Dirilis 12 Juni 2026: CYKA diumumkan Pussy Riot Sebagai Album Penuh Perdananya

Pussy Riot mengumumkan album debut mereka dengan titel “CYKA,” yang akan dirilis pada 12 Juni 2026, dengan single utamanya, “Candy Dopamine” yang menampilkan Avenged Sevenfold. Video musik untuk “Disobey” sudah tersedia di pasaran.

Semarak.co – Grup punk Rusia, Pussy Riot mengumumkan “CYKA”, sebagai  album penuh perdana mereka, yang dijadwalkan rilis pada 12 Juni 2026 di platform streaming digital. Album bermaterikan 14 lagu ini merangkum 14 tahun aktivitas grup itu.

Bacaan Lainnya

14 tahun termasuk aksi protes, pemenjaraan dan pengasingan, ke dalam satu karya tunggal. Judul album ini diterjemahkan dari bahasa Rusia sebagai “jalang.” Singel utama “Candy Dopamine”, menampilkan Avenged Sevenfold, telah dirilis dengan video musik resmi di YouTube.

“Candy Dopamine” ditulis bersama oleh Pussy Riot dengan vokalis Avenged Sevenfold, M. Shadows dan gitaris Zacky Vengeance. Lagu ini memadukan pop dengan rock alternatif dan menampilkan vokal tamu dari M. Shadows bersama dengan permainan gitar yang berat.

Pendiri Pussy Riot, Nadya Tolokonnikova, menggambarkan lagu tersebut sebagai pernyataan tentang budaya obat resep dan obat-obatan terlarang: “Ini dimulai dari ketergantungan saya pada antidepresan,” kata Nadya.

“Tetapi juga melihat semua orang memaksimalkan kesehatan mental dan penampilan melalui pil dan suntikan. Ini bukan penghakiman, ini hanya pengamatan dan pengalaman pribadi saya dengan hal ini. Bahwa saya harus menjalin hubungan jangka panjang dengan mereka untuk PTSD dan  depresi saya,” lanjutnya.

Ini adalah kolaborasi kedua antara Avenged Sevenfold dan Pussy Riot. Pada tahun 2023, Tolokonnikova muncul dalam versi aransemen ulang lagu Avenged Sevenfold “We Love You,” yang dirilis ulang sebagai “We Love You Moar,” untuk meningkatkan kesadaran tentang situasi kaum LGBTQ+di Rusia.

Single pertama album ini, “Disobey”, dirilis pada Mei 2026. Video musiknya terdiri dari cuplikan aksi protes Pussy Riot “Storm of Venice” di Biennale Venesia ke-61, di mana lebih dari 50 anggota kelompok itu menyerbu paviliun Rusia dengan kepulan asap merah muda.

Kelompok aktivis Ukraina FEMEN bergabung dalam demonstrasi sebagai protes atas kembalinya Rusia ke acara seni internasional. Lagu berdurasi 90 detik ini menampilkan gitar yang terdistorsi, vokal yang berteriak, dan nyanyian “disobey” dengan lirik bahasa Inggris dan Rusia yang mengutuk fasisme dan pembungkaman politik.

“CYKA”: Kolaborator, Daftar Lagu dan Tantangan Putin

Kontributor lain yang telah dikonfirmasi di album “CYKA” termasuk B-Real dari Cypress Hill (pada lagu “Gore”) dan penyanyi-penulis lagu Salem Ilese (pada lagu “Utopia”). Presiden Rusia Vladimir Putin tercantum sebagai kontributor pada lagu berjudul sama, “Cyka.”

“Saya tidak akan memberinya royalti, mereka bisa menambahkannya ke daftar kejahatan saya,” ucap Tolokonnikova menambahkan. Ia juga mengumumkan tantangan publik kepada Putin untuk bertarung dengannya di acara UFC Freedom 250, yang dijadwalkan pada 14 Juni di Gedung Putih.

“Semua pria tua yang merusak dunia saat ini bersikap sok tangguh, tetapi kita bisa melihat kedok ego mereka yang rapuh dan saya tidak takut untuk menantang mereka. Saya menantang Presiden Putin untuk pertandingan di dalam sangkar. Dia kalah? Dia harus pergi dari Ukraina,” katanya.

Pussy Riot dan Politik

Pussy Riot adalah kelompok musik punk dan protes negara beruang merah Rusia yang didirikan di Moskow pada tahun 2011. Kelompok ini beroperasi sebagai kelompok yang longgar dan bergilir, tetapi terkait erat dengan para pendirinya. Demikian dilansir Side-line.com (3/6/2026).

Para pendirinya, Nadya Tolokonnikova (juga dikenal sebagai Nadya Tolokno) dan Maria Alyokhina (dikenal sebagai Masha). Kelompok ini menggelar pertunjukan di ruang publik di seluruh Moskow sebagai aksi protes politik, seringkali mengenakan balaclava berwarna cerah.

Pada Februari 2012, tiga anggota — Tolokonnikova, Alyokhina dan Yekaterina Samutsevich — ditangkap setelah pertunjukan di dalam Katedral Kristus Sang Juru Selamat di Moskow. Mereka dinyatakan bersalah atas “hooliganisme yang dimotivasi oleh kebencian agama”.

Untuk itu mereka dijatuhi hukuman dua tahun penjara. Samutsevich dibebaskan setelah mengajukan banding pada Oktober 2012; Tolokonnikova dan Alyokhina menjalani hukuman penuh dan dibebaskan Desember 2013. Persidangan itu menarik perhatian internasional.

Setelah dibebaskan, Tolokonnikova dan Alyokhina melanjutkan aktivisme politik mereka dan merilis musik dengan nama Pussy Riot. Grup ini berkolaborasi dengan Boys Noize dalam lagu “Rage” pada tahun 2021 dan dengan Boyfriend dalam single electropop “Dance With the Devil” pada 2023.

Pada bulan Juli 2025, undang-undang baru Rusia mengkriminalisasi pencarian konten Pussy Riot secara online. Pada April 2026, Tolokonnikova secara resmi didakwa oleh Komite Investigasi Rusia atas dugaan pelanggaran undang-undang “agen asing” negara tersebut. (net/slc/kim/smr)

Pos terkait