Apa pun Hasil Survei, Presidennya Tetap Prabowo. Ini Indikatornya!

Oleh Heryanto, SE.SS.MM. Penulis: Wartawan, Sutradara, Militan Prabowo

Waktu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, memang Prabowo kalah. Tapi kalahnya dengan selisih angka tipis. Atau sekitar 8%. Inilah yang mendorong para militansi dan loyalis Prabowo mendorong untuk maju kembali di 2019. Alhamdulillah Prabowo bersedia. Sehingga para militan dan loyalis, sekarang ditambah para pendukung barunya, jadi yakin memenangkan Pilpres 2019.

Kalau Pilpres 2014, Prabowo tidak berkutik, sepertinya di Pilpres 2019 yang merupakan Presiden ke-8, maka Prabowo yang identik dengan nomor 08, tinggal menunggu dilantik saja. Belum lagi aura-aura yang sulit dihindari atau terbantahkan sebagai bentuk campur tangan Tuhan.

Segala upaya yang kita klaim sebagai upaya curang pun sekarang sulit dilakukan. Seperti isu jutaan KTP yang sudah dicoblos di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Jutaan e-KTP yang bercecar, KTP orang asing (aseng), dan terakhir masuknya pemantau asing/luar lewat gerakan #INAelectionObserverSOS yang bikin gemetaran lawan.

Baiklah, langsung saja. Adapun indikatornya, 1. Kekuatan Media sosial (medsos). Waktu Pilpres 2014, medsos  belum marak atau ngetren seperti sekarang. Kalau pun sudah mengenal medsos, baru sebagian masyarakat menguasainya dan ini harus diakui kalah dari yang dimiliki lawan seteru, Jaenuddin Ngaciro. Sehingga medsos seperti terabaikan.

Kondisi itu diperparah dengan minimnya dukungan media televisi. Kalau tidak ingin menyebut keberpihakan. Buktinya, televisi yang menampilkan kegiatan Prabowo itu patut diduga karena untuk menjaga terjadinya pelanggaran siaran saja. Baik undang-undang pers No 40 Tahun Tentang Pers maupun Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sehingga porsinya, tayangan Prabowo asal ada.

Kondisi keberpihakan televisi di Pilpres 2019 boleh dibilang lebih parah. Sampai-sampai Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi memboikot stasiun Metro TV. Harusnya, menurut teori jurnalistik, Metro TV ini sudah bisa dibubarkan.

Karena setiap acaranya tidak berimbang dan berpihak. Apalagi menurut perundang-undangan. Sayang belum ada yang berminat membuat laporannya sebagai bahan lembaga terkait itu mengambil tindakan.

Namun rupanya berlaku hukum alam. Medsos (twitter, facebook, instagram, whattapps, google trends, dll) menunjukkan dukungan yang begitu kuat kepada Prabowo Sandi saat ini. Ini terbukti dari setiap poling di masing-masing medsos, Prabowo Sandi unggul jauh dari Ngaciro.

Sehingga apa yang tidak tayang di televisi, secepat televisi pula muncul di dunia maya lewat medsos. Seolah-olah medsos sudah menjadi media televisi milik atau berpihak pada Prabowo Sandi. Hebatnya, semua itu tidak ada yang bayar atau dibayar. Melainkan sukarela menjadi pahlawan buzzer.

Tidak usah jauh-jauh ambil contoh, ya, saya sendiri. Bahkan lewat medsos, berbagai serangan dan fitnah maupun hoaks terhadap Prabowo Sandi mampu dilawan bak pasukan medsos yang akhirnya sukses menang.

Indikator kekuatan medsos kubu Prabowo Sandi ini menakutkan dan membuat lawan kelabakan bahkan kelojotan. Karena kejelekan dan upaya pencitraan kubu lawan pun ditampilkan agar diketahui masyarakat luas dan langsung disambut cemooh alias tidak tergoda oleh pemilih Prabowo Sandi. Kalau dikasih sembako, pesan Prabowo, ambil saja, tapi pilihan teguhkan hati pada pasangan calon Prabowo Sandi.

Indikator 2. Dukungan Ijtima Ulama. Waktu Pilpres 2014, boro-boro ada dukungan Ijtima. Ulama pun jumlah dukungannya tidak besar. Namun Pilpres 2019 ini, dukungan ulama tidak saja lewat Ijtima, tapi ibaratnya sudah tumpah ruah.

Di mana-mana pesantren maupun lembaga keumatan mendeklarasikan dukungan pada Prabowo Sandi. Setiap kunjungan Prabowo maupun Sandi ke pesantren-pesantren, minimal jumlahnya ratusan ribu simpatisan.

Supaya tidak ngiri, ingatlah. Dukungan Ijtima ulama ini kan sebenarnya buah dari terjadinya kriminalisasi ulama, ustad, maupun tokoh-tokoh Islam oleh penguasa sendiri. Sehingga tumbuh rasa solidaritas sakit bersama-sama dan akhirnya menjadi empati untuk sama-sama memberontak dan ketemu salurannya lewat Prabowo.

Kekuatan dukungan ulama ini terbukti diakui lawan dengan buru-buru mengambil calon wakil presidennya dari kalangan ulama (KH Ma’ruf Amin) bahkan dengan mengorbankan kandidat yang sudah ukur baju. Dalam perjalannya, pun ikut-ikutan blusukan ke pesantren maupun menemui ulama-ulama kondang.

Kekuatan Ijtima ulama bukan sekadar ulama, tapi ada FPI (Fron Pembela Islam) pimpinan Habib Rizieq Shihab (HRS) yang hingga kini masih di Arab Saudi karena menghindari penangkapan atas dugaan kriminalisasi. Anggota FPI ini jumlahnya pasti bikin geregetan.

Selain HRS, ada lagi temannya Ustad Abdul Somad (UAS) dan AA Gym. Walaupun keduanya tidak atau belum mendeklarasikan diri mendukung Prabowo, tapi terasa jelas dari setiap isi ceramahnya membuat jamaahnya kian mantap memberikan suaranya pada Prabowo saat pencoblosan, 17 April 2019 nanti.

Indikator 3, The Power of Emak Emak. Kekuatan dukungan emak-emak ini hampir sama dengan kondisi ulama saat 2014. Artinya, sama-sama tidak formal dukungannya. Walaupun Titiek Soeharto alias Mbak Titiek yang mantan istri Prabowo Subianto sampai nekad keluar dari Partai Golkar untuk memberi dukungan pada Prabowo, tapi emak-emak bergeming.

Padahal harus diakui, salah satu kekuatan yang memenangkan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hingga dua periode, adanya suara ibu-ibu atau sekarang emak-emak.

Di Pilpres 2019 ini, entah karena kepiawaian Prabowo memilih wakilnya Sandiaga Salahuddin Uno yang ganteng, pengusaha sukses, dan religius sehingga membuat kubu lawan kecele mengetahui Sandiaga Uno yang dipilih Prabowo.

Terbukti terus mengalir emak-emak mendeklarasikan dukungan atau bergabung di relawan yang ada. Apalagi sekarang, SBY pun ikut bergabung. Maka semakin lengkaplah sudah kekuatan itu.

Kekuatan emak-emak ini memang menggetarkan lawan. Buktinya, tiga orang emak-emak yang sampet dijadikan tersangka atas kasus kampanye hitam. Berikutnya, viralnya, emak-emak di kampung Aquarium, Jakarta Utara yang pernah digusur dan diluluhlantakkan oleh Gubernur DKI Jakarta Jokowi dan diteruskan konconya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, berani menolak pemberian paket berisi pesan Jokowi.

Begitu pun emak-emak di Cilandak Jakarta Selatan yang menolak pemberian paket sembako dari tim pembawa pesan. Hingga terjadi perdebatan. Tidak dapat dipungkiri alasan mendasar yang membuat emak-emak emosi adalah kondisi ekonomi yang sulit.

Biaya listrik, BBM yang naik diam-diam di tengah malam, dan adanya perasaan sebagai ibu-ibu yang ayahnya ditangkap dan dipenjara seperti kasus penyanyi Ahmad Dhani dan caleg Partai PAN Mesuji.

Kekuatan emak-emak yang membuat takut lawan ini dibuktikan dengan upaya mereka membuat dukungan serupa. Namun gagal dan hilang ditelan waktu. Soalnya mereka tidak tumbuh dari lubuk hati melainkan adanya nasi bungkus dan ongkos.

Pantas emak-emak ini menakutkan lawan. Karena anak-anak mereka yang masuk kelompok milenial berada di barisan the power of emak-emak ini.

Redaksihttps://semarak.co
Ukuran Segala Acara

Related Articles

5 KOMENTAR

  1. Itukan pendapat sendiri dan hanya di MedSos,bukan pendapat seluruh rakyat NKRI..
    Rakyat NKRI ini sebagian banyak sudah paham dan mengerti dengan orang yang baik dan jujur,untuk menjadi pemimpin NKRI ini untuk maju kedepannya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

[td_block_social_counter facebook="tagdiv" twitter="tagdivofficial" youtube="tagdiv" style="style8 td-social-boxed td-social-font-icons" tdc_css="eyJhbGwiOnsibWFyZ2luLWJvdHRvbSI6IjM4IiwiZGlzcGxheSI6IiJ9LCJwb3J0cmFpdCI6eyJtYXJnaW4tYm90dG9tIjoiMzAiLCJkaXNwbGF5IjoiIn0sInBvcnRyYWl0X21heF93aWR0aCI6MTAxOCwicG9ydHJhaXRfbWluX3dpZHRoIjo3Njh9" custom_title="Stay Connected" block_template_id="td_block_template_8" f_header_font_family="712" f_header_font_transform="uppercase" f_header_font_weight="500" f_header_font_size="17" border_color="#dd3333"]
- Advertisement -spot_img

Latest Articles

%d blogger menyukai ini: