Tangkapan layar dalam jaringan (daring) atau secara online pada platform zoom dari kegiatan Pengabdian Masyarakat Unpam. foto: istimewa

Di tengah pandemi virus corona jenis baru penyebab Covid-19 yang semakin berdampak berbagai sektor termasuk pendidikan, membuat seluruh jenjang pendidikan dipaksa bertransformasi secara drastis untuk melakukan pembelajaran dari rumah atau melalui media daring (dalam jaringan) atau secara online.

semarak.co– Namun hal ini tidak menyurutkan niat dari para dosen Sastra Inggris (Sasing) Fakutal Sastra Universitas Pamulang (Unpam) untuk tetap berkontribusi dalam memajukan potensi masyarakat terutama dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris selain merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi (PT).

Salah satu dari Tri Dharma PT adalah melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Kegiatan Pengabdian Masyarakat yang dilakukan secara online di Jampang English Village, Zona Madina Parung Bogor.

Diketuai Eka Margianti Sagimin, kegiatan ini anggotanya Annas Surdyanto, Prihatin Pujiastuti, Ria Antika, dan Agung Arafat Saputra telah sukses memanfaatkan teknologi sebagai alternative pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema A Sociocognitive Approach through Storytelling for Enhancing Reading Skills.

Atau artinya, pendekatan sosiokognitif melalui storytelling untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Para murid yang tergabung dalam Zona Madina ini di antaranya dari daerah sekitar perkampungan terdiri dari anak-anak usia sekolah TK, SD, dan SMP.

Ketua PkM Online Eka Margianti Sagimin mengatakan, namun masih dirasa perlu untuk membekali mereka dengan bacaan berbahasa Inggris yang menarik dan dikemas dengan penyampaian yang apik agar anak didik tidak merasa jenuh dan bosan dalam belajar bahasa Inggris.

“Pengajaran Bahasa Inggris dengan pendekatan sosiokognitif melalui storytelling dan menggunakan media puppet dapat menciptakan suasana belajar menjadi sangat menarik dan menyenangkan,” ujar Eka  dalam pantauan laman sasing.unpam.ac.id, Rabu (22/7/2020).

Annas Surdyanto menambahkan, keunggulan media tersebut juga dapat membantu peserta didik menambah perbendaharaan kosakata baru. Hal ini diperkuat pernyaatan Prihatin Pujiastuti.

Menurut Prihatin, tanpa mereka sadari (peserta didik) ketika menikmati cerita melalui media puppet mereka juga sudah meningkatkan kemampuan membaca dalam Bahasa Inggris.

Sementara Ria Antik menilai, selain dapat mengasah kemampuan berbicara dan mendengarkan dalam Bahasa Inggris storytelling juga dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa dalam menggunakan Bahasa Inggris.

Namun Agung Arafat Saputra menyarankan agar pemilihan cerita menjadi faktor yang harus diperhatikan, setidaknya sebuah cerita dalam pembelajaran harus mengandung pesan moral agar dipraktikan pada kehidupan mereka sehari-hari sehingga dorongan belajar mereka terus berkembang karena kisah-kisah cerita tersebut bisa dijadikan motivasi untuk selalu berbuat baik.

“Dengan kata lain Storytelling bisa menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan aspek-aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), sosial, dan aspek konatif (penghayatan) anak,” terang Agung.

Dari gagasan-gagasan tersebut, lahirlah inisiatif cerdas dari para mahasiswa Sasing Unpam terdiri dari Gianka Ajeng Pricillha, Oktiviani Herawati, Ayu Widyastari, Fauzyanti Nadifah Nita Yuliana, Kristina Damayanti, Pertiwi Dalilah Ismah.

Lalu Putri Angelia Indriani, Siti Dwi Kusmiyanti, dan Dea Indah Dwi Pramesti untuk bekerja sama membuat gambar sesuai tema cerita yang akan dipaparkan. Gambar dibuat dengan mengunakan kertas karton, kerta warna, sepidol warna, dan lem. Setelah itu gambar dicetak dengan kardus agar kokoh.

Lalu gagang balon ditempel menggunakan isolatip. Untuk pembuatan video, dibuat beberapa kertas yang berbeda warnanya utuk bisa mengubah-ngubah warna background. Kertas warna yang menjadi background kemudian ditempel di belakang puppet.

Ketika proses recording, maka dilakukan pembagian tugas. Satu orang menjadi dalang, satu orang merekam video dan satu orang yang menyalakan suara yang telah didubbing.

Untuk mengedit kedua cerita tersebut dipakai aplikasi in shot. Dimulai dari input suara (sound record) puppetnya perhalaman satu persatu. Setelah semua video punya sound yang bagus dan pas sesuai halamannya, dilanjut proses pembuatan subtitle input sound sesuai halaman yang memakan waktu 2 jam.

Kemudian subtitle juga diketik manual sesuai sound record puppet itu sendiri. Pembuatan subtitle ini menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam. Setelah semua video sudah ada sound yang bagus dan subtitle yang sesuai, barulah semua videonya digabung jadi satu.

Video ini menampilkan dua buah kisah atau cerita yang berjudul Tyrone The Horrible And The Berenstain Forget Their Manners. Hasilnya suasana belajar menjadi sangat menarik dan menyenangkan. Karena sejak awal kami semua yakin, dari suasana pembelajaran yang menyenangkan akan menghasilkan pendidikan terbaik. (smr)

LEAVE A REPLY