengan kekerasan dan mengecam sekutu-sekutunya sementara para pemimpin Eropa kesulitan untuk merespons.
Ambisi Trump — yang diungkapkan dalam unggahan media sosial dan gambar tiruan AI — merebut kedaulatan atas Greenland dari sesama anggota NATO (Denmark) telah mengancam akan menghancurkan aliansi yang telah menopang keamanan Barat selama beberapa dekade.
Hal itu juga akan mengancam dan menyulut kembali perang dagang dengan Eropa yang mengguncang pasar dan perusahaan selama berbulan-bulan pada tahun lalu, meskipun Menteri Keuangan Trump, Scott Bessent, menolak apa yang disebutnya “histeria” atas Greenland.
“Seperti yang saya sampaikan kepada semua orang, dengan sangat jelas, Greenland sangat penting untuk Keamanan Nasional dan Dunia. Tidak ada jalan untuk mundur –‘Dalam hal itu, semua orang setuju!” kata Trump setelah berbicara dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte.
Untuk memperkuat pesannya, seperti Sindonews.com dari media sosial dan AI pada 21 Januari 2026, Presiden AS Donald Trump memposting gambar AI dirinya di Greenland, dengan di tangannya memegang bendera AS sangat erat.
Gambar lain menunjukkan dia berbicara dengan para pemimpin di samping peta yang menunjukkan Kanada dan Greenland bagian dari AS. Secara terpisah, ia membocorkan pesan-pesan termasuk dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mempertanyakan apa yang Trump “lakukan di Greenland”.
Donald Trump, yang telah berjanji untuk mengenakan dan memberlakukan tarif terhadap negara-negara yang menghalangi jalannya, sebelumnya mengancam akan menghantam wine dan sampanye Prancis dengan tarif 200%.
Uni Eropa Balas AS
Uni Eropa telah mengancam akan membalas dengan langkah-langkah perdagangan. Salah satu opsi adalah paket tarif pada impor AS senilai 93 miliar euro (109 miliar dolar AS) yang dapat secara otomatis berlaku pada 6 Februari setelah penangguhan selama enam bulan.
Opsi lain adalah “Instrumen Anti-Koersi” (ACI), yang belum pernah digunakan. Hal itu dapat membatasi akses ke tender publik, investasi, atau aktivitas perbankan, atau membatasi perdagangan jasa, sektor di mana AS memiliki surplus dengan blok tersebut.
Termasuk layanan digital menguntungkan yang disediakan raksasa teknologi AS. “Ini bukan Kerajaan Denmark, ini tentang seluruh hubungan transatlantik,” kata Menteri Ekonomi Denmark, Stephanie Lose kepada wartawan jelang pertemuan menteri ekonomi dan keuangan Uni Eropa di Brussels.
“Saat ini, kami tidak percaya apa pun harus dikesampingkan. Ini adalah situasi serius, meskipun kami ingin meredakannya, ada pihak lain yang berkontribusi meningkatkan ketegangan saat ini, dan oleh karena itu kami harus tetap mempertimbangkan semua opsi yang ada.”
Bessent, di sela-sela pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, mengatakan solusi akan ditemukan yang menjamin keamanan nasional bagi Amerika Serikat dan Eropa, demikian seperti dilansir Sindonews.com dari media sosial X dan AI. (net/snc/x/ai/kim/,smr)





